Ada orang yang dikenang karena jabatan. Ada yang dikenang karena kekayaan. Ada pula yang dikenang karena keberaniannya di medan perang. Namun ada sedikit manusia yang dikenang karena ilmunya mampu menghidupkan hati manusia lintas zaman. Salah satunya adalah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki (1944–2004).
Beliau lahir di Makkah, dari keluarga ulama besar yang nasabnya bersambung kepada Rasulullah ﷺ melalui jalur Sayyidina Hasan. Sejak kecil beliau tumbuh di lingkungan yang menjadikan ilmu sebagai napas kehidupan. Rumahnya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat lahirnya para pencinta ilmu dari berbagai penjuru dunia.
Kehebatan beliau bukan hanya karena hafal banyak kitab, menguasai hadis, tafsir, fikih, usul fikih, akidah, tasawuf, sejarah, dan bahasa Arab tentunya. Yang lebih mengagumkan adalah kemampuannya menyatukan semua ilmu itu menjadi cahaya yang menenangkan. Beliau tidak menjadikan ilmu sebagai senjata untuk merendahkan orang lain, tetapi sebagai jembatan agar manusia semakin dekat kepada Allāh ﷻ.
Di tengah zaman ketika perbedaan sering berubah menjadi permusuhan, Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki justru mengajarkan keluasan dada. Beliau menjelaskan dalil dengan ketelitian seorang ahli hadis, tetapi menyampaikannya dengan kelembutan seorang ayah. Berbeda pendapat baginya bukan alasan untuk memutus persaudaraan.
Majelis beliau selalu dipenuhi penuntut ilmu dari berbagai negara. Ada yang datang dari Asia, Afrika, Eropa, hingga Nusantara. Banyak ulama Indonesia pernah duduk di hadapan beliau, menyerap ilmu, adab, dan cara memuliakan sesama. Tidak sedikit yang kemudian menjadi pengasuh pesantren, guru, mufti, dan pendakwah yang meneruskan mata rantai keilmuan beliau.
Karya-karyanya mencapai puluhan judul. Sebagian membahas akidah, hadis, sirah Nabi ﷺ, maulid, adab, hingga persoalan-persoalan yang sering diperselisihkan. Tulisannya tidak lahir untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk membuka pintu pemahaman. Itulah sebabnya kitab-kitab beliau masih dibaca hingga hari ini.
Beliau juga memberi teladan bahwa seorang ulama tidak cukup hanya alim. Ia harus tawaduk. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin banyak muridnya, semakin lembut lisannya. Kemuliaan bukan diukur dari kerasnya suara, tetapi dari luasnya kasih sayang kepada umat.
Kehebatan terbesar Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki mungkin bukan saja banyaknya kitab yang beliau tulis atau banyaknya murid yang beliau didik. Kehebatan beliau adalah kemampuannya menjaga mata air ilmu Ahlusunah wal Jamaah tetap jernih di tengah derasnya arus zaman. Beliau membuktikan bahwa mempertahankan tradisi tidak berarti menolak kemajuan, dan mencintai warisan ulama tidak berarti menutup pintu dialog.
Ulama seperti beliau mengingatkan kita bahwa ilmu tidak pernah kehilangan cahaya. Yang sering hilang adalah kerendahan hati orang yang membawanya.
Maka, mengenang Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki bukan sekadar mengingat seorang tokoh besar. Kita sedang belajar bahwa setinggi apa pun ilmu yang dimiliki, tujuan akhirnya tetap sama: membuat manusia semakin mengenal Tuhannya, semakin mencintai Rasul-Nya ﷺ, dan semakin lembut kepada sesama.
(DWYSA)







ada hubungan saudara sama kamu Li…
dia Quraisy kamu Yaman ya…
sepertinya orangnya sangat lembut ya… walaupun banyak kitabnya…
paten la kalo gitu
allahumma sholli ‘ ala sayyidina Muhammad wa ala ‘aliy sayyidina Muhammad