Oleh: M Maki
Untuk mas Ulil Abshar Abdalla,
Saya ingin mendefinisikan ulang kejadian malam itu sebagai bentuk bullying, bukan sekadar kekhilafan atau lelucon spontan yang jenengan sebut gak ada niat buruk. Saya coba jelaskan bertahap secara psikologi sederhana, kenapa banyak dari kami sangat gak terima dengan pembelaan jenengan.
Pertama, soal niat dan unsur kesengajaan.
Dalam psikologi perilaku, bullying itu jarang terjadi secara kebetulan. Kejadian di panggung Sounds Project itu jelas skenario yang terstruktur. Seorang masuk ke bot memegang mikrofon, dan melontarkan tantangan hafalan Surat Ad-Duha dengan hadiah minuman keras di hadapan puluhan orang, direkam di beberapa sudut dan di sebar. Itu bukan salah ucap atau spontanitas belaka. Mereka sadar penuh bahwa Al-Quran itu sakral dan minuman keras itu haram bagi umat Islam. Benturan simbolik itu sengaja diciptakan demi sensasi dan viralitas di media sosial. Unsur intentional di sini sudah sangat kentara dan itu adalah fondasi pertama dari perilaku perundungan.
Kedua, soal adanya korban yang terluka secara psikologis.
Jenengan pasti membaca sendiri komentar netizen yang marah, sedih karena merasa agamanya dijadikan bahan tontonan murahan. Perasaan sakral jutaan umat diinjak-injak di ruang publik dan itu dampaknya nyata secara emosional. Dalam psikologi, kondisi ini disebut sebagai psychological assault atau serangan psikologis massal. Korbannya bukan satu atau dua orang, melainkan seluruh komunitas Muslim yang menyaksikan kejadian itu dan merasa terhina. Dampak psikologis ini tidak bisa diremehkan hanya karena jenengan menganggap pelaku tidak berniat jahat.
Ketiga, soal ketidak seimbangan kekuasaan atau power imbalance.
Pelaku perundungan biasanya memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dari korbannya. Panitia dan korporasi memiliki panggung besar, pengeras suara, akses media, dan dana melimpah untuk mengatur narasi acara. Sementara itu, umat Islam yang tersakiti posisinya sangat lemah di situ dan hanya bisa menyaksikan dari layar ponsel.
Nah, sekarang kita kaitkan dengan pernyataan jenengan tentang khilaf dan tanpa niat buruk.
Dengan segala hormat, pembelaan jenengan itu justru yang membuat publik makin kecewa berat.
Secara psikologis, ketika jenengan memberikan pembelaan semacam itu, jenengan secara tidak sadar berposisi sebagai enabler atau pemberi izin moral kepada pelaku. Pelaku dan korporasi akan merasa aman dan nyaman karena ada tokoh besar seperti jenengan yang memaklumi perbuatan mereka. Mereka pun merasa bahwa apa yang dilakukan tidak salah dan bisa diulangi di masa depan dengan dalih yang sama. Ini yang dinamakan moral licensing, di mana seseorang merasa mendapat lisensi moral untuk berbuat karena ada pihak berwenang yang membelanya. Jenengan bukan melindungi umat yang menjadi korban, tetapi justru melindungi pelaku yang jelas-jelas sudah melukai perasaan jutaan orang.
Coba jenengan renungkan secara jernih.
Dalam psikologi humor, canda yang sehat dan tidak mencederai adalah canda yang membuat semua pihak tertawa bersama. Di sini, coba jenengan hitung adakah satu pun umat Muslim yang tertawa mendengar hafalan Alquran dikaitkan dengan hadiah minuman keras?? Tidak ada satu pun yang tertawa dan yang ada hanya sakit hati serta kemarahan yang meluap. Jadi, itu bukan komedi atau lelucon biasa, melainkan candaan kekuasaan dari pihak yang dominan untuk mempermainkan simbol paling sakral milik pihak yang lemah.
Saya tahu niat jenengan mungkin sangat baik dan ingin meredam amarah publik agar tidak berujung anarkis. Saya paham betul pertimbangan jenengan sebagai tokoh yang mengayomi. Namun, cara jenengan menyampaikan itu keliru secara psikologi sosial karena alih-alih menenangkan massa, pembelaan itu justru memicu kekecewaan yang lebih dalam dan mendorong publik kehilangan kepercayaan kepada tokoh agama. Masyarakat saat ini butuh ketegasan dan keberpihakan kepada korban, bukan pembelaan berlebihan kepada pihak yang terbukti melakukan kesalahan berat.
SS berikut sebagai contoh “pola berulang”:









pembelaan tokoh jil ini membuat penista agama merasa tenang
Giliran ketum ormasnya di senggol langsung NGAMUK, manusia otak anjing
kalo ngebahas soal penistaan sikapnya lunak, tp kalo ormasnya disenggol ngamuk. persis ama termul & terwo, ngtain org lain mabuk agama tp kalo bosnya disenggol tantrum seketika
yang ngomong bibirnya sumbing ya begitu jadinya…
“khilaf, ga punya niat buruk”, kerna yg trlibat dlm acara trsebut smuanya “ga pernah skolah”..!!
gitu mungkin maksudnya..!! 😂😂😂
Dibayar berapa luh lil sumbing ni congor liberal yg nongkrong di nu
Kayanya setiap tongkrongan pasti ada toksiknya ky yg dimari macam aris af ngentot vernandes
amernya OT emang terdabest, ga ada obat 👍
pengasuh pondok banyak kasusnya pencabulan afakah khilaf juga
ulil..gak penting,,dia emang harus bersikap seperti itu,,, sudah jelas posisi dia ada dimana..
knp ada org kyk gini sih di NU, klo urusan ormas garang, urusan agama munafik