Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, yang baru saja ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi atau Supreme National Security Council (SNSC) Iran, secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali bagi pelayaran internasional kecuali jika Washington mengubah perilakunya dan menerima seluruh persyaratan yang diajukan Teheran, termasuk penghentian perang di Gaza dan Lebanon.
Pernyataan keras Rezaei tersebut disampaikan secara resmi saat bertemu dengan Duta Besar Tiongkok untuk Iran, Cong Peiwu, pada hari Selasa (11/8/2026) serta dipertegas melalui unggahan langsung di media sosial. Persyaratan utama yang ditekankan meliputi:
- Penghentian Perang & Blokade: AS harus menyudahi operasi militer, agresi, serta blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Pencairan Aset Negara: Pengembalian tanpa syarat atas dana dan aset-aset rakyat Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri oleh Washington.
- Gencatan Senjata Regional: Diakhirinya konflik bersenjata secara menyeluruh di Timur Tengah, secara spesifik mencakup penghentian perang di Jalur Gaza dan Lebanon.
Melalui laporan media internasional seperti Al Jazeera dan The Straits Times, langkah Rezaei ini dianggap mengunci posisi tawar Iran di register tertinggi. Iran dengan sengaja mengaitkan isu operasional Selat Hormuz langsung dengan stabilitas politik regional secara luas, bukan sekadar menjadikannya masalah teknis navigasi maritim biasa.
Di sisi lain, perundingan bilateral yang sempat dijajaki Iran bersama Oman mengenai koridor jalur pelayaran alternatif dipastikan Rezaei berjalan terpisah dan tidak akan memengaruhi keputusan penutupan selat sebelum AS mengabulkan tuntutan-tuntutan di atas.
Pengangkatan Mayor Jenderal Mohsen Rezaei
Iran menunjuk Mohsen Rezaei sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi atau Supreme National Security Council (SNSC).
Pengangkatan ini memperkuat posisi tokoh garis keras yang memiliki hubungan dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di tengah konflik Iran dengan Amerika Serikat yang telah berlangsung lebih dari lima bulan.
Seperti dikutip Reuters, Rezaei yang berusia 71 tahun menggantikan Mohammad Baqer Zolqadr sebagai sekretaris SNSC. Dewan tersebut berperan mengoordinasikan kebijakan keamanan dan luar negeri Iran. Sementara itu, Zolqadr ditunjuk sebagai penasihat politik Khamenei.
Pimpin Garda Revolusi Sejak Usia 27 tahun
Rezaei bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) tidak lama setelah Revolusi Islam 1979. Pada 1981, ia dipercaya menjadi komandan IRGC saat berusia 27 tahun.
Ia memimpin IRGC selama 16 tahun, termasuk hampir sepanjang perang Iran-Irak pada 1980-1988. Selama periode tersebut, Rezaei mengawasi pengembangan kemampuan pasukan darat, laut, dan udara IRGC.
Rezaei merupakan bagian dari generasi komandan IRGC yang muncul dari gerakan bawah tanah revolusioner dan kemudian menduduki posisi penting dalam aparat keamanan Iran.
Setelah meninggalkan posisi sebagai komandan IRGC, Rezaei tetap menjadi tokoh penting dalam politik dan keamanan Iran.
Rezaei meraih gelar doktor ekonomi dari University of Tehran.
Dekat dengan Mojtaba Khamenei
Pada Maret, Rezaei ditunjuk sebagai penasihat militer Khamenei setelah Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada awal perang Iran-Israel yang didukung Amerika Serikat.
Selama perang, Rezaei beberapa kali menyampaikan pernyataan publik yang menunjukkan sikap skeptis terhadap negosiasi dan mengancam Amerika Serikat.
Pada April, Rezaei mengatakan akan “bagus” jika Amerika Serikat melancarkan invasi darat ke Iran karena Iran dapat menangkap ribuan tentara AS sebagai sandera dan meminta tebusan.
“Saya sama sekali tidak setuju untuk memperpanjang gencatan senjata, dan ini adalah pandangan pribadi,” katanya saat itu.
Pada Juni, sebelum Iran menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang pada 17 Juni, Rezaei mengatakan kesepakatan tersebut masih memiliki sejumlah hal yang perlu diperjelas.
Pada 27 Juni, ia menuduh Washington melanggar kesepakatan tersebut dengan menciptakan ketegangan di Selat Hormuz.
Kedekatan Rezaei dengan Mojtaba Khamenei kembali terlihat ketika Pemimpin Tertinggi Iran tersebut pada Minggu menunjuk Rezaei sebagai perwakilannya di SNSC. Dalam keputusan tersebut, Khamenei menyebut “valuable experience” Rezaei, termasuk pengalaman panjangnya di militer.
Sumber:






