Sunni dan Syiah

Oleh: Ustadz Dr. Ahmad Sarwat, Lc, MA

Ketika Raja Abdullah atau Raja Fahd dari Arab Saudi wafat, mereka dishalatkan setelah shalat fardhu, dibawa dengan ambulans biasa.

Jenazah keduanya dimakamkan di kuburan Baqi atau al-Oud, dalam waktu kurang dari 24 jam.

Tapi di Iran yang Syiah, kematian tokoh kunci direspons dengan dramatisasi duka cita.

Pembangunan makam megah seperti kompleks makam Khomeini yang menyerupai istana, dan prosesi panjang yang masif.

Fenomena penundaan dan prosesi kolosal hingga berbulan-bulan ini merupakan perpaduan erat antara teologi pengagungan mazhab Syiah dan kebutuhan geopolitik pemerintahan Iran, yang formatnya memang tidak akan ditemukan dalam tradisi Islam Sunni.

Kultur keagamaan Syiah sangat kental dengan tradisi mobilisasi massa dan ritual duka cita publik.

Mereka terbiasa melakukan prosesi berjalan kaki jutaan orang, seperti dalam prosesi Arba’in menuju Karbala untuk mengenang Imam Husain.

Membawa jenazah seorang pemimpin berkeliling ke kota-kota suci, seperti Qom, Najaf, dan Mashhad, dipandang sebagai bentuk tabarruk.

Selain itu untuk memberikan kesempatan bagi wilayah-wilayah tersebut untuk melakukan ritual berkabung formal.

Bagi mereka, jasad seorang ulama besar dianggap suci sehingga “parade” ini bernilai spiritual, bukan sekadar simbolis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *