✍️Saief Alemdar
Setelah KTT NATO di Ankara selesai, para kepala negara yang hadir mendapat goody bag hadiah, setelah dibuka ternyata isinya pistol 357 Magnum, dan masing-masing pistol ada nama kepala negaranya. Ketika membuka isinya ada yang terkejut ada juga yang tertawa.
Menghadiahkan kepala negara sebuah senjata api mewah dan personal adalah tradisi yang sudah ada sejak zaman Samuel Colt, jadi bukan hal yang aneh apalagi melanggar protokol kenegaraan.

Pistol Gümüşay yang dihadiahkan Erdogan kepada sekutu NATO-nya adalah jenis six-shot revolver yang awalnya dikembangkan pada tahun 1990-an oleh pabrik yang sekarang sudah tutup di Gümüşhane, Turki, dengan sisa stoknya kemudian diambil alih oleh produsen senjata negara MKE.
Pada tahun 1854, ketika Samuel Colt melakukan perjalanan melalui Eropa dan Ottoman, ia secara pribadi memberikan revolver bertatahkan emas dan berukir khusus kepada Sultan Ottoman Abdülmecid I. Setelah Colt secara tegas menyebutkan kepada sultan bahwa Rusia sudah membeli pistolnya, Abdülmecid memesan lima ribu revolver.
Colt telah menggunakan taktik yang sama pada Rusia beberapa bulan sebelumnya, memberikan revolver bertatahkan emas dengan motif patriotik Amerika kepada Tsar Nicholas I pada akhir tahun 1854, di tengah Perang Krimea. Sebagai indikasi, produsen senjata AS memasok kedua belah pihak dalam konflik tersebut.
Awalnya Presiden Erdogan ingin mengirim pesan tertentu, bisa saja untuk menunjukkan kepercayaan mutlak, tanggung jawab, atau dukungan perlindungan kepada mitra NATO-nya. Namun juga dapat menyiratkan pesan peringatan implisit untuk menjaga kehormatan dan komitmen dalam ikatan NATO, atau bahkan pesan bahwa Turki sudah selesai dengan proyek senjata, Turki sekarang sudah menjadi produsen senjata, bukan lagi konsumen.
Menariknya, hadiah tersebut justru menjadi beban bagi beberapa kepala negara, karena tidak semuanya dapat membawa pistol tersebut kembali ke negara mereka karena hukum dan peraturan setempat yang ketat mengenai kepemilikan senjata api.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer terpaksa meninggalkan pistol tersebut di Turki dan menonaktifkannya karena hukum Inggris yang ketat melarang impor dan kepemilikan senjata api oleh individu.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney juga menerima hadiah, tetapi pistol tersebut akan diserahkan kepada Kepolisian Kerajaan Kanada (Royal Canadian Mounted Police) untuk dinonaktifkan sepenuhnya dan membuatnya tidak dapat menembakkan amunisi, dengan tujuan untuk kemudian dipajang di museum. PM Italia, Georgia Meloni melakukan hal yang sama.
Perdana Menteri Belanda, Swedia, dan Jerman menyerahkan pistol tersebut ke kedutaan masing-masing di Ankara. Pistol tersebut diperlakukan sebagai “official state gift” untuk menyelesaikan prosedur impor yang sah dan memasukkannya ke dalam koleksi hadiah negara resmi.
Perdana Menteri Belgia Bart De Wever membawa hadiah tersebut bersamanya, tanpa menyadari bahwa hadiah itu berisi pistol yang sudah terisi peluru. Delegasi Belgia baru mengetahui bahwa senjata itu berisi peluru setelah mendarat di Belgia. Senjata itu segera diserahkan kepada polisi bandara, dan masih belum jelas apa kelanjutannya seperti apa.
Katanya, Presiden AS, mengomentari hadiah Pistol Gümüşay, “My friend Erdoğan gave me this as a gift. This is a great gun, but some European leaders couldn’t even get their guns into their countries. Perhaps Erdoğan should have given them water pistols instead!”
(“Teman saya Erdoğan memberi saya ini sebagai hadiah. Ini senjata yang bagus, tetapi beberapa pemimpin Eropa bahkan tidak bisa membawa senjata mereka ke negara mereka. Mungkin Erdoğan seharusnya memberi mereka pistol air saja!”) 😁








join bop tapi bebas hujatan, join nato bebas hujatan