✍️Arif Wibowo
Ndengerin Fadzli Dzon bicara soal Hari Kepercayaan, menarik. Dia mengacu pada pendapat Wongsonegoro. Saya tertarik pada sosok Wongsonegoro.
Wongsonegoro ini penganut Majapahitisme. Saat sidang BPUPKI dia bilang ke Prof. Kahar Muzakkir, bahwa Jawa itu punya agamanya sendiri, bukan Islam.
Wongsonegoro juga mengimani akan bangkitnya Majapahit setelah 500 tahun kehancurannya. Jadi ada bau Darmogandhul di benaknya. Kalau mengacu 1478 harusnya di tahun 1978, ketika waktu itu kelompok kebatinan menuntutut dimasukkan dalam GBHN.
Akan tetapi, jelang kematian, dari beberapa info yang saya dapatkan, dia minta matinya diupacarakan secara Islam.
Ini pula yang terjadi pada beberapa tokoh lain. Minta diupacarakan secara Islam saat kematian.
Inilah bedanya Agama Islam dengan Kepercayaan/Kebathinan.
Agama memang bukan hanya kawruh batin dan moralitas, ia juga memiliki perangkat lengkap tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan sampai kematian.
Nah di Jawa, pelayanan kaum santri pada upara perawatan jenazah hingga ritus do’a pasca pemakaman (tahlilan) merupakan magnet dakwah yang luar biasa di masa lalu.
Sebab sebelum masuk Islam, kalau meninggal ada beberapa pilihan:
- Mayatnya dibakar, kalau yang meninggal suami, maka istri melakukan belapati dengan membakar diri hidup-hidup.
- Dilarung, dibuang ke sungai besar atau laut. Kalau di India, dalam catatan Ibnu Batutah, istrinya juga ikut ditenggelamkan hidup-hidup di sungai Gangga dengan cara tubuhnga dkikat batu besar. Nggak tahu kalau di Jawa.
- Ada juga dalam catatan Cina, dimana tubuh orang yang mati dipotong-potong untuk diumpankan pada binatang buas. jika habis dimakan keluarga senang, karena berarti rohnya diterima. Kalau tidak habis keluarga yang ditinggalkan akan menangis.
Islam datang membawa cara baru. Orang Islam kalau meninggal itu dimandikan dulu, dikafani, disholatkan kemudian dikubur. Setelah dikuburpun masih didoakan (tahlilan) oleh umat Islam.
Nah, karenanya, daripada ribut soal hukum tahlilan, bagaimana organisasi Islam, ta’mir masjid berfikir soal optimalisasi pelayanan Islam terhadap jenazah dan santunan keluarga yang ditinggalkan.
Kalau si mayit sebelumnya sudah declare tidak lagi Islam, karena jadi penghayat, ya berarti umat Islam tidak boleh ngerusuhi ikut merawat jenazah secara Islam. Biar diurus oleh kelompok padepokannya.
Nah yang dilematis, ketika keluarga yang mati minta ditahlilkan ketika ada orang kebatinan meninggal. Dilematisnya, karena keluarganya ini Islam dan masih perlu bimbingan.
_____
*Pemerintah menetapkan tanggal 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa







Sabdo Pralon ini dongeng kibul kaum kejawen
ditempat tinggal yang dulu (Bekasi), kami sepakat membuat paguyuban yang peduli bagi keluarga yang sedang berkabung. iuran perKK 20K/bln. paguyuban ini lintas agama dan lintas tradisi/budaya dan lintas suku. masing² prosesi dilakukan sesuai keyakinan jenazah oleh kelompok nya.
teknis pelaksanaan :
1. pengumuman suka via toa masjid
2. pengurus paguyuban membagi kartu duka kepada warga (via ketua RT) yang sudah tertulis nama kepala keluarga dan menghimbau agar kartu tab dibawa saat takziah (boleh diisi uang boleh juga tidak). kartu tsb akan dikembalikan ke paguyuban setelah acara selesai, dilakukan sortir, jika ada warga yang tidak takziah kami akan melakukan pendekatan secara baik².
3. karang taruna + warga menyiapkan kursi, tenda dan keperluan pengurusan jenazah.
4. keluarga duka hanya menyiapkan FC KTP untuk pengurusan pemakaman, menyambut tamu. semua keperluan keluarga, termasuk makan bagi keluarga duka disiapkan warga (maksimal 2X ).
tulisan ini dibuat untuk mengenang perjalanan hidup ketika bersama orang² yang peduli kepada orang lain yang sedang diuji, InsyaAllah bermanfaat 🙏
ini tuh simalakama spt telolet katanya bukan agama a misal tp tetap dimakamkan secara agama a