Tepat setahun yang lalu rakyat Pati memulai demo massa besar yang menasional. Tapi Pati setahun kemudian… ya begini begini aja

✍️Nia Perdhani

Tepat setahun lalu 13 Agustus 2025, gerakan Unjuk Rasa Pati 2025 pecah menjadi salah satu demonstrasi massa terbesar dalam sejarah daerah tersebut. Aksi yang dimotori oleh ribuan warga dan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) ini berhasil menarik perhatian nasional karena eskalasinya yang masif. Aksi protes kemudian merembet ke daerah-daerah lain di seluruh penjuru negeri.

Tapi Pati setahun kemudian, dalam kacamata saya, ya gambaran asli kultur, karakter, tingkat pendidikan, dan cara berpikir masyarakat kebanyakan negeri ini. Pentolan-pentolan massanya gelut sendiri, jalan sendiri, pengikutnya saling caci di linimasa. Bahkan ada yang trus ketahuan ternyata ada gila-gilanya 😒.

Kepala daerah yang sudah dicokok KPK pun masih buanyak yang bela. Suap pemilihan perangkat desa dianggap buka dosa tapi hal biasa. Pimpinan yang berusaha melarang sound horeg malah dilempari aqua. Orang bilang sound horeg mengganggu telinga, tapi nyatanya lebih rela bayar iuran sound horeg daripada bayar tarikan-tarikan di sekolah anaknya 😅.

Saya pribadi masih meyakini, pendidikan yang murah dan berkualitas adalah satu-satunya harapan perubahan. Karena yang digarap adalah generasi muda, calon orang dewasa yang akan menggantikan manusia-manusia konyol yang sekarang mengisi penuh negeri ini.

Tapi bagaimana mau ada pendidikan yang murah dan berkualitas kalau uang negara terus saja dihabiskan untuk aneka proyek pengadaan ngga jelas macam embege, kopdes, bikin batalyon-batalyon, sekalinya mikirin sekolah malah cetak ulang buku ajar. Ngapain buang-buang duit? Guru-gurunya aja lebih suka pake elkaes boss 😅.

Dahlah ya. Di bulan Maulud ini yang muslim banyak-banyak shalawat aja. Barangkali setidaknya diijabah betul ketemu kanjeng nabi di akhirat nanti karena sudah selalu tabah jadi WNI 😅.

Shollu ‘alan Nabi….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. kaum bebal penggemar sound horeg ini makin lama makin toksik. udah rahasia umum, iuran buat nyewa sound itu dasarnya paksaan bukan sukarela, tiap KK bisa ditagih 200ribu cuma utk dengar bunyi-bunyian yg bikin kuping pekak. mereka tau kalau iuran cuma ditarik dari penggemar ga bakal cukup, makanya mereka main paksa