Oleh: AS Laksana
Dalam dunia karang-mengarang Barat, kita kenal nama Shakespeare dan James Joyce, dua penulis yang pandai memadatkan durasi kejadian dalam cerita. Dalam dunia karang-mengarang Nusantara, kita punya Prabowo Subianto.
Shakespeare memadatkan “Romeo and Juliet”, yang di naskah sumbernya berlangsung berbulan-bulan, menjadi hanya empat hari. James Joyce memadatkan perjalanan dua puluh tahun Odysseus dalam karya Homer menjadi pengalaman hidup satu hari Leopold Bloom. Prabowo, lebih canggih dibandingkan mereka, melakukan mutasi genetik dan ekonomi suatu kaum, yang di tempat lain memerlukan waktu berabad-abad, menjadi proses sederhana tiga babak dalam sepekan saja.
Babak I: Kekebalan Moneter
“Orang desa tidak pakai dolar, kok,” katanya. Jenius. Sebuah pernyataan yang dalam sekejap menjungkirbalikkan semua teori ekonomi dan mengubah orang desa dari manusia biasa menjadi makhluk-makhluk yang hidup dari fotosintesis, seperti tumbuh-tumbuhan, dan bertransaksi dengan sistem barter daun talas.
Babak II: Revolusi Telur Ayam
Meskipun orang desa hidup dari fotosintesis, Prabowo ingin mereka makan telur dan daging ayam. Ia tidak bisa melihat penduduk desa menjalani hidup mengenaskan dan terus tertinggal di wilayah prasejarah. Mereka juga harus mengenal telur ayam.
Maka dia kasih MBG ke orang-orang desa. “Yang tak setuju duduk saja diam-diam,” katanya.
Hasilnya luar biasa. Sebelum program ini, orang-orang prasejarah hanya mengenal telur dinosaurus. “Sejak MBG, orang-orang desa menjadi tahu bahwa di dunia ini ada telur dan daging ayam,” kata seorang pedagang ular.
Jadi, berkat sebutir telur, Prabowo membawa peradaban pedesaan melompat jauh dari Zaman Batu langsung ke Zaman Protein.
Babak III: Langit Cerah di Paris
Dan keajaiban sejati akhirnya tiba. Sebuah pencerahan. Prabowo baru saja mengumumkan kabar gembira: “Banyak petani yang bisa berlibur ke luar negeri. Petani kini sejahtera!”
Ini mengharukan. Pekan lalu mereka tidak kenal dolar. Dua hari lalu mereka masih berkutat dengan stunting dan kesulitan berhitung. Hari ini mereka sedang mengantre di depan Museum Louvre, berfoto di jalan-jalan kota Paris, merayakan ulang tahun di bawah Menara Eiffel. Beberapa orang tampak sedang menukar rupiah mereka dengan Euro—mereka tetap tidak pakai dolar.
Epilog
Melihat keberhasilannya sendiri, Prabowo mengepalkan tangan ke udara dan bersyukur dari lubuk hati: “Hidup Jokowiiii!”
__________________
*A.S. Laksana adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan mantan wartawan terkemuka asal Indonesia. Ia dikenal luas melalui karya-karya fiksi pendeknya yang berciri khas satir, jenaka, namun penuh dengan perenungan mendalam







Situa bangka dijadikan pemimpin jdinya pemimpi semua pake hayalan dan berhalusinasi semuanya terasa berhasil pdhl ancur
lanjut terus aja wok kadal menggonggong kafilah berlalu wkkwkww
KADAL alias KAlangan Dalam alias orang dalam, iya kan?
yapping seenaknya tanpa data, mirip gurunya