Maradona: “Saya mendukung Palestina tanpa ragu”

Diego Maradona (1960-2020) adalah salah satu legenda sepak bola terbesar sepanjang masa asal Argentina.

Semasa hidupnya, Maradona dikenal cukup vokal dalam menyuarakan perjuangan rakyat Palestina.

Dilansir dari Al Jazeera, Maradona dielu-elukan sebagai seorang sosialis sayap kiri anti-imperialis, yang telah mendukung gerakan-gerakan progresif.

Dia dekat mendiang pemimpin Venezuela Hugo Chavez, mendiang Presiden Kuba Fidel Castro, hingga Evo Morales dari Bolivia.

Dia pernah terlihat lebih dari satu kali menemani Chavez, mengenakan kemeja anti-George Bush. Dia dengan tidak menyesal mendukung Palestina, bahkan setelah gantung sepatu sepakbola.

Saat sang legenda berpulang, juru bicara Hamas Sami Abu Zuhri men-tweet belasungkawa kepada keluarga dan penggemar Maradona di seluruh dunia.

“Kami sangat sedih atas kematian salah satu pesepakbola terhebat, ‘Maradona’, yang dikenal atas dukungannya pada gerakan #Palestine,” tulisnya via akun Twitter-nya.

Pada 2012, Maradona menyebut dirinya sebagai ‘penggemar nomor satu rakyat Palestina’. “Saya menghormati mereka dan bersimpati dengan mereka,” katanya. “Saya mendukung Palestina tanpa ragu.”

Dua tahun kemudian 2014, selama serangan musim panas Israel di Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 3.000 warga Palestina, Maradona mengungkapkan kemarahan dan mengkritik Israel.

“Apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina sangat memalukan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Setahun kemudian, beredar kabar bahwa Maradona sedang bernegosiasi dengan Asosiasi Sepakbola Palestina mengenai kemungkinan melatih tim nasional Palestina selama Piala Asia AFC 2015.

Pada Juli 2018, dia bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pertemuan singkat di Moskow. Dia mengaku sebagai orang Palestina.

“Dalam hati, saya orang Palestina,” katanya kepada Abbas sambil memeluknya.

Pada tahun yang sama, Maradona mengungkapkan pendapatnya tentang peran AS di Suriah, yang berada di tahun ketujuh perang saudara ketika Presiden Bashar al-Assad mengkonsolidasikan kendalinya atas sebagian besar negara.

“Anda tidak perlu kuliah untuk mengetahui bahwa Amerika Serikat ingin menghapus Suriah dari keberadaannya,” katanya.

(Sumber: Detik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar