Di Tengah Hantaman Perang dan Embargo, Iran Muncul Sebagai Juara Umum Olimpiade Matematika 2026 di Shanghai

Di tengah hantaman perang dan embargo, Iran muncul sebagai juara umum olimpiade matematika di Shanghai. Mereka merebut 4 medali emas dan 2 medali perak, unggul dari 49 negara peserta lainnya.

Tim Olimpiade Matematika Nasional Iran sukses menjadi juara umum pada ajang 4th International Mathematics Competition of Shanghai (IMSC 2026) yang digelar di Beijing, China, dari tanggal 17 Juni hingga 12 Juli 2026.

Ini bukan berita baru sebenarnya. Selama beberapa tahun terakhir Iran acap menang di berbagai kompetisi sains internasional: matematika, fisika, biologi. Angka partisipasi siswanya yang ikut kompetisi sains dalam negeri saja meningkat 40% dari tahun ke tahun. Tahun ini saja, jumlah peserta naik jadi 121 ribu dari 87 rb siswa.

Apa Iran fokus di sains saja? Oh tidak. Mereka punya tradisi yang lebih tua lagi: sastra. Mereka punya kompetisi olimpiade sastra Iran yang fokus pada pengembangan sastra Persia. Ada tiga yang mereka lombakan: puisi, prosa, dan kritik sastra. Jadi visinya jauh lebih panjang dari sekadar mencari pemenang.

Tak mengherankan, sebuah negara dengan visi yang jauh ini berhasil mencapai keberhasilan yang bahkan saat ini tidak bisa disamai banyak negara.

Pasca revolusi Islam tahun 1979, Iran memang terlihat fokus di bidang pendidikan. Mereka mulai serius menggarap kehidupan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di negaranya hanya lima tahun pasca revolusi, ditandai dengan hadirnya olimpiade matematika yang kemudian ikut mengantarkan Maryam Mirzakhani sebagai penerima Fields Medal. Ia menjadi perempuan pertama yang menerima Nobelnya Matematika ini.

Apa yang membuat Iran seperti ini? Visi, ideologi.

Mereka punya tokoh yang benar-benar tokoh, yang mampu menjadi jangkar dan menetapkan arah bangsa. Tokoh-tokoh ini hidup sepenuhnya untuk melayani kepentingan umat–bukan kepentingan perutnya atau kroninya. Tokoh-tokohnya sangat kreatif–bukan dalam memanipulasi program untuk memperkaya diri pejabatnya, namun dalam menciptakan solusi akibat embargo ekonomi. Sebagai contoh, dalam perdagangan internasional mereka menggunakan strategi barter: minyak dibarter dengan pembangunan aneka fasilitas di Iran.

Jadi, jika ada yang bertanya mengapa pemakaman Ali Khamenei dihadiri dan ditangisi 15 juta orang? Lihatlah apa yang terjadi di Iran hari ini. Menurut anda, mungkinkah negara yang dicekik kiri kanan bisa menghasilkan karya-karya sastra indah, rudal canggih, dan mengantarkan warganya meraih Fields Medal tanpa visi dan ketokohan pemimpinnya? Saya kira anda sudah tahu jawabannya.

(Maya Lestari Gf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar

      1. dikucilkan karena program nuklirnya dan agenda menyebarkan revolusi syiahnya ke negara2 tetangga, mbok mikir dulu knapa alasannya, semua ada penyebabnya

    1. ga perlu, pemerintah junjungan lu juga ga peduli

      kemarin ada atlit panjat tebing dapet emas, dan terang-terangan dia bilang ga disupport negara lu ga sebut?