Banyak analisis beredar tentang hal ini. Berikut rangkuman dari analisis para pengamat geopolitik, diterjemahkan dengan bahasa biasa:
Ambisi utama Israel di Timur Tengah berpusat pada keamanan eksistensial, pengakuan diplomatik, dan dominasi strategis dan (secara tersirat) berupaya memperluas wilayah Israel dalam rangka menciptakan ISRAEL RAYA dan memastikan kelangsungan negaranya di kawasan yang sebagian besar bermusuhan dengannya, baik secara terbuka maupun diam-diam.

Karena itu, sejak Israel berdiri, mereka pelan-pelan berusaha keras memengaruhi dan bahkan menyetir kebijakan negara-negara sekutunya di Barat untuk merekayasa tatatan geopolitik di Timteng dan dunia agar menguntungkan Israel dan Barat.
Selama lebih dari dua dekade, narasi berita dan peristiwa politik di Timur Tengah dan Barat diatur sedemikian rupa (didesain) untuk melayani ambisi politik dan militer Israel.
Negara Israel memang memiliki pengaruh dan kendali yang luar biasa (bahkan dianggap tidak wajar) terhadap kebijakan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Israel mampu menyetir kebijakan luar negeri AS, Inggris, dan Prancis untuk mendukung kepentingan mereka; contoh terkini adalah mulai dari kesepakatan nuklir Arab Saudi, dukungan militer AS, hingga aksi diplomatik Inggris dan Prancis terkait Iran. Selain itu, setelah berhasil “menjinakkan” semua rezim Arab di GCC (Gulf Cooperation Council) dengan bantuan AS dan memperalat mereka sejak lama, Israel semakin percaya diri dengan cita-citanya.
Walaupun pemerintah Israel tidak secara resmi memiliki rencana atau kebijakan untuk membentuk “Israel Raya” (Great Israel atau Eretz Yisrael HaShlema), namun konsep ini tetap hidup dalam wacana ideologis kelompok sayap kanan radikal dan ultranasionalis di sana. Pengaruh menteri sayap kanan radikal belakangan ini, seperti Itamar Ben-Gvir (Menteri Keamanan Nasional) dan Bezalel Smotrich (Menteri Keuangan) sangat dominan dalam memaksa Perdana Menteri Netanyahu memperluas aneksasi wilayah Palestina, dan dalam upaya mereka meruntuhkan Iran dan menolak segala bentuk perdamaian.
🇮🇷Iran adalah hambatan terbesar dan terkuat bagi cita-cita Israel Raya
Iran tidak mau mengikuti script geopolitik yang didiktekan oleh Israel dan Barat sejak 40 tahun lalu.
Perang sejak akhir Februari 2026 telah mengubah banyak hal, membuka sebagian kedok rezim-rezim Arab, Israel dan barat/AS, dan menggeser situasi geopolitik di kawasan itu.
Untuk mencegah dan membendung ambisi dominasi geopolitik Israel, Iran menerapkan doktrin pertahanan asimetris, perang atrisi (menguras sumber daya), dan pembangunan kekuatan nuklir bawah tanah; dan juga, selain membangun proxy dan poros perlawanan di kawasan timteng (di Libanon, Palestina, Syria, Yaman dan Irak), Iran juga menjalin kerja sama dengan kekuatan lain yang bersaing memperebutkan hegemoni dunia melawan AS, seperti China dan Rusia.
Teheran menyadari bahwa mereka kalah dari segi jumlah armada tempur dan finansial (karena sanksi ekonomi bertahun-tahun), sehingga mereka menggunakan taktik “gerilya” di banyak bidang. Contoh yang jelas adalah ketika perang kali ini, di mana Iran menggunakan taktik untuk memecah konsentrasi, menggerogoti kekuatan penopang musuh secara terukur, dan menguras ekonomi Israel beserta sekutunya. Taktik mereka sejauh ini cukup berhasil membuat AS/ Israel frustrasi.
Sikap dan langkah-langkah Iran semakin membuat kelompok sayap kanan ultranasionalis di Israel tidak sabar. Kini mereka mencoba melakukan “terobosan” dengan menyuruh Trump mengajak MBS menandatangani perjanjian nuklir. AS akan membantu Arab Saudi dalam membangun infrastruktur nuklir. Selain untuk meningkatkan ketegangan agar ada alasan untuk tetap berkonflik dengan Iran, upaya membangun infrastruktur nuklir di Arab Saudi ini diyakini juga dimaksudkan untuk memperalat Saudi lebih jauh, yakni untuk membantu Israel dan AS mengejar ambisi nuklir mereka dan mengalahkan Iran.
Semakin cepat Iran kalah, makin lancar ambisi Israel untuk menjadi “negara hegemon” yang memiliki kekuatan untuk mendikte norma, hukum, dan arah politik yang harus diikuti oleh negara-negara Arab (GCC) yang sudah puluhan tahun tidak berani tegas melawan Israel; atau dengan kata lain, Israel ingin Iran cepat tunduk dan karena itu segera bisa mendominasi (“menjajah”) kawasan tanpa hambatan dan tanpa kekuatan militer-fisik (urusan militer lebih banyak diserahkan kepada centengnya, yaitu AS).
Namun deal nuklir ini juga masih belum pasti prospeknya. Masalahnya adalah deal nuklir ini mensyaratkan Arab Saudi harus mengikuti Abraham Accords (Perjanjian Abraham) yang bertujuan untuk menormalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan rezim-rezim Arab di kawasan tersebut. Arab Saudi secara formal masih belum bersedia menandatangani perjanjian itu (di antara rezim GCC, baru UEA dan Bahrain yang sudah menandatangani Abraham Accord dan karenanya kedua negara itu banyak membantu Israel melawan Iran).
Menurut kebijakan AS, perjanjian nuklir dengan Arab Saudi hanya akan difinalisasi jika negara tersebut menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Namun pihak Arab Saudi selalu menyatakan bahwa mereka hanya akan menandatangani perjanjian tersebut jika ada pengakuan atas Negara Palestina sesuai dengan garis batas tahun 1967.
Pemerintah Arab Saudi berada dalam posisi dilematis karena opini publik domestik dan regional terhadap Israel sangat sensitif akibat eskalasi konflik di Gaza dan Iran. Arab Saudi mendukung penuh solusi dua negara (two-state solution) untuk Palestina dan menjadikannya sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar sebelum mereka membuka hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Di sisi lain, pemerintah Israel, di bawah pengaruh sayap kanan ultranasionalis, secara terbuka menolak opsi solusi dua negara.
(Triwibowo Budi Santoso)







af sama Ali bajrie bestian kalo soal Iran🤣🤣
si Af ini tau gak ya kalo Bajrie itu turunan Yaman yg sering dia hina tiap hari?