Negeri Melodrama

✍️Erizeli Jely Bandaro

Seorang teman berkata kepada saya, “Sudah saatnya Pasal 33 UUD 1945 dijalankan dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan kekayaan kita terus mengalir ke luar negeri—atau, meminjam istilah Presiden, bocor ke luar. Sumber daya alam harus digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.” Saya tersenyum.

Sejak muda, saya sudah berkali-kali mendengar kalimat seperti itu. Semangat Pasal 33 datang dan pergi seperti musim. Ketika ekonomi sedang tumbuh, ia dilupakan. Ketika keadaan memburuk, ia kembali dipanggil dari lemari sejarah, dibersihkan dari debu, lalu dikibarkan sebagai slogan. Begitulah kita. Terlalu mudah jatuh cinta kepada melodrama yang kita ciptakan sendiri.

Mengapa?

Teman, benar bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alam. Namun kekayaan yang masih tersimpan di dalam bumi belum tentu memiliki nilai ekonomi. Ia hanya berupa hamparan tanah, hutan yang lebat, batuan di perut bukit, minyak di dasar laut, dan mineral yang tidur dalam gelap.

Tanpa modal, teknologi, dan pasar, semua itu hanya indah dipandang dari kejauhan. Ia dapat dibawa ke dalam pidato dan mimpi, tetapi tidak dengan sendirinya mengenyangkan rakyat. Ia tidak otomatis menjadikan kita negara maju. Ia tidak serta-merta membangun universitas kelas dunia, laboratorium modern, industri berteknologi tinggi, ataupun armada pertahanan yang kuat. Sumber daya alam baru berubah menjadi kekayaan ketika manusia memiliki pengetahuan untuk mengolahnya.

Teman, sebagian besar modal yang menggerakkan industri sumber daya alam kita berasal dari luar negeri. Sebab kita belum memiliki cukup keberanian, kemampuan, dan visi bisnis untuk menghadapi risikonya sendiri. Pertambangan mineral, minyak dan gas, serta perkebunan skala besar bukan sekadar urusan menggali tanah atau menanam pohon. Di baliknya ada risiko geologi, harga komoditas, lingkungan, pembiayaan, teknologi, logistik, dan pasar. Risiko sebesar itu hanya dapat dikendalikan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen, dan disiplin modal.

Sayangnya, terlalu lama kita membangun negeri dengan membelakangi ilmu pengetahuan. Kita ingin hasil modern, tetapi enggan menempuh jalan modern. Kita ingin menguasai bumi, tetapi malas menguasai teknologi. Karena itu, mesin datang dari luar. Modal datang dari luar. Pengetahuan teknis datang dari luar. Bahkan pasar yang menyerap hasilnya pun sebagian besar berada di luar negeri. Pasar domestik kita belum cukup kuat untuk menjamin pengembalian modal dari proyek-proyek besar tersebut. Agar proyek dapat terus hidup, produknya harus dijual ke pasar global. Di sanalah harga ditentukan, kontrak dibuat, dan keuntungan diperebutkan.

Maka perhatikanlah baik-baik, Teman. Modal berasal dari luar. Teknologi berasal dari luar. Pasar pun berada di luar. Sementara yang kita miliki hanyalah tanah, tenaga kerja, dan mulut yang terus menganga menunggu hasil. Tentu sebagian besar nilai ekonominya akan mengalir ke luar. Bukan karena bumi kita tidak kaya, melainkan karena kita tidak memiliki cukup alat untuk mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi yang sepenuhnya kita kuasai.

Sesungguhnya kita masih miskin. Namun jargon sebagai negeri kaya terus dikumandangkan dalam setiap musim politik. Karena terlalu sering mendengarnya, kita pun lupa mengukur diri. Pendapatan kecil, tetapi keinginan belanja sangat besar. Produksi terbatas, tetapi mimpi konsumsi tidak mengenal batas. Akhirnya, kekurangan itu ditutup dengan utang. Dan utang itulah yang perlahan menjadikan kita pecundang di tanah sendiri.

Teman, apabila sebagian besar hasil sumber daya alam kita mengalir ke luar negeri, jangan selalu terburu-buru menyebut asing telah merampok kita. Kitalah yang mengundang mereka datang. Kita membutuhkan uang mereka, teknologi mereka, dan pasar mereka agar mimpi kita terlihat seperti kenyataan. Namun mimpi itu tidak pernah benar-benar bersua dengan kenyataan. Sebelum sempat menjadi kemakmuran, hasilnya sudah lebih dahulu ditelan bunga utang, cicilan pokok, biaya teknologi, pembagian keuntungan, dan ketergantungan yang terus berulang.

Itulah harga dari kelemahan kita sebagai bangsa. Ilmu pengetahuan dipunggungi. Teknologi dianggap terlalu mahal. Selera terus diperturutkan. Mimpi diperbesar. Slogan diperbanyak. Sementara kerja sunyi untuk membangun kemampuan sendiri selalu ditunda.

Sedih memang.

Namun bangsa yang menolak belajar hanya akan seperti keledai yang terus mengeluh tentang beban di punggungnya, tanpa pernah bertanya mengapa ia selalu berjalan di jalan yang sama.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. kita yang mengundang?..
    Maaf, saya berlepas diri dari kebijakan penguasa & rezim!

    Rezim sampe saat ini masih Mis-management & tdk mampu utk Mandiri hmpir dlm semua bidang!

    Pangkal utamanya sistemnya masih mendasarkan pd prinsip Kapitalisme.. Ditambah Tidak ada kemauan utk merubah scra pundamental & utk bisa mandiri di semua sektor & bidang!