SAYANG-SAYANGAN: DONY OSKARIA, DANANTARA, RANS

By Agustinus Edy Kristianto

Bluffing Dony Oskaria (DO) ini bisa dianggap mempermalukan Indonesia di dunia internasional. Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara itu mengklaim laba Danantara 2025 mencapai Rp330 triliun dan telah mengalahkan Temasek yang cuma Rp136 triliun (12 miliar dolar Singapura) (IDN Financials, 24 Agustus 2026).

Layak kita cemooh klaim DO itu.

Pertama, angkanya salah! Laba bersih Temasek (tahun buku berakhir 31 Maret 2026) adalah 32,4 miliar dolar Singapura (Rp451,6 triliun). Laba bersih Temasek lebih besar 36,85% (selisih Rp121,6 triliun) dari laba Danantara — itu pun kalau klaim DO benar.

Kedua, bagaimana kita bisa percaya laba Danantara Rp330 triliun kalau sampai saat status ini ditulis saja laporan keuangan Danantara belum terbit? Apalagi angka DO berbeda dengan klaim Presiden Prabowo Subianto pada pidato 14 Agustus 2026 yang menyebut laba Danantara Rp326 triliun (selisih Rp4 triliun dari klaim Dony).

Ketiga, taruhlah kita tutup mata soal laporan keuangan Danantara yang belum ada sampai sekarang, dan kita anggap baik laba versi Prabowo dan DO benar (selisih Rp4 triliun kita abaikan) — itu justru malah menunjukkan fakta laba BUMN di bawah rezim Prabowo lebih rendah dari pemerintahan sebelumnya. Laba komprehensif konsolidasi BUMN 2023 (sudah diaudit EY) Rp331,64 triliun, dan tahun 2024 Rp347,43 triliun. (BPI Danantara baru diluncurkan Februari 2025).

Awalnya saya berpikir positif, mungkin DO salah kutip karena kelelahan syuting atau live di IG dan TikTok seperti keponakannya, Raffi Ahmad. Tapi pikiran saya itu ternyata keliru. Saya justru menduga ada framing narasi yang sama antara yang DO lakukan di Danantara dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS): membandingkan entitas kecil/baru (seperti Danantara dan RANS) versus pemain besar mapan (seperti Temasek, BBRI, BBCA) menggunakan ukuran sepihak yang menguntungkan pemilik narasi.

Mari kita lihat unggahan di akun IG @newsrans pada 5 Agustus 2026: “Lewati BBRI & BBCA, RANS jadi Saham Kesayangan Indonesia.”

Di postingan itu dicantumkan nama Dony Oskaria (DO) sebagai pemegang saham RANS terbesar ke-4 dengan kepemilikan 2,74% (3.453 ribu lot, sekira Rp72 miliar) — lebih banyak dari Haji Isam yang duduk di posisi 5 dengan kepemilikan 1,4%. Bahkan di caption ditulis atribut DO sebagai kehadiran “nama besar yang memperkuat RANS di pasar modal domestik.”

Bagi saya, sama seperti klaim bombastis Danantara mengalahkan Temasek, klaim RANS ini juga keliru dan berpotensi menyesatkan masyarakat.

Pertama, RANS diklaim melewati BBCA dan BBRI karena jumlah pemegang sahamnya (berdasarkan Single Investor Identification/SID) 842.671, melebihi BBRI 778.610 dan BBCA 797.115. Tapi data yang dikutip Bloomberg Technoz menunjukkan jumlah SID RANS per Juli 2026 hanya 754.691 individu — yang berarti di bawah BBCA dan BBRI. Belum lagi jika dibandingkan menggunakan metrik lain: kapitalisasi pasar (RANS Rp2,6 triliun vs BBRI Rp456,1 triliun vs BBCA Rp781 triliun); bobot IHSG (RANS 0,019 poin vs BBRI 7,02 vs BBCA 8,98).

Kedua, DO bukan orang besar. Dia semata kebetulan sedang menjadi pejabat Danantara di bawah rezim Prabowo-Gibran yang dipilih 58% oleh pemilih DPT. Kalau tidak ada rezim Prabowo, belum tentu ada Danantara; kalau tidak ada Danantara, belum tentu DO jadi pejabat negara. Bisa saja ia cuma jadi rakyat biasa yang setengah mati mendapatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari bank Himbara buat menyambung usaha. Bukankah begitu juga nasib Presiden Prabowo sebelum berkuasa, ketika selama 20 tahun kreditnya ditolak terus oleh bank-bank Himbara sampai-sampai asetnya mati semua?

Ketiga, bau amis konflik kepentingan yang makin tercium. Bagaimana bisa RANS — yang salah satu pemegang saham terbesarnya adalah juga pejabat Danantara — memasarkan diri secara eksplisit sebagai entitas yang mengalahkan BBRI, padahal BBRI adalah bank BUMN yang seharusnya dijaga reputasi bisnisnya oleh pejabat Danantara itu sendiri? Nyata betul benturan kepentingannya antara kepentingan finansial pribadi DO (menaikkan nilai saham RANS) dan tanggung jawab sebagai pejabat publik untuk menjaga kepentingan/reputasi BBRI sebagai aset BUMN. Hancur sekali reputasi BBRI kalau disebut Indonesia lebih sayang RANS daripada bank rakyatnya sendiri.

Keempat, lagipula apa betul negara Indonesia yang berumur 81 tahun dan diperjuangkan mati-matian oleh para pendiri bangsa melawan berbagai ancaman penjajah ini menyayangi sebuah emiten yang sejak resmi melantai (10 Juli 2026) — dan sejak mencapai puncaknya di Rp272/saham hanya lima hari kemudian (15 Juli 2026) — sudah ambrol sekitar 27-29% hingga penutupan pekan ini (24 Agustus 2026)? Macam tidak ada hal lain saja di bumi nusantara ini untuk disayangi!

Tapi, apa pun yang kita kupas, setajam dan selogis apa pun, di tengah suasana kebatinan rezim republik rasa kekuasaan tunggal, ujung-ujungnya kita bertumpu pada satu pertanyaan penting: Presiden masih sayang Dony, gak?

Kalau masih disayang, ya, tetap pejabat Danantara; kalau tidak disayang, ya, dicopot.

Zaman sekarang tidak berguna bicara integritas, kompetensi, rekam jejak… Republik sekarang ini urusan sayang-sayangan saja, kok.

Salam,
AEK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *