Kozo Okamoto, Veteran Tentara Merah Jepang Yang Melakukan Serangan Mematikan di Tel Aviv 1972, Wafat di Lebanon

Kozo Okamoto, satu-satunya veteran yang masih hidup dari operasi mematikan di Bandara Lod (Lod Airport) oleh Tentara Merah Jepang, meninggal dunia di Beirut pada hari Kamis 23 Juli 2026 pada usia 78 tahun. Kematiannya memicu penghormatan dari berbagai kelompok perlawanan Palestina dan Lebanon. Ia meninggal karena usia tua sebagai manusia merdeka, ribuan mil jauhnya dari tanah airnya di Jepang. Kisahnya merupakan kesaksian yang menyentuh hati tentang salah satu kisah paling tak terduga dari solidaritas internasional dengan perjuangan Palestina.

Para pelayat membawa jenazah Kozo Okamoto, mantan anggota kelompok militan Tentara Merah Jepang yang meninggal pada hari Kamis di usia 78 tahun, yang dibungkus bendera Palestina, selama prosesi pemakamannya di Beirut, Lebanon, Jumat, 24 Juli 2026.

Sejumlah faksi utama Palestina, termasuk Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), mengeluarkan pernyataan resmi untuk menyampaikan belasungkawa. PFLP mengenang jasa-jasa Okamoto yang telah mendedikasikan hidupnya selama dekade demi dekade untuk perjuangan Palestina, sementara Hamas memuji keteguhan moral dan prinsip kemanusiaan mendiang yang konsisten menentang kezaliman.

Tentara Merah Jepang (The Japanese Red Army/JRA) didirikan pada tahun 1971 dan pindah ke Lebanon tak lama kemudian di bawah kepemimpinan Fusako Shigenobu. Di sana, mereka bergabung dengan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), setelah mengidentifikasi perjuangan Palestina sebagai ‘basis internasional’ utama untuk revolusi dunia.

Pada 30 Mei 1972, JRA mendapatkan ketenaran di seluruh dunia dengan melancarkan serangan berani di Bandara Lod (sekarang Ben Gurion) dekat Tel Aviv. Operasi tersebut mengakibatkan kematian 26 pemukim Israel serta dua rekan Okamoto dari JRA, Tsuyoshi Okudaira dan Yasuyuki Yasuda. Sebagai pembalasan langsung, Mossad membunuh penulis terkenal Palestina dan juru bicara PFLP, Ghassan Kanafani, hanya beberapa minggu kemudian.

Okamoto sendiri dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan disiksa dengan kejam selama 13 tahun di penjara Israel. Ia dibebaskan ke Lebanon bersama 1.149 tahanan lainnya, termasuk para pemimpin masa depan Hamas dan Jihad Islam Palestina, dalam pertukaran tahanan tahun 1985. Pada tahun 1997, Okamoto ditangkap dan diancam akan dideportasi ke Jepang, tetapi tiga tahun kemudian menjadi orang pertama yang diberikan suaka politik di Lebanon setelah protes massal untuk membelanya.

Mualaf di Lebanon

Setelah dibebaskan dari penjara Israel melalui perjanjian pertukaran tahanan pada tahun 1985, ia sempat ditahan di Lebanon sebelum akhirnya mendapatkan suaka politik. Di masa suaka inilah ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Nama Muslim

Berdasarkan beberapa catatan sejarah perlawanan, ia juga dikenal dengan nama Muslim Ahmad Okamoto atau lebih dikenal dengan julukan Ahmed Al-Yabani (Ahmad si Orang Jepang).

Okamoto menghabiskan sisa hidupnya di antara rekan-rekan Palestina dan Lebanon-nya, dan tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah airnya. Mantan komandan JRA-nya, Fusako Shigenobu, yang dipenjara selama 16 tahun setelah kembali ke Jepang, memujinya sebagai ‘seorang pejuang yang bersama mereka yang melawan pendudukan Israel dalam upaya pembebasan Palestina’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar