Kolonel Ibrahim Zahedi al-Faqari… juru bicara militer untuk markas pusat Iran ‘Khātam al-Anbiyā’, adalah seorang pria muda yang berada di dekade keempat kehidupannya, berpangkat kolonel, dan fasih dalam 4 bahasa: Persia, Arab, Inggris, dan Ibrani.
Memiliki latar belakang akademik yang luar biasa: Sarjana Matematika + Magister dan Doktor dalam Filsafat Barat + seorang penghafal Al-Qur’an.
Ketika para pemimpin besar dibunuh dalam satu hari, dan banyak yang mengatakan bahwa Iran telah selesai… telah runtuh, dialah yang mewujudkan suara ketahanan, dengan menyatakan: “Perang ditentukan di medan pertempuran, bukan di media sosial.”
Dalam waktu satu minggu, ia bertransformasi dari juru bicara militer menjadi fenomena media di Timur Tengah, yang sebelumnya tidak dikenal oleh siapa pun.
Ia memadukan kebijaksanaan filosofis dengan ketajaman militer, berbicara dalam bahasa musuh-musuhnya dengan keteguhan seorang penantang, yang memungkinkannya memimpin pertempuran deterensi tanpa ragu.
Di saat semua orang mengantisipasi kehancuran, pemuda ini menghadirkan model kepemimpinan yang ditempa dalam krisis, bukan dalam masa kemakmuran.
Pemuda ini menunjukkan bahwa sebuah pertempuran tidak ditentukan oleh terbunuhnya sebuah simbol, melainkan oleh munculnya simbol baru dari abu kehancuran.
Amerika dan Barat pada umumnya menghormati kekuatan sejati… dan pria ini mewujudkannya pada saat-saat paling lemah.
Pemuda ini, al-Faqari, bukan sekadar figur Persia mitologis yang luar biasa, tetapi juga sebuah model dan teladan bagi bangsa-bangsa dan negara-negara yang sedang lahir di kawasan tersebut, dari Timur hingga Barat, dan dari Barat hingga Timur.
@nawalalgiber_77







Bayangin Gaes, cuma seorang JUBIR MABES tapi S1 S2 dan S3 nya bukan KALENG-KALENG. Menguasai 4 bahasa dunia pula (bukan bhs daerah ya). Sementara di konoha, ijazah SMP SMA VICE PRESIDENT-nya saja di pertanyakan keasliannya. Mau taruh dimana muka kita sebagai orang konoha, Gaes ???