PUTUSAN MA BIKIN KUBU GIBRAN LEMES

Kalau putusan MK Nomor 01/2026 loyalis Jokowi seperti Azwan dan kawan-kawan masih bisa merespon dengan cara bertakbir dan sujud syukur, maka kalau putusan MA yang mengabulkan kasasi Subhan Palal terkait Surat Keterangan (Suket) penyetaraan ijazah SMA Wapres Gibran yang tidak sah itu, rasanya agak sulit bagi mereka bertakbir, apalagi sujud syukur. Terdiam dan terduduk, mungkin itu yang paling pas.

Kuasa hukum Wapres Gibran, M. Rullyandi yang begitu atraktif dan merasa di atas angin, setelah persidangan PTUN Jakarta Timur, dan biasanya punya banyak dalil argumentasi, terlihat lemes saat menanggapi putusan MA itu. Kalau putusan MK bisa ia diserangnya, bahkan dikatakan sebagai persidangan ilegal, Ketua MK juga dicap ilegal, tapi bagaimana pula menyerang putusan MA yang begitu dingin dan tenang itu? Sudah sulit.

Rullyandi seperti orang yang tak mengerti hukum mengatakan bahwa putusan MA tidak berlaku surut. Suket itu memang sudah tak berlaku karena Pilpres sudah selesai. Tapi dengan putusan MA membuktikan Gibran tidak lagi memenuhi syarat sebagai Wakil Presiden yang artinya memenuhi kriteria untuk diberhentikan dari jabatannya sebagaimana diatur UUD 1945.

Kuasa hukum Mercy Sihombing, Heriyanto, tertawa saja mendengar dalil hukum yang disampaikan Rullyandi itu di talkshow MetroTV. Apalagi saat mengatakan PTUN gugatan Mercy Sihombing itu lanjut saja dulu. Padahal, sudah ada putusan MA yang objeknya sama, yang nanti muaranya juga akan ke MA. Entah kenapa, penting betul bagi Rullyandi dan loyalis Jokowi, PTUN itu berlanjut? Untung saja, Azwan tak bertakbir pula di situ kemarin.

Bahkan, istilah operasi politik atau penumpang gelap yang disampaikan Jokowi sejak awal, gugur dengan adanya putusan MA itu. Sebab, sudah ada dua lembaga tinggi yudikatif bersepakat tentang Suket yang batal itu. Justru kalau itu masih dikatakan sebagai operasi politik atau penumpang gelap, Jokowi harus introspeksi diri, ada apa ini? Kok semuanya jadi begini sekarang? Tersisa DPR saja yang belum bersikap dan itu hanya menunggu hari.

(ERIZAL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. alhamdulillah… akhirnya detik2 berakhirnya manusia tanpa dokumen dan tanpa kualitas akan tiba…
    berbarengan dengan sangat ‘raja’ solo yang akan gemetaran disidang minggu depan! akhirnya…

  2. Waspada aja si cungkring masih kuat dg centeng parcoknya dengan gera’an-gera’an yang bikin resah & chaos seperti penggerebekan brutal pondok.

  3. Ya Allah beri waktu kpd kami/Rakyat Indonesia unk menyaksikan langsung hukumanMu kepada manusia2 durjana ini agar menjadi pelajaran bagi sebagian pemimpin dan kaum yg mau berpikir. Aamiin.