By ERIZAL
Seorang teman japri saya terkait Hendrajoni yang ditunjuk sebagai orang nomor satu PSI Sumbar. Hendrajoni (eks NasDem) adalah Bupati Pesisir Selatan dua periode yakni 2016–2021 dan 2025–2030. Ia merupakan purnawirawan Polri yang memiliki jabatan terakhir sebagai Kanit II Subdit V Bareskrim Narkoba Mabes Polri.
Dia bilang kaki-kaki Hendrajoni sudah patah, sebab menerima posisi orang nomor satu di PSI Sumbar itu.
Teman saya itu pasti membaca tulisan saya yang berjudul, Tiga Kaki Hendrajoni, di Koran Singgalang, Rabu, 24 Juni, lalu. Tulisan saya itu terkait peluang Hendrajoni dalam Pilgub Sumbar 2030, mendatang.
Menurut saya Hendrajoni memiliki tiga kaki untuk maju di Pilgub Sumbar 2030. Kaki pertama dirinya sendiri sebagai Bupati dua periode. Kaki kedua istrinya sebagai anggota DPR dua periode, dan kaki ketiga, terkait karakter pemilih di Pesisir Selatan.
Saya memang tak memasukkan analisis terkait PSI yang jadi partai Hendrajoni, meski sinyal itu sudah terlihat. Sebab saat tulisan itu saya buat, belum ada informasi resmi, Hendrajoni akan jadi Ketua DPW PSI Sumbar. 5 bulan setelah pemakaian jaket PSI di Makassar itu, belum ada kabar kepastiannya.
Saya tentu saja tak menolak, kalau teman saya itu mengatakan kaki-kaki Hendrajoni sudah patah karena menerima posisi Ketua DPW PSI Sumbar itu. Sebab, memang tak mudah PSI diterima di Sumbar.
Buktinya, dua kali Pemilu, tidak satu pun kursi yang bisa diperoleh PSI di Sumbar. Baik di tingkat kota/kabupaten maupun di tingkat provinsi. Apalagi untuk tingkat Pusat. Semua zonk.
Lalu, apakah Hendrajoni bisa membalikkan keadaan? Tentu saja, hitung-hitungannya tetap sulit. Kecuali, mungkin di Pesisir Selatan.
Bukan karena faktor Hendrajoninya, melainkan karena faktor Jokowi yang menjadi ikon PSI, yang tidak berjodoh dengan pemilih di Sumbar.
Tapi, memang, Hendrajoni mungkin juga tidak ada pilihan lain. Sebab, bertahan di NasDem pun, tiket NasDem sudah pasti diambil Fadly Amran, Ketua DPW NasDem saat ini, yang juga berminat maju Pilgub Sumbar.
Partai-partai lain, kecuali PSI, mungkin sudah dikunci kader masing-masing. Jangankan orang luar, orang dalam pun seperti Arisal Aziz di PAN, tak bisa berbuat banyak di partainya sendiri, hingga ia harus mengundurkan diri sebagai Ketua DPW PAN.
Hendrajoni mungkin hanya berharap suasana politik 2029 akan berubah nantinya. Tapi, suasana politik berubah pun, yang namanya preferensi pemilih Sumbar sulit untuk berubah. Bahkan, sejak Pemilu 1955, jejak-jejaknya relatif masih tetap sama. Begitulah. (ERIZAL)






