TankerTrackers, sebuah lembaga pemantau lalu lintas maritim, mengatakan Iran telah mengirimkan lebih dari 80 juta barel minyak mentah dan produk olahan, yang saat ini bernilai $6 miliar (Rp 108 triliun), dalam periode empat minggu terakhir.
Lonjakan ekspor yang masif ini terjadi selama periode jeda singkat setelah ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad antara Amerika Serikat dan Iran, yang sempat mencabut blokade angkatan laut.
Namun jutaan barel lagi masih menunggu keberangkatan menyusul eskalasi ketegangan baru di kawasan tersebut.
“Sekarang blokade Angkatan Laut AS diberlakukan kembali lebih dari sebulan lebih cepat dari jadwal, tampaknya sekitar 30 juta barel minyak mentah Iran masih belum berangkat,” kata kelompok pemantau tersebut.
“Namun, ada juga lebih dari 60 juta barel kapasitas penyimpanan terapung yang tersedia di dalam perimeter blokade jika Iran terpaksa mengurangi produksi minyaknya.”
Berikut adalah poin-poin penting terkait situasi pengiriman minyak Iran saat ini:
- Sisa Antrean Ekspor: Sekitar 30 milia barel minyak mentah dilaporkan gagal berangkat dan tertahan di pelabuhan atau wilayah pemuatan karena blokade Angkatan Laut AS kembali diberlakukan lebih cepat dari jadwal.
- Kapasitas Penyimpanan Cadangan: Jika produksi terpaksa dipangkas akibat blokade, Iran masih memiliki lebih dari 60 juta barel kapasitas penyimpanan terapung (floating storage) di dalam perimeter wilayahnya sebagai alat manajemen pasokan sementara.
- Kecepatan Evakuasi Kargo: Selama pemulihan blokade membayangi, Teheran sempat melakukan mobilisasi kilat dengan mengirimkan lebih dari 10 juta barel minyak hanya dalam semalam pada 8-9 Juli untuk mengamankan pendapatan sebelum akses ditutup kembali.
- Dampak Pasar: Penutupan kembali jalur logistik ini dilaporkan memicu lonjakan harga minyak mentah global, seiring langkah AS menerapkan strategi pengawasan ketat dan mengusulkan biaya keamanan bagi kapal-kapal non-Iran yang melintasi Selat Hormuz.






