
Joseph Clay Kent (Joe Kent) mantan Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional Amerika Serikat (NCTC) yang mengundurkan diri karena tidak setuju dengan perang Iran, mengatakan di X terkait perkembangan terbaru perang Iran yang kini meluas di Yaman dimana kelompok Houthi yang didukung Iran mengalami kemajuan pesat merebut wilayah-wilayah strategis.
Berikut pernyataan Joe Kent:
Kemajuan pesat kelompok Houthi hanyalah permulaan dari dampak balik (blowback) yang akan kita hadapi akibat kebijakan kontraproduktif kita di Timur Tengah dan perang yang tidak masuk akal melawan Iran ini.
Kemampuan Houthi dalam merebut wilayah kunci dan pelabuhan strategis di sepanjang pesisir Laut Merah tidak hanya menunjukkan kapabilitas militer mereka, tetapi juga kemampuan mereka menggalang dukungan dari berbagai suku yang berada jauh dari basis tradisional Houthi di Yaman utara.
Hal ini sangat signifikan—suku-suku tersebut mayoritas bermazhab Sunni, sedangkan kelompok Houthi adalah Syiah Zaidiyah.
Yaman adalah wilayah yang kental dengan budaya kesukuan; kesepakatan antarpihak yang bersaing sering kali dibuat sebelum atau selama pertempuran berlangsung, dan aliansi-aliansi tersebut pun sering kali tidak jelas atau samar.
Namun kini, Houthi bertempur bersama Iran sebagai bagian dari “poros perlawanan” (axis of resistance) melawan Arab Saudi, AS, dan Israel. Hal ini memberi mereka dukungan rakyat yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar kesepakatan suku atau kemenangan militer—bukan karena rakyat Yaman mendukung atau terlalu peduli pada pihak Iran, melainkan karena di masa konflik, orang cenderung kembali ke identitas kesukuan mereka. Itu adalah sifat dasar manusia.
Rakyat Yaman telah menyaksikan apa yang dilakukan pihak Saudi—dengan dukungan AS—terhadap rakyat mereka, serta apa yang dilakukan pihak Israel—juga dengan dukungan AS—terhadap rakyat Gaza; mereka juga melihat bagaimana Iran melakukan perlawanan setelah diserang oleh AS dan Israel. Kini, mereka bersatu melawan musuh bersama untuk melakukan perlawanan balik.
Perang AS melawan Iran dan dukungan simultan terhadap perang Saudi di Yaman, ditambah dengan dukungan pemerintah kita terhadap genosida Israel di Gaza, telah memberikan dorongan luar biasa bagi Revolusi Islam Iran yang dampaknya meluas jauh melampaui batas negara Iran.
Seiring berlarut-larutnya perang kita melawan Iran, kita akan melihat lebih banyak kejadian serupa, terutama di Irak, Lebanon, dan kemungkinan besar di Bahrain.
Kebijakan dan intervensi kita di luar negeri justru memicu radikalisasi, yang pada gilirannya akan menginspirasi aksi terorisme sebagai dampak balik (blowback) di dalam negeri AS sendiri. Ini adalah situasi destruktif yang merugikan diri sendiri (AS)—ibarat menjilati es krim yang justru menghabiskan diri sendiri—dan hal ini akan menyebabkan lebih banyak korban jiwa.
Presiden Trump dan para penasihatnya sebenarnya memahami hal ini dengan baik, serta tahu bahwa mengakhiri keterlibatan kita dalam konflik luar negeri saat ini adalah demi kepentingan terbaik rakyat Amerika. Pertanyaannya adalah, apakah mereka memiliki keberanian moral untuk melakukannya?








tuh baca Tong… tindakan ASu yg selalu intervensi itulah yg memicu radikalisasi
saud laknatullah telah bersekongkol dgn zionis Asu mengkhianati umat islam dgn melakukan kejahatan kemanusiaan di yaman semata2x demi menjaga pengaruh dan kepentinganya meskipun mengorbankan umat islam dan yg dangat mengherankannya masih byk wahaboy2x tolol yg menciptakan narasi2x konyol sebagai pembenaran agresi saud laknatullah, kebanyakan makan taik bin salman kelen semua pendukungnya