PUNCAK KESESATAN

✍🏻Ustadz M Syihabuddin Dimyathi

Tidak heran jika ada orang yang menafsirkan Al-Qur’an secara serampangan, tetapi tetap dibela mati-matian. Bukan karena tafsirnya benar, melainkan karena sosok yang berbicara sudah terlanjur diagungkan. Fenomena semacam ini, menurut Imam al-Ghazali, merupakan puncak kesesatan.

Beliau berkata:

مَهْمَا نَسَبْتَ الْكَلَامَ وَأَسْنَدْتَهُ إِلَىٰ قَائِلٍ حَسُنَ فِيهِ اعْتِقَادُهُمْ قَبِلُوهُ وَإِنْ كَانَ بَاطِلًا، وَإِنْ أَسْنَدْتَهُ إِلَىٰ مَنْ سَاءَ فِيهِ اعْتِقَادُهُمْ رَدُّوهُ وَإِنْ كَانَ حَقًّا
فَأَبَدًا يَعْرِفُونَ الْحَقَّ بِالرِّجَالِ، وَلَا يَعْرِفُونَ الرِّجَالَ بِالْحَقِّ، وَهُوَ غَايَةُ الضَّلَالِ

“Seberapa pun kesesatan sebuah ucapan, ketika dinisbatkan kepada sosok yang mereka pandang baik, pasti akan mereka terima. Sebaliknya, seberapa pun benar sebuah ucapan, jika dinisbatkan kepada orang yang sudah buruk penilaian mereka terhadapnya, pasti akan mereka tolak. Maka pada akhirnya, mereka selalu mengenal kebenaran lewat figur manusia, bukan mengenal manusia lewat kebenaran. Dan itulah puncak kesesatan.”

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *