“Jika Tuhan begitu penyayang, mengapa ada begitu banyak penderitaan di dunia?”

Oleh: DR. Safi Kaskas*

Seorang teman bertanya: “Jika Tuhan begitu penyayang, mengapa ada begitu banyak penderitaan di dunia?? Mengapa tidak ada belas kasihan bagi orang-orang yang meninggal karena perang, kelaparan, bencana, dan penyakit?”

Berikut jawaban saya:

Itu adalah salah satu pertanyaan terdalam yang pernah diajukan manusia sepanjang sejarah. Islam tidak menyangkal penderitaan atau berpura-pura bahwa penderitaan itu tidak nyata. Al-Qur’an secara terbuka berbicara tentang perang, kelaparan, kehilangan, penyakit, dan kematian.

Pemahaman Islam tentang rahmat Allah bukanlah bahwa Dia mencegah setiap kesulitan dalam hidup ini. Sebaliknya, hidup ini adalah tahap sementara di mana manusia diberi kebebasan, diuji, dan dipanggil untuk tumbuh dalam iman, kasih sayang, keadilan, dan kesabaran.

Sebagian besar penderitaan di dunia berasal dari pilihan manusia: perang, penindasan, eksploitasi, korupsi, dan pengabaian terhadap kaum miskin. Allah memberi manusia kehendak bebas, dan kehendak bebas mencakup kemungkinan untuk melakukan kejahatan.

Adapun bencana alam, penyakit, dan tragedi yang tampaknya di luar kendali manusia, Islam mengajarkan bahwa kita tidak selalu melihat gambaran lengkapnya. Apa yang tampak tidak berarti bagi kita, mungkin ada tujuan di luar pemahaman kita yang terbatas. Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa pengetahuan kita kecil dibandingkan dengan pengetahuan Allah.

Yang terpenting, rahmat Allah tidak terbatas pada dunia ini. Jika kehidupan ini adalah keseluruhan cerita, banyak ketidakadilan memang akan tetap tidak terselesaikan. Tetapi Islam mengajarkan bahwa setiap korban, setiap air mata, setiap penderitaan diketahui oleh Allah dan akan dipertanggungjawabkan dengan keadilan dan rahmat yang sempurna di Akhirat.

Pertanyaan sebenarnya bukanlah “Mengapa penderitaan ada?” tetapi “Bagaimana kita harus menanggapi penderitaan?” Al-Qur’an menyeru kita untuk menjadi instrumen rahmat Allah, memberi makan orang lapar, merawat orang sakit, membantu orang tertindas, dan bekerja untuk perdamaian.

Keberadaan penderitaan tidak membuktikan tidak adanya rahmat Allah. Terkadang hal itu mengungkapkan tidak adanya rahmat manusia dan menantang kita untuk menjadi lebih penyayang.

_________________

Dr. Safi Kaskas adalah seorang akademisi, eksekutif manajemen strategis, penerjemah Al-Qur’an, dan tokoh dialog antarumat beragama berdarah Lebanon-Amerika. Ia merupakan Pendiri sekaligus Presiden IQRA (International Qur’an Research Association) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. Melalui lembaga IQRA, ia berfokus pada penelitian teks Al-Qur’an, pembaruan interpretasi kontemporer berbasis ilmu pengetahuan, serta penjembatanan hubungan antariman.

fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *