Tak jauh beda dengan keterangan pers Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna sebelumnya, keterangan pers Jampidsus, Febrie Ardiansyah, yang kurang lebih 8 (delapan) poin—08 berarti Presiden Prabowo, entah ada kaitannya atau tidak—juga persis sama atau beda-beda tipis saja.
Intinya, Jampidsus, Febrie Ardiansyah, menghormati semua proses hukum yang sedang dijalankan penyidik Polri. Sementara itu ia (Jampidsus) tetap fokus dengan tugas-tugasnya, terutama melengkapi semua berkas terkait kasus, BGN misalnya, agar segera dilimpahkan ke Pengadilan.
Kesan persaingan antar lembaga coba ditepis oleh Jampidsus. Tapi dengan menyebut secara khusus kasus BGN dan PKH seperti yang juga banyak dikaitkan publik, maka kesan persaingan itu tetap terasa. Minimal, aromanya tercium juga.
Jampidsus Febrie Ardiansyah membantah semua tuduhan di publik, terkait uang-uang yang ditemukan di Cafe Cipete, Jakarta Selatan, termasuk yang di Money Changer. Sedangkan yang ditemukan di rumah pribadi Jampidsus di Sentul, menurutnya, semua bisa dijelaskan pemiliknya, termasuk keberadaan rumah itu sendiri.
Tapi, Jampidsus Febrie Ardiansyah tak bisa menjelaskan semua kepemilikan itu, kalau bukan di forumnya. Artinya, tak bisa dijelaskan dalam konferensi pers ini. Makanya, Jampidsus akan menunggu hasil penyidikan Polri terlebih dulu.
Yang agak tidak tegas dijawab Jampidsus Febrie Ardiansyah adalah terkait mundur dari jabatannya. Sampai tiga kali ditanyakan wartawan tetap tak dijawabnya secara tegas. Febrie hanya menjawab bahwa sampai saat ini ia masih didesak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Artinya, tak ada isu pengunduran diri itu.
Entah Jampidsus Febrie Ardiansyah yang terlalu berani dan percaya diri atau penyidik Polri yang kebingungan (ragu), sehingga tak juga mengumumkan tersangkanya. Padahal sudah menggeledah belasan lokasi? Kalau pada akhirnya nanti tak ada apa-apa, lalu apa yang terjadi sebenarnya? Masuk angin? Entahlah.
(ERIZAL)






