Israel Terkejut Keberhasilan Suriah Di KTT NATO

Meskipun rencana negara Israel yang nakal untuk menyabotase KTT Pemimpin NATO yang diadakan di Turki—dengan menggunakan isu F-35 dan provokasi Yunani—telah digagalkan, keputusan penting yang diumumkan di Ankara merupakan pukulan ekonomi dan geopolitik bagi kekuatan pendudukan tersebut.

Presiden AS Donald Trump membuka pintu menuju era baru di Timur Tengah dengan secara resmi memberitahukan Presiden Suriah Ahmed Shara—melalui surat yang dikirim setelah pertemuan mereka di KTT NATO—tentang keputusan untuk menghapus Suriah dari daftar negara sponsor terorisme.

Dalam suratnya, Trump menyatakan bahwa ia telah mengirimkan pemberitahuan yang diperlukan kepada Kongres dan bahwa, setelah periode peninjauan hukum selama 45 hari, hambatan untuk rekonstruksi Suriah akan dicabut; ia juga menekankan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika siap untuk berinvestasi di Suriah.

Langkah untuk mencabut status yang telah berlaku selama hampir setengah abad ini dianggap sebagai perkembangan bersejarah, tidak hanya bagi Damaskus tetapi juga dalam hal keseimbangan kekuatan regional.

Awal pekan ini, Presiden Suriah Ahmed Shara telah menekankan: “Kami bertujuan untuk memposisikan kembali Suriah sebagai pusat yang aman dan vital, dan sebagai jembatan peradaban dan ekonomi yang sangat diperlukan antara Timur dan Barat.”

BLOKADE KEUANGAN DICABUT

Penghapusan Suriah dari daftar “negara sponsor terorisme” terutama akan membuka jalan bagi negara tersebut untuk terhubung kembali dengan sistem keuangan internasional.

Setelah selesainya periode peninjauan 45 hari Kongres, bank-bank Suriah diharapkan dapat memperoleh kembali akses ke sistem SWIFT, membangun hubungan perbankan korespondensi dengan bank-bank asing, dan melihat transfer uang internasional kembali normal.

Perkembangan ini sangat penting bagi perekonomian Suriah, yang telah kehilangan pembiayaan eksternal selama bertahun-tahun karena sanksi. Diperkirakan bahwa proses investasi akan dipercepat karena risiko hukum dan keuangan berkurang bagi modal Teluk, investor Turki, dan perusahaan internasional.

REKONSTRUKSI AKAN DIPERCEPAT

Menurut para ahli, rekonstruksi Suriah yang dilanda perang akan menghasilkan volume ekonomi yang sangat besar—diperkirakan antara $250 miliar dan $400 miliar—dalam beberapa tahun mendatang.

Langkah terbaru AS menghilangkan salah satu hambatan politik utama yang menghalangi proses rekonstruksi ini untuk benar-benar dimulai.

Berkat keunggulan geografis Turki, koneksi lintas batas, kapasitas logistik, dan operasi jangka panjang di Suriah utara, perusahaan konstruksi Turki diharapkan memimpin proyek-proyek yang melibatkan pembangkit listrik, pelabuhan, jalan raya, perumahan, dan infrastruktur.

Dana investasi publik dari negara-negara Teluk juga diharapkan memainkan peran penting dalam membiayai upaya-upaya ini. Akibatnya, rekonstruksi Suriah berkembang menjadi proses strategis yang akan mempercepat tidak hanya aktivitas ekonomi tetapi juga integrasi regional.

PERAN SENTRAL TURKI MENDAPAT DUKUNGAN INTERNASIONAL

Langkah yang diambil oleh Washington juga dipandang sebagai perkembangan yang semakin memperkuat posisi sentral Turki terkait masalah Suriah. Berkat perbatasan daratnya yang luas, kehadiran militer di lapangan, hubungan dengan aktor lokal, dan kemampuan keamanan, Ankara berdiri sebagai mitra yang sangat diperlukan dalam restrukturisasi Suriah.

Meskipun negara-negara Teluk memiliki kekuatan ekonomi untuk mendanai rekonstruksi, tidak ada aktor regional lain yang mampu mengambil peran Turki dalam hal keamanan, logistik, dan koordinasi kelembagaan di lapangan. Situasi ini juga menunjukkan bahwa visi “negara Suriah yang kuat dan terpusat”—yang telah lama diadvokasi oleh Ankara—semakin mendapat dukungan.

RENCANA ISRAEL TERGANGGU

Meskipun penilaian yang menunjukkan bahwa Israel lebih menyukai otoritas pusat yang lemah di Suriah sering disuarakan baru-baru ini, keputusan yang diambil oleh AS menghadirkan gambaran yang berbeda. Pembentukan kontak langsung Washington dengan pemerintahan Ahmed Shara, inisiasi proses untuk mencabut sanksi, dan pengumuman bahwa perusahaan-perusahaan Amerika dapat berpartisipasi dalam rekonstruksi Suriah dipandang sebagai langkah-langkah signifikan yang memberikan legitimasi internasional kepada pemerintahan Damaskus.

INTEGRASI UNTUK MEMPERKUAT

Gambaran yang muncul menunjukkan bahwa, setelah KTT NATO, sebuah model untuk Suriah mulai terlihat—model yang lebih kuat, secara ekonomi direvitalisasi, terintegrasi ke dalam sistem internasional, dan didukung oleh Turki, AS, dan negara-negara Teluk.

Sumber: Yenisafak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. tak ada sejarah besar islam melawan kafir minta bantuan kafir….jangan melawan sejarah bos…amerika itu dajjal….air itu api..api itu air…