Inggris itu punya kultur sepak bola yang akar rumputnya sangat keras. Kelas pekerja, teriakan kasar di stadion, taruhan judi, dan tentu saja, bir yang mengalir deras di setiap perayaan kemenangan.
Di sisi lain, iklim sosial politik di daratan Eropa pasca berbagai tragedi terorisme di awal tahun dua ribuan itu (9/11) ninggalin bekas luka yang jelek banget buat pendatang dari Timur Tengah.
Media-media tabloid sana sering banget ngasih framing negatif. Sentimen Islamofobia itu bukan cuma sekadar teori di atas kertas, tapi bener-bener kerasa di tatapan curiga orang-orang pas lo lagi jalan di trotoar London atau Liverpool.
Lalu masuklah Mohamed Salah ke dalam ekosistem predator ini.
Normalnya, pendatang yang pengen selamat di lingkungan kayak gini bakal milih jalan asimilasi total. Mereka bakal nyoba ngebaur sebisa mungkin, ngurangin atribut agama, atau minimal ngelakuin ritual ibadah diem-diem aja di dalam kamar rumah yang tertutup. Nggak usah pamer. Biar aman.
Tapi apa yang dilakuin Mo Salah? Dia justru ngambil palu godam dan ngehancurin norma asimilasi itu tepat di depan puluhan ribu pasang mata.
Daripada nganggap rutinitas agamanya sebagai beban atau halangan, Salah justru jadiin ritual ibadahnya sebagai mesin jangkar yang bikin dia nggak ‘gila’ di tengah popularitas.

Lo coba bedah deh rutinitas harian seorang Muslim yang taat. Bangun sebelum matahari terbit buat salat subuh, puasa di bulan Ramadan, dan ngejaga wudu. Buat orang sekuler yang nggak paham, ini semua kelihatannya kayak aturan yang nyusahin dan ngambat performa fisik seorang atlet.
Gue inget banget gimana paniknya para pakar ilmu olahraga atau sports scientist di Eropa waktu tahu Salah mutusin buat tetep puasa penuh di bulan Ramadan, padahal waktu itu jadwal pertandingannya lagi padat-padatnya, bahkan menjelang final Liga Champions.
Coba lo pikir pakai logika sains nutrisi dasar. Lo adalah atlet elit yang harus lari sejauh belasan kilometer dalam sembilan puluh menit dengan kecepatan tinggi. Otot lo butuh asupan glikogen terus-terusan, tubuh lo butuh hidrasi literan air biar sel-sel lo nggak kram. Terus lo bilang ke pelatih lo, bos, mulai besok gue nggak bakal makan dan minum setetes air pun dari jam empat pagi sampai jam setengah sembilan malam.
Bos lo pasti bakal mikir lo udah gila dan lagi nyari mati di lapangan.
Tapi di sinilah letak anomali yang bikin para ilmuwan Barat kebingungan. Di saat secara matematis tubuhnya harusnya ambruk, Salah justru sering tampil menggila di bulan puasa. Kenapa bisa gitu? Karena ada dimensi spiritual yang ngasih kompensasi gila-gilaan ke kekuatan fisiknya.
Ketika dia puasa, otaknya ngelakuin semacam override atau pengambilalihan kendali atas rasa sakit dan rasa lapar. Dia nggak lagi lari pakai kalori dari makanan, dia lari pakai keyakinan. Keyakinan kalau Tuhan yang dia sembah lewat ibadah puasanya itu bakal ngejaga ototnya dari cedera. Efek plasebo spiritual ini nyata banget. Waktu jiwa lo ngerasa tenang dan lo yakin lo lagi ngelakuin hal yang benar, hormon kortisol pemicu stres lo bakal turun drastis, dan tubuh lo jadi lebih efisien dalam ngebakar sisa energi cadangan.
Agama buat dia itu bukan rintangan. Agama adalah bio-hacking paling canggih yang dia bawa dari desa Nagrig.
Terus, perhatiin soal wudu dan salat lima waktu. Di tengah ruang ganti klub-klub Eropa yang biasanya penuh sama musik EDM kenceng, botol-botol minuman energi, dan pemain-pemain yang lagi sibuk styling rambut, Salah (dan beberapa pemain Muslim lain seperti Sadio Mane) punya kebiasaan yang bikin suasana jadi surealis.
Mereka dengan tenangnya jalan ke wastafel ruang ganti, buka sepatu, dan mulai membasuh wajah, tangan, sampai kaki mereka pakai air dingin. Nggak ada rasa canggung sedikit pun. Mereka ngampar sajadah di sudut ruang ganti yang mungkin lantainya habis keinjak sepatu pul kotor. Mereka sujud di sana.
Ada seorang peneliti kerentanan dan kepemimpinan yang namanya Brené Brown. Di dalam bukunya Braving the Wilderness , dia ngebedah perbedaan mendasar antara fitting in (menyesuaikan diri) dan belonging (merasa memiliki). Brown bilang, menyesuaikan diri itu adalah lo mengukur sebuah situasi lalu lo mengubah diri lo sendiri menjadi sosok yang mereka mau agar lo diterima. Sedangkan merasa memiliki, itu nggak butuh lo berubah. Lo cuma butuh keberanian buat menunjukkan siapa diri lo sebenarnya yang otentik.
Salah nggak pernah berusaha buat fitting in di Inggris. Dia datang dengan otentisitasnya, dan dia memaksa Inggris buat nerima dia apa adanya.
Puncak dari otentisitas ini adalah pemandangan yang sekarang udah jadi ikon global. Setiap kali bola lepas dari kakinya dan ngerobek jaring gawang, setelah dia dipeluk sama Firmino atau Alexander-Arnold, dia bakal lari ke pinggir lapangan. Di tengah gemuruh stadion Anfield yang suaranya bisa bikin kuping berdengung, dia bakal berlutut, nempelin kening dan hidungnya ke atas rumput stadion yang basah.
Sujud syukur.
Satu gerakan sederhana ini, kalau lo bedah dampak sosiologisnya, itu bener-bener ngerubah sejarah hubungan antar ras di wilayah barat laut Inggris.
Mo Salah Effect
Gue bukan lagi ngomongin asumsi kosong ya. Ini beneran ada datanya. Para peneliti dari Universitas Stanford turun tangan buat neliti fenomena yang mereka sebut sebagai The Mo Salah Effect . Mereka ngumpulin data statistik kriminalitas di wilayah Merseyside dan ngebandinginnya sama wilayah lain di Inggris selama beberapa tahun sebelum dan sesudah Salah bergabung dengan Liverpool.
Hasil risetnya itu nampar banget buat kaum rasis. Sejak Salah datang dan mulai konsisten sujud di depan publik, angka kejahatan kebencian berbasis agama (hate crimes) di wilayah tersebut anjlok hampir dua puluh persen. Nggak cuma di dunia nyata, di dunia maya pun kerasa. Jumlah cuitan atau tweet anti-Muslim dari fanbase Liverpool di internet nyungsep setengahnya.
Lo harus paham seberapa gilanya pencapaian ini. Politisi, aktivis hak asasi manusia, dan tokoh agama udah puluhan tahun bikin seminar, pidato, dan kampanye iklan miliaran rupiah buat ngelawan Islamofobia di Eropa. Hasilnya lambat banget. Tapi satu orang Mesir datang, nendang bola masuk gawang, lalu nempelin jidatnya ke tanah tiap minggu, dan tiba-tiba kejahatan kebencian turun dua puluh persen.
Bagaimana cara kerjanya?
Orang-orang lokal Inggris yang tadinya di dalam kepalanya punya stigma kalau Muslim itu kaku, fanatik, atau berbahaya gara-gara berita di TV, dipaksa ngelihat realitas yang berbeda. Mereka ngelihat seorang laki-laki Muslim yang wajahnya selalu senyum, main bolanya kayak seniman, sangat hormat sama lawan, dan ngebawa kejayaan buat klub yang udah jadi agama kedua buat mereka.
Rasa cinta suporter ke performa Salah perlahan ngubah rasa takut mereka terhadap agamanya. Mereka mulai ngerasa kalau laki-laki bersujud ini adalah bagian dari keluarga mereka. Puncaknya adalah ketika suporter Liverpool ngebikin sebuah chant atau nyanyian yang liriknya bener-bener bikin merinding kalau lo nyadar konteks geopolitiknya. Ribuan laki-laki kulit putih, kelas pekerja Inggris, berdiri di tribun dan nyanyi kencang-kencang:
“If he’s good enough for you, he’s good enough for me. If he scores another few, then I’ll be Muslim too. Sitting in a mosque, that’s where I wanna be.”
(Kalau dia cukup bagus buatmu, dia cukup bagus buatku. Kalau dia nyetak gol lagi, gue juga bakal jadi Muslim. Duduk di dalam masjid, di situlah gue pengen berada).
Nyanyian itu mungkin dinyanyiin pakai nada bercanda khas suporter bola. Tapi di balik lirik itu, ada dinding prasangka tebal yang baru aja hancur lebur. Sebuah budaya mayoritas yang terkenal dengan arogansinya, rela menurunkan ego mereka dan mengapresiasi ruang spiritual seorang pendatang.
Inilah celah paling brilian dari seorang Mohamed Salah. Dia ngebuktiin kalau agama itu bukan rantai yang ngikat kaki lo buat maju di dunia profesional. Lo nggak perlu ngelepas keyakinan lo di depan pintu kantor cuma biar bisa disayang bos atau diterima klien. Kalau lo punya kompetensi yang nggak bisa dibantah, kalau skill lo beneran ada di level elit, orang-orang justru bakal menghormati prinsip yang lo bawa.
Salah nggak cuma nyetak gol buat Liverpool. Dia nyetak sejarah sosiologis. Di atas lapangan rumput yang dingin dan sering kali kejam itu, dia mendirikan sebuah ruang sujud tak kasat mata yang memaksa daratan Eropa untuk melihat Islam, bukan dari kacamata ketakutan, melainkan dari kacamata kerendahan hati dan kemenangan.
(Balqis Humaira)







mudah2an tulisan ini juga nampar terwo mahluk rasis di portal ini 🤣🤣
bravo Moh salah 👍👍
berdakwah dgn sarana sepatu, bola sepak, dan lapangan hijau
ketika kita istiqomah dengan ajaran Allah SWT, maka kemudahan akan diperoleh, bahkan kemuliaan dan barokah pun akan mengiringi. artikel Balqis Humaira selalu panjang tapi membuka wawasan baru yang lebih detail. barakallah…. 👍
idem mangOmang 🙏
jazakillah khoiron katsiro Balqis Humaira atas pencerahannya dan tetap semangat menebarkan kebaikan ditengah terjadinya dekadensi moral yang memprihatinkan
salah apakah kalo di wakanda jd fans abu janda sebab tiap tahun selalu post perayaan natal
nah lho…….. kenapa jadi gini ❓😜
weleh….. weleh………..
makin parah aja nih orang, dia nanya lagi… harus nya ane yang nanya : KAPAN ENTE SEMBUH NYA ?
setauku, AF orangnya baik, pinter, cerdas, literasi nya lumayan, sabar dan…. pokoknya OK lah….
mungkin gegara yang sepele dampaknya emang mengerikan. semoga Tuhan memaafkan atas kesalahan nya dan diterima amal ibadahnya.
sumpah bang banyak yg atasnama AF kacau balau nama baik saya tercoreng, saya yg asli mah santai dan ga banyak komen, masalahnya saya tertuduh ya salam