Hubungan Israel yang pernah dimiliki IPB
Oleh: Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat
Di dalam sebuah rumah kaca di Bogor, seorang mahasiswa Indonesia menyaksikan seorang insinyur Israel menjelaskan cara membuat air meresap ke dalam tanah, tetes demi tetes.
Tak seorang pun di ruangan itu terpikir untuk bertanya dari mana teknologi—atau sang ahli—itu berasal, ataupun apa maknanya mempelajari irigasi dari perusahaan yang didirikan di atas lahan yang diambil dari pihak lain.

Selama bertahun-tahun, celah buta yang tak disadari itu ada di sebagian lingkungan IPB, perguruan tinggi pertanian terkemuka di Indonesia. Situasi itu tiba-tiba dan secara sengaja diakhiri pada tahun 2025.
Pada bulan Mei 2022, para mahasiswa di kampus vokasi IPB di Bogor berkumpul untuk mempelajari rumah kaca—bangunan berlapis kaca atau plastik yang digunakan petani untuk menanam tanaman dalam lingkungan yang terkendali.
Salah satu pembicaranya adalah Dr. Orian Shalev, seorang ahli pertanian yang didatangkan langsung dari kantor pusat Netafim di Israel.
Netafim adalah perusahaan multinasional asal Israel yang menjadi pemimpin global dan pelopor dalam bidang sistem irigasi tetes (drip irrigation) serta irigasi presisi. Didirikan pada tahun 1965 di Gurun Negev, perusahaan ini menyediakan solusi pengairan dan pemupukan yang efisien langsung ke akar tanaman.

Sambil berdiri di samping staf dari cabang Netafim di Indonesia, Dr. Shalev memamerkan teknologi yang disebut perusahaan tersebut sebagai “Rumah Kaca Generasi 4.0″—perangkat rumah kaca yang lebih baru dan lebih otomatis.
Sekolah Vokasi IPB menyebut acara tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap upaya Rektor saat itu, Arif Satria, dalam mendorong metode pertanian yang lebih maju. Sekilas, acara itu tampak seperti diskusi kampus biasa, jenis kegiatan yang jarang masuk dalam pemberitaan lokal.
Manajer komersial Netafim untuk Indonesia (Alghienka Defaosandi) sendiri merupakan lulusan IPB. Kala itu, ia menggambarkan universitas tersebut sebagai mitra lama, seraya menyebutkan bahwa kedua belah pihak telah menyelesaikan “beberapa proyek bersama.”


Namun, jika dicermati lebih dalam, hubungan tersebut ternyata jauh melampaui sekadar satu sesi kuliah hari Sabtu.
Saat itu, Netafim Indonesia telah membangun dua rumah kaca untuk Sekolah Vokasi IPB: satu di Bogor dan satu lagi di kota Sukabumi yang tak jauh dari situ.
Hingga tahun 2022, perusahaan tersebut menyatakan telah memasang sistem irigasi di lahan pertanian terbuka seluas sekitar 16.000 hektare di seluruh Indonesia, ditambah proyek rumah kaca seluas kurang lebih 50 hektare.
Dilihat dari sudut pandang tersebut, seminar di Bogor itu tidak tampak sekadar sebagai acara sekali jalan, melainkan lebih menyerupai pembaruan informasi publik mengenai hubungan bisnis yang sedang berjalan—hubungan di mana peralatan buatan perusahaan Israel digunakan di sebuah lahan pertanian aktif untuk melatih mahasiswa pertanian Indonesia, tanpa menimbulkan pertanyaan apa pun.
Kasus rumah kaca itu bukanlah satu-satunya kejadian. Ada pula kerja sama kedua yang sudah terjalin lebih lama, yang berkaitan dengan penelitian kesehatan hewan, bukan peralatan pertanian. Bertahun-tahun sebelum seminar mengenai rumah kaca itu digelar, Fakultas Kedokteran Hewan IPB telah berpartisipasi dalam studi bersama dengan Kimron Veterinary Institute milik Israel, sebuah laboratorium kesehatan hewan yang dikelola pemerintah di kota Bet Dagan, Israel.
Studi tersebut memantau penyebaran Newcastle Disease—virus yang dapat mematikan banyak ayam—di seluruh Asia dan Timur Tengah. Topik ini penting karena peternakan ayam, mulai dari skala kecil di pekarangan rumah hingga operasi komersial berskala besar, merupakan bagian utama dari ekonomi pedesaan Indonesia.
Studi yang telah dipublikasikan itu mencantumkan institusi asal para penulisnya; “Faculty of Veterinary Medicine-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia” tertulis tepat beberapa baris di atas “Kimron Veterinary Institute, Bet Dagan, Israel.” Kedua nama itu tercantum berdampingan layaknya rekan penulis biasa dalam sebuah makalah ilmiah, seolah-olah tidak ada hal istimewa dari kemitraan tersebut yang perlu dijelaskan. Sebuah makalah kedua yang terkait dengan virus yang sama juga mencantumkan para peneliti dari kedua institusi tersebut secara bersamaan.
Tidak ada kedutaan besar maupun instansi pemerintah yang memberikan persetujuan resmi untuk kedua studi tersebut. Kerja sama itu berlangsung sebagaimana lazimnya penelitian ilmiah: sampel dan data dipertukarkan secara langsung antar-laboratorium, tanpa ada pihak di luar tim peneliti yang turut campur atau mempertimbangkan apakah kerja sama itu patut dilakukan.
Jika dilihat secara keseluruhan, berbagai peristiwa ini menunjukkan adanya pola yang mudah terlewatkan. Indonesia tidak pernah menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Israel, dan pemerintahnya selama berpuluh-puluh tahun menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Namun, selama bertahun-tahun, berbagai kegiatan akademis—mulai dari seminar hingga makalah penelitian bersama—tetap berjalan. Kegiatan-kegiatan ini dianggap sebagai urusan sains atau bisnis biasa yang seolah terpisah dari kebijakan resmi pemerintah tersebut.
Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang mengalami hal ini. Universitas, perusahaan, dan organisasi budaya di banyak negara tetap menjalin hubungan kerja dengan institusi-institusi Israel, bahkan ketika pemerintah mereka mengeluarkan pernyataan publik yang mengkritik tindakan pemerintah Israel, termasuk perang di Gaza.
Setiap seminar, setiap makalah yang ditulis bersama, dan setiap kesepakatan bisnis yang dilakukan secara diam-diam turut memberikan kesan normal pada hubungan tersebut—terlepas dari apakah pihak-pihak yang terlibat memang bermaksud demikian atau tidak.
IPB akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memberikan kesan kenormalan tersebut dan mengambil tindakan nyata.
Keputusan itu disampaikan melalui pemberitahuan internal—yang dalam istilah institusi di Indonesia disebut sebagai surat edaran—yaitu instruksi tertulis yang ditujukan kepada seluruh anggota organisasi. Surat Edaran nomor 45928/IT3/PK.02.01/M/B/2025 diterbitkan pada 15 September 2025 dan ditandatangani oleh Rektor saat itu, Arif Satria.
Surat edaran tersebut memerintahkan seluruh civitas akademika IPB—baik staf pengajar, mahasiswa, maupun peneliti—untuk menghentikan segala bentuk kerja sama resmi dengan pihak mana pun yang memiliki keterkaitan dengan Israel, terhitung sejak saat itu juga. Tidak ada lagi seminar bersama, konferensi, proyek penelitian gabungan, ataupun program pertukaran, baik yang melibatkan hubungan langsung maupun tidak langsung dengan pihak Israel. Siapa pun yang menyelenggarakan acara universitas kini diwajibkan untuk memastikan terlebih dahulu bahwa tidak ada institusi atau individu asal Israel yang terlibat. Surat tersebut menjelaskan bahwa keputusan ini diambil sebagai bentuk solidaritas terhadap kemerdekaan Palestina, sejalan dengan sikap resmi pemerintah Indonesia.
Satu pemberitahuan itu secara langsung menghentikan jenis kegiatan yang disebutkan sebelumnya, seperti tenaga ahli dari perusahaan asing yang mengajar di rumah kaca IPB, atau nama lembaga penelitian asing yang tercantum bersanding dengan nama IPB dalam sebuah studi yang dipublikasikan.
Hubungan-hubungan tersebut nyata adanya, dan hingga September 2025, tidak ada seorang pun di universitas yang menganggapnya sebagai masalah yang perlu ditangani.
Namun, sejak adanya surat edaran tersebut, hal-hal itu kini menjadi bagian dari masa lalu IPB, bukan lagi bagian dari masa kini.
Hal ini meninggalkan sebuah pengingat yang lebih luas. Hubungan semacam itu bisa saja terjalin secara diam-diam di universitas mana pun, sering kali tanpa diketahui oleh pihak di luar departemen terkait. Kampus-kampus lain di Indonesia mungkin perlu mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang akhirnya diajukan oleh IPB: apakah seorang pembicara tamu, mitra penelitian, atau perusahaan sponsor memiliki keterkaitan dengan Israel, dan apakah hal tersebut selaras dengan sikap resmi negara.
Sumber: MEMO
__________________
CATATAN: Link berita di situs IPB terkait kerjasama dengan Israel sekarang sudah “404” konten dihapus, tapi linknya masih ada
berita di ANTARA masih ada:
Seminar “greenhouse” dan irigasi presisi digelar di Kampus Vokasi IPB







bravo rektor IPB..ini baru macan asia👍👍
ilmu dan teknologi itu ya netral mau dari negara mana aja GK masalah yg penting bermanfaat utk publik, paham drun?
menjadi pembelajaran bagi kemenhan, yang dilakukan G to G untuk melakukan komitmen membantu kemerdekaan Palestina sesuai Preambul UUD ’45. MERDEKA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩
IPTEK emang netral yg koplak orangnya 🤣🤣🤣😜😜
Alhamdulillah akhirnya Rektor sadar untuk menghentukan kerjasama dgbKAUM TUKANG JAGAL saudara2 kita di PALESTINA….
terimakasih pak Rektor IPB Arif Satria, semoga kampus & instansi lain menyusul apa yg di lakukan IPB