Saya pernah datang ke rumah seorang pejabat kejaksaan, untuk satu acara ramah tamah (bukan kerjaan). Pengundangnya teman saya, dan teman saya itu temannya si tuan rumah–alias saya sebenarnya nggak kenal dengan tuan rumah.
Rumah itu buesar dan muewaaah sekali. Saya langsung membayangkan istana Romawi. Empunya rumah menunjukkan ruang ini-itu, ngajak ambil makanan di meja dekat dapur yang entah bahannya terbuat dari marmer atau apa, pokoknya belum pernah saya lihat ada di rumah kenalan saya lainnya.
Saya tentu paham, properti sehebat itu tak mungkin dimiliki dengan jalur baik-baik saja. Pasti pake jalur tol.
Yang saya heran, orang-orang seperti itu kenapa tetap bisa dan tetap bangga memamerkan “barang dan kepemilikan” mereka, ya? Bukankah sebenarnya itu bukan milik mereka?
Maksud saya, secara nalar, orang flexing kan memamerkan kemampuan, eksistensi, yang semuanya bermuara pada validasi. Itu tujuan utama flexing. Jadi logikanya, yang diflexingkan itu prestasi, kecerdasan, karya, kualitas diri, atau kalau toh flexing harta benda ya berupa material yang merupakan output dari effort diri sendiri (sehingga dari materi itu tampak pula kekuatan diri riil dari si empunya).
Begitu kan logikanya? Atau saya keliru?
Dulu kala, waktu masa kuliah awal, saya pernah meninggalkan seorang gadis yang dekat dengan saya (ini serius). Penyebabnya, dia pernah satu kali mau dijemput lelaki lain pake mobil yang tentu saja adalah mobil bapaknya.
Saya bukan cemburu, bukan pula minder. Nggak sama sekali. Bapak saya memang gak punya mobil begituan, tapi bukan sisi itu yang jadi masalah. Yang bikin saya ilfeel adalah ada anak muda yang dengan bangga memamerkan kekayaan orangtuanya. Waktu itu, saya nggak bisa menalarnya, sehingga ke dedek yang itu pun saya jadi ilfeel pula.
Sementara, meski ekonomi ortu saya membaik, tapi sampai saya lulus dan kerja, saya gak mau dikasih ganti motor. Tetap Astrea Prima butut dengan handle jok yang sudah patah dan tutup rantai yang lepas lalu saya ikat pakai tali rafia warna biru (teman-teman saya semasa kuliah pasti ingat itu).
Bayangan saya, orang tidak akan perlu melihat saya dari kepemilikan orangtua saya.
Maka, kalo pamer harta orangtua saja sesungguhnya menjijikkan, kenapa ada orang bangga memamerkan harta yang bukan miliknya, bukan milik orangtuanya, bahkan sebenarnya sebagian dari yang dipamerkan itu adalah milik dari orang yang sedang dipameri?
Gini lho. Kalo mau pamer itu kan gini. “Nih, prestasiku. Kerja kerasku hasilnya gini.” Atau: “Nih, kerja tu gak usah keras-keras, tapi cerdas dan cerdik. Ini hasil kepintaranku.”
Nah, sementara, orang-orang macam yang saya ceritakan tadi sedang pamer: “Ini lho hasil aku maling, mari silakan masuk.” Atau: “Yah jelek-jelek gini suamiku udah menjarah uang negara lumayan, monggo lho lihat-lihat, sightseeing rumah hasil rampokan suamiku.”
Saya masih sulit menalar, titik membanggakannya di mana. Jauh lebih mendingan kalo ada orang korupsi, hasilnya ia nikmati sendiri sambil hidup enak tapi ngumpet, sementara yang ia tampilkan di depan publik adalah citra pejabat bersahaja.
Itu baru agak manuk akal.
(Iqbal Aji Daryono)







Tahun 1990 sy jg pernah diajak main ke rumah jaksa kelas bawah. Rumahnya sgt mewah, istrinya cantik jelita, TVnya jaman segitu sdh pake segede gaban 56″. Di meja tamunya tersedia makanan2 dan buah2an yg sy sendiri blm pernah makan seumur2. Jaksanya sih kliatannya baik, murah senyum dan wellcome, cuma sy jg bertanya2, kalo gaji bapak sy yg PNS golongan IIIB sj cuma cukup buat makan sehari2, rumah sederhana, motor kredit, itu jaksa duitnya dr mana ya? Makanya ada jamtikus yg punya emas batangan smp 57kg, ya sy gak heran …
di indon, kurupsi itu sudah dianggap normal, bahkan saking normalnya, menjadi salah satu hal yg paling membanggakan, semakin banyak menjarah semakin bangga dia, makanya jadi kayak ajang perlombaan buat para pelakunya.
cuma rakyat tolol aja yg mengidolakan pejabat, idolanya senang-senang cari-cari proyekan, kalian cuma misuh-misuh idup susah, goblok goblok 🤣🤣🤣
pernah juga saya ke rmh seorang jaksa….pagar rumahnya lbh mahal dari rumah saya……
itu kalau normal. namanya zaman tdk waras
bahkan bangga dengan prestasi sendiri aja udah merupakan bentuk kesalahan menyikapi. karena berhasilan dan prestasi adalah bagian dari ujian (islam). kalau dibangga-banggakan, kan artinya di unjuk-ujukkan di pamer-pamerkan!? hmhhh…
Di sini ada loh yang dengan bangga menunjukkan keabnormalanya demi 5000 /post, counter secara rasis demi membela memuja sesembahan nya.
Udah Hilang Malu, Nalar, Akal Waras, nirAdab, Iman dan Moral
Lihat aja pacar Ultah dikasih kue dirayain di Perancis dgn Biaya Negara