Rencana Netanyahu untuk mengubah kekalahan ini menjadi kemenangan mencakup langkah-langkah berikut:
1. Terus mendelegitimasi kerja sama apa pun dengan partai-partai Arab sebagai bentuk pengkhianatan terhadap bangsa Yahudi, sehingga gagasan mengenai pemerintahan minoritas yang melibatkan Raam dan Joint List menjadi sesuatu yang sangat tabu untuk dipertimbangkan. Strategi ini terbukti berhasil.
2. Berupaya menarik Bennett dan Liberman (kubu oposisi) ke dalam koalisi dengan cara mempertentangkan antara “memerintah bersama kelompok sayap kanan” dan “memerintah bersama pihak Arab”, serta memanfaatkan krisis keamanan untuk mencapai tujuan tersebut. Ada kemungkinan ia juga akan mendekati Eizenkot.
3. Ia tidak gentar menghadapi pemilihan umum lagi, yang akan membuatnya tetap berkuasa setidaknya hingga musim semi. Pada saat itu, antusiasme pemilih Arab diperkirakan akan mereda, jumlah warga Israel yang kembali dari luar negeri untuk memberikan suara akan berkurang, Winter tidak akan mencalonkan diri lagi, tingkat partisipasi pemilih akan menurun, dan posisinya akan menjadi lebih kuat. Hal ini memberinya daya tawar.
4. Memanfaatkan krisis keamanan—terutama kemungkinan perang dengan Iran—serta dukungan dari Trump untuk menekan Bennett, Liberman, dan Eizenkot agar bergabung atas dasar alasan “patriotik”.
Para rivalnya yang malang (kubu oposisi) sudah menyadari langkah ini, namun tidak mampu mencegahnya. Ibarat lalat yang terperangkap dalam jaring laba-laba, mereka mungkin bisa meronta, tetapi tidak akan pernah bisa meloloskan diri.
***
Pemilu Ulang Sangat Menguntungkan Netanyahu
Jika pemilu Israel mengalami kebuntuan (deadlock), pemilu ulang biasanya akan digelar sekitar 3 bulan setelah proses pembentukan pemerintahan resmi dinyatakan gagal.
Pascapemilu legislatif Knesset pada 27 Oktober 2026 yang berakhir tanpa pemenang mayoritas mutlak, berikut adalah garis waktu dan mekanisme yang menentukan kapan pemilu ulang akan digelar:
1. Proses Negosiasi Koalisi (Sekitar 2–3 Bulan)
Sebelum pemilu ulang diputuskan, hukum Israel mewajibkan upaya pembentukan pemerintahan terlebih dahulu:
- Pengumuman Hasil Resmi (4 November 2026): Komite Pemilihan Pusat akan mengonfirmasi hasil akhir pemilu.
- Mandat Presiden (Pertengahan November 2026): Presiden Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan partai-partai dan memberikan mandat kepada salah satu calon perdana menteri (seperti Benjamin Netanyahu atau rivalnya, Gadi Eisenkot) untuk membentuk koalisi.
- Batas Waktu Negosiasi: Kandidat pertama diberi waktu hingga 42 hari (6 minggu). Jika gagal, Presiden bisa menunjuk kandidat lain yang diberi waktu 28 hari (4 minggu). Jika masih buntu, Knesset diberi waktu 21 hari agar mayoritas anggota mengajukan satu nama.
2. Kapan Pemilu Ulang Digelar?
Jika seluruh jendela waktu di atas habis (total sekitar 70 hingga 90 hari) dan tidak ada satu pun kandidat yang berhasil mengumpulkan dukungan 61 dari 120 kursi Knesset:
- Knesset Otomatis Bubar: Parlemen akan membubarkan diri demi hukum.
- Waktu Pelaksanaan: Menurut undang-undang pemilu Israel, pemilu ulang harus dilaksanakan pada hari Selasa terakhir sebelum genap 90 hari (3 bulan) sejak pembubaran Knesset.
Secara kalkulasi waktu, jika proses pembentukan koalisi pascapemilu Oktober 2026 ini menemui jalan buntu total hingga akhir Januari atau Februari 2027, pemilu ulang diperkirakan baru akan digelar sekitar Mei atau Juni 2027. Selama masa kebuntuan ini, perdana menteri petahana (NETANYAHU) akan tetap menjabat sebagai kepala pemerintahan sementara (caretaker government).







