Sesuatu yang ga pernah ada di Aceh di generasi kita atau diatas kita, mulai sering kita dengar, menyakitkan? Iya, tapi itulah fakta, sangat banyak sekali PR kita…
Dari postingan fb Zakasyi Oesdannur
Senin, 13 Juli 2026 | KUA Lhoksukon
Hari ini seorang pemuda datang ke kantor.
Tujuannya sederhana: minta surat rekomendasi bimbingan nikah. Karena mau menikah di luar kecamatan, maka wajib ada rekomendasi dari KUA domisili.
Sebelum surat itu saya tanda tangani, ada syarat yang tak boleh saya lewati: membimbing dulu.
Saya mulai bertanya pelan-pelan.
“Kamu mengaji?”
“Ada, Teungku.”
“Shalatnya bagaimana?”
“Ada juga.”
“Lalu ditinggal juga?”
Dia terdiam. Lalu jujur: “Lebih banyak tinggalnya, Teungku.”
Saya sodorkan Al-Qur’an. “Coba baca 3 ayat saja, untuk keberkahan.”
“Saya tidak bisa, Teungku. Sekali pun tidak.”
Saya coba lagi. “Istighfar dan shalawat seperti tahlilan di kampung, bisa?”
Geleng.
“Bacaan dari ushalli sampai tahiyat akhir?”
Geleng lagi.
Terakhir saya tanya lirih: “Jujur, Kamu shalat tidak?”
Dengan kepala menunduk ia menjawab: “Sejujurnya… saya tidak bisa shalat.”
Saya terdiam lama. Dada ini sesak.
Di luar sana, kita sering mendengar sebagian anak muda Aceh mencaci santri, merendahkan ulama. Bahkan ada yang berani mengancam “aneuk dayah” dan hendak membunuh ulama.
Tapi siapa yang peduli saat fondasi agama anak-anak kita keropos seperti ini?
Legislatif dan eksekutif seolah menganggap ini angin lalu. Kita sibuk membanggakan kehebatan indatu, tapi lupa menjaga iman anak cucu.
Surat rekomendasi itu akhirnya saya tahan. Yang sangat saya butuhkan hari ini adalah air mata dan doa.
Karena jika yang akan membangun rumah tangga saja tidak tahu cara sujud, lalu bansa Atjeh ini mau kita titipkan ke siapa?
Ya Allah, jangan biarkan kami menjadi generasi yang gagah di luar, tapi kosong di dalam.
-fb






