Militer Amerika Serikat telah meluncurkan gelombang serangan udara baru terhadap beberapa kota strategis di sepanjang wilayah pesisir selatan Iran dan Selat Hormuz.
Eskalasi militer ini dikonfirmasi langsung oleh pihak AS (CENTCOM) setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir.
Detail Dampak dan Korban Serangan
Berdasarkan rilis berita dari Al Jazeera dan laporan media lokal Iran, dampak serangan meliputi:
- Korban Jiwa: Setidaknya satu petugas pemadam kebakaran tewas akibat serangan proyektil yang menghantam kawasan Bandara kota Iranshahr di tenggara Iran, Rabu (8/7/2026).
- Krisis Energi: Terjadi pemadaman listrik massal di kota pelabuhan Chabahar akibat terputusnya tiga jalur kabel utama setelah pengeboman. Pihak berwenang dilaporkan mulai memulihkan dua dari tiga aliran listrik tersebut.
- Kerusakan Infrastruktur: Pengeboman di Chabahar menghancurkan dua dermaga laut, sebuah depot, dan sebuah menara kendali lalu lintas maritim. Shrapnel dari ledakan tersebut dilaporkan turut mengenai Rumah Sakit Imam Ali di kota itu.
- Fasilitas Nuklir: Media pemerintah Iran menegaskan serangan di wilayah Bushehr tidak menyebabkan kerusakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr.
Lokasi yang Menjadi Target Pemboman
Rentetan ledakan dilaporkan mengguncang kota-kota pesisir dan pulau strategis pertahanan Iran:
- Bushehr: Target menyasar pangkalan militer, namun menjauh dari reaktor nuklir.
- Chabahar: Target serangan terfokus pada pelabuhan bebas dan infrastruktur kontrol laut.
- Bandar Abbas: Penduduk setempat melaporkan mendengar sedikitnya delapan dentuman ledakan keras di kota pelabuhan utama ini.
- Sirik & Jask: Rudal menghantam area dermaga komersial serta dermaga nelayan setempat.
- Pulau Abu Musa & Qeshm: Wilayah kepulauan yang mengontrol jalur pelayaran Selat Hormuz turut menjadi sasaran pemboman.
Alasan Pengaktifan Kembali Serangan AS
Presiden Donald Trump menegaskan tindakan militer ini adalah bentuk pembalasan (retribusi) atas serangan drone dan proyektil Iran terhadap tiga kapal tanker minyak komersial (termasuk milik Qatar dan Arab Saudi) di Selat Hormuz pada hari-hari sebelumnya. AS menuduh Iran melanggar poin Memorandum Saling Pengertian (MoU) gencatan senjata yang disepakati bulan Juni lalu.
Sebagai respons balik, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah meluncurkan balasan darurat menggunakan drone dan rudal yang menargetkan pangkalan militer Armada ke-5 AS di Bahrain dan Kuwait.
Trump mengancam akan membalas Iran 20 kali lebih keras untuk setiap serangan

Presiden AS berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One (8/7/2026).
Ia kembali menegaskan bahwa AS telah menang di Iran, dengan mengatakan “mereka hanya memiliki sedikit yang tersisa, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan”. Tetapi ia berkata, “Saya tidak tahu apakah mereka layak untuk membuat kesepakatan, saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu.”
Ketika ditanya mengapa Iran menyerang kapal-kapal komersial jika mereka ingin membuat kesepakatan, Trump menjawab, “Karena mereka agak gila, jujur saja. Kedengarannya gila, mereka sedikit di luar kendali, tetapi mereka sangat ingin membuat kesepakatan.”
Ia juga memperingatkan pembalasan besar-besaran, dengan mengatakan, “Kita baru saja menyerang mereka dengan sangat keras. Setiap kali mereka menyerang kita, kita akan menyerang mereka 20 kali lipat.”
Ketika ditanya apakah AS akan kembali ke konflik militer skala penuh di Iran, Trump menjawab, “Saya tidak tahu. Kita memiliki banyak cara untuk menang, tetapi kita sudah menang secara militer.”
Iran Mengajukan Protes di PBB atas Serangan AS Terbaru
Iran telah mengirimkan surat terpisah kepada presiden Dewan Keamanan PBB dan sekretaris jenderal PBB terkait serangan AS terbaru, menurut siaran IRIB.
Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan Amerika Serikat sekali lagi melancarkan “serangan militer skala besar” terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Iran.
Ia mengatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan kewajiban internasional Washington.
Iravani juga mengatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran lain terhadap Pasal 2, Ayat 4 Piagam PBB, serta pelanggaran mendasar terhadap Klausul 1 MoU Islamabad yang ditandatangani pada 16 Juni.
(Sumber: AL JAZEERA)







tanpa persatuan umat islam, kafir penjajah akan berbuat sesukanya
susah kalo perjanjian sm presiden yg maniak perang
yg kedua industri senjata mereka akan rugi karna produksi mereka tdk terpakai🤣🤣