Saya tidak tahu siapa yang membisiki Prabowo untuk soal petani ini

Ada yang tidak beres disini. Presiden kita ini agaknya sangat obsesif dengan luar negeri. Apa-apa dia kaitkan dengan luar negeri atau asing.

Ada beberapa corak dari soal asing dan luar negeri ini dari Prabowo.

1/ Yang pertama, tentu saja pidato bahwa Indonesia “korban asing.” Anda tentu tidak asing dengan suara serak menggelegar yang sering dia ucapkan, “Hai antek-antek asing!” Barusan saja dia pidato bahwa ada negara lain yang tidak senang Indonesia maju. Indonesia negara kaya, tapi ada negara yang berusaha merampok kekayaan Indonesia habis-habisan.

Dan, tentu saja, dia tidak menunjukkan negara mana yang merampok atau yang tidak ingin Indonesia maju. Sebab apa? Karena itu akan membuat krisis diplomatik dan krisis-krisis lain yang tidak perlu.

Namun, sesungguhnya apakah ada negara yang tidak ingin Indonesia maju? Menurut logika sih sebenarnya kebanyakan negara ingin Indonesia itu makmur. Karena kalau makmur, bisa beli produk mereka. Alias, mereka bisa berdagang dengan Indonesia.

Lho bukannya itu merugikan Indonesia? Kalau negara lain menjual barangnya dan kita beli, itu artinya kita rugi kan? Lha yang namanya dagang itu kan ada timbal balik. Mereka jual, kita juga jual. Perkara bahwa kita beli mahal dan jual murah, itu kan pinter-pinternya kita dagang. Kalau kita bodo, ya kita jual murah dan beli mahal terus.

2/ Pola yang kedua adalah “kita dipuji negara luar” atau dipuji asing. Ini adalah upaya mendapat pengakuan. Ini mirip seperti bujang-bujang yang mencari afirmasi. Negara mana yang bisa membangun ribuan koperasi dalam setahun? Program MBG kita dipuji negara-negara luar.

Sama seperti “menjadi korban asing” di atas, Prabowo tidak pernah menyebutkan negara mana yang memuji atau heran dengan keberhasilan Indonesia. Entah mengapa tidak pernah disebutkan. Misalnya, saat kunjungan PM India kemarin. Kan bisa dia sebutkan pada saat konferensi pers bersama, “PM Modi kagum dengan keberhasilan program MBG kita.”

Hal seperti itu tidak pernah kita dengar. Jadi, ada kemungkinan ini cuman kebutuhan akan afirmasi — yang sebenarnya tidak pernah diberikan oleh negara-negara luar itu.

3/ Pola yang ketiga ini yang menurut saya baru dan lucu. Prabowo mengklaim bahwa petani-petani kita makin sejahtera. “Ada yang libur ke luar negeri!” katanya. Di sini saya langsung ingat Pak Giyo, petani pemilik petak sawah di sebelah kebun saya. Pak Giyo bahkan jarang sekali ke ‘negara,’ nama yang dipakai orang Jawa untuk menyebut kota. Padahal, dia berdomisili hanya sekitar 3km dari keraton!

Petani mana yang disebut oleh Prabowo ini? Petani sawit dengan kebun ribuan hektar? Atau petani jeruk dengan luasan beberapa hektar di Tanah Karo sana, yang kalau berobat pergi ke Penang karena disana pelayanan dan fasilitas lebih baik?

Saya tidak tahu siapa yang membisiki Prabowo untuk soal petani ini. Sebab sebagian besar petani Indonesia adalah mereka yang hidup subsisten — artinya cukup untuk makan. Orang subsisten itu, mengambil contoh dari James Scott, adalah orang yang terendam air hingga ke dekat hidung. Ada ombak sedikit saja, dia akan tenggelam.

Tapi semua obsesi Prabowo tentang luar negeri dan asing ini menyimpulkan satu hal: gampang sekali sebenarnya “mengakali” dan menarik hati presiden kita ini. Dia orang yang butuh afirmasi. Sebagaimana orang yang butuh afirmasi, semua kesalahan dan kegagalan itu harus ditimpakan pada pihak lain.

Sementara semua yang ia kerjakan selalu berhasil. Karena dia membutuhkan afirmasi maka itu harus dicari dari pihak asing. Negara lain memuji Indonesia. Tidak ada negara yang berhasil memberi makan 60 juta lebih anak-anak dalam waktu hanya satu setengah tahun. Setelah kasus korupsi di BGN itu, dia tidak pernah lagi omong soal ini. Mungkin kalau kasus mega-korupsi di KDMP nanti terbongkar, dia akan cari alasan lain.

Seorang pemimpin yang butuh afirmasi terus menerus tidak membutuhkan orang-orang yang berpikiran rasional, waras, cerdas, atau yang punya keahlian teknokratik. Yang dia butuhkan adalah orang-orang yang memberi afirmasi. Tidak heran kalau dia dikelilingi oleh para penjilat. Hanya penjilat yang memberinya afirmasi.

Saya kira bahkan para politisi di luar negeri tahu itu. Kalau mereka membutuhkan sesuatu dari Indonesia, mereka cukup memberikan afirmasi kepada pemimpinnya. Lemparkan sedikit puji-pujian, maka hidung si pemimpinnya akan mengembang, kepalanya mengangguk afirmatif. Segampang itu!

Namun di sisi yang lain, pemimpin yang terobsesi dengan afirmasi akan takut sekali kehilangan dukungan. Makanya, ketika anak-anak buahnya berkelahi, dia bukannya memecat mereka semua. Dia cukup berkata, “Semua kalian harus introspeksi diri!” Tidak ada hukuman. Tidak ada penggantian. Karena mereka-mereka itulah yang selama ini menjilat-jilat dengan ganasnya.

Masih ingat tumpukan uang seratusan ribu yang dipertontonkan Jampidsus dalam kaitan penertiban kawasan hutan? Itu katanya denda sekian puluh triliun yang dibayar pengusaha-pengusaha sawit. Dan tentu pemimpin besar kita ini sumringah sekali karena afirmasi atas programmnya.

Dan kita tahu, bagaimana drama ini berakhir, bukan?

(Made Supriatma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 komentar

  1. naek podium, yapping semaunya, dikasih applaus & sorakan audiens, sumringah & tersenyum bangga sambil membatin: gila keren bgt gw barusan

    1. @?.. artikelnya ga dibaca bang..!?
      ni ane ringkasin.. kali aj lg males baca..
      ☝🏻👇
      korban asing.. ga dijelasin asingnya..!?
      antek asing.. ga disebutin anteknya..!?
      dipuji negara luar.. negara yg mana..!?
      petani libur keluar negri.. petani yg cam apa..!?
      ☝🏻✌🏻