Dialah sosok yang jika bukan karena perannya, niscaya Ghazan (cucu Hulagu Khan) akan menyerahkan Baitul Maqdis kepada sekutu Tentara Salibnya!
Dialah pria yang dengan pemikiran dan tekadnya membangun benteng kokoh yang menghalangi penyerahan Baitul Maqdis kepada sekutu Ghazan.
Di saat umat Islam melarikan diri ke Mesir dan Karak, kota-kota Islam di Syam berjatuhan di bawah injakan bangsa Mongol, wanita dan anak-anak Muslim berada dalam genggaman tentara Mongol, serta tentara Mamluk sedang dalam kondisi kekacauan yang nyata.
Di tengah keputusasaan dan kelemahan ini, muncullah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M) untuk mengubah jalannya sejarah.
Hanya dengan keberanian dan iman yang teguh, seorang Ibnu Taimiyah mampu menghentikan sendirian laju invasi Mongol ke dunia Islam.
Pada saat itu, orang-orang tidak memiliki pilihan selain melarikan diri.
Bahkan Khalifah Abbasiyah, Al-Mustakfi Billah, dan Sultan Mesir, Muhammad bin Qalawun, dilanda ketakutan yang luar biasa.
Mereka mengamati langit dengan cemas, menunggu kapan pun tentara Mongol akan memasuki Kairo. Para wanita dan anak-anak di Mesir diungsikan ke gunung-gunung dan bersembunyi di gua-gua. Para tetua berdoa dalam diam, memohon rahmat Allah dari nasib buruk ini, sementara suara-suara yang menyerukan penyerahan negara karena ketidakmampuan melawan penjajah semakin kencang.
Di saat genting inilah Ibnu Taimiyah, sang ulama agung yang tidak mengenal rasa putus asa, berdiri teguh. Ia menguatkan hati Gubernur Syam dan para prajuritnya, serta menjanjikan kemenangan atas Tatar (Mongol). Gubernur dan para amir (pemimpin militer) memintanya ke Mesir untuk mendesak Sultan agar datang membantu. Maka berangkatlah ia ke Mesir.
Di Mesir, Ibnu Taimiyah mendapati Sultan Al-Nashir bin Qalawun dalam keadaan ketakutan. Ia berdiri di hadapan Sultan dan berkata:
“Wahai Sultan, jika seandainya Anda bukan penguasa Syam maupun rajanya, lalu penduduknya meminta pertolongan Anda, maka wajib bagi Anda untuk menolong mereka. Lantas bagaimana jadinya jika Anda adalah penguasa dan sultan mereka, sedangkan mereka adalah rakyat Anda yang akan Anda pertanggungjawabkan?”
Kata-kata Ibnu Taimiyah mulai mengalirkan semangat ke dalam hati Sultan, hingga rasa takut yang melanda sirna. Ia terus membakar semangat Sultan dan rakyat untuk berjihad melawan Tatar. Akhirnya, bala tentara keluar dari Mesir menuju Syam, dan rakyat pun menyambut mereka dengan penuh sukacita.
Ibnu Taimiyah bersumpah di hadapan para amir dan rakyat: “Demi Allah, sesungguhnya kalian dalam serangan kali ini akan menang.” Para amir berkata kepadanya: “Katakanlah Insya Allah.” Ia menjawab: “Insya Allah sebagai kepastian (tahqiqan), bukan sekadar penggantungan harapan (ta’liqan).”
Pada masa itu, intelijen Tatar menyebarkan fatwa di tengah masyarakat tentang tidak bolehnya memerangi bangsa Tatar karena kali ini mereka menampakkan diri sebagai pemeluk Islam. Ibnu Taimiyah lantas berkata kepada orang-orang untuk menghilangkan keraguan memerangi Tatar:
“Jika pun kalian melihatku berada di pihak mereka (Tatar) dengan mushaf di atas kepalaku, maka bunuhlah aku!”
Mendengar itu, keberanian rakyat bangkit untuk memerangi Tatar, serta hati dan niat mereka menjadi kuat, walhamdulillah.
Ketika Tatar mulai menyerang dan pasukan Islam sempat terpukul mundur, Ibnu Taimiyah berdiri tegak di atas kudanya, bergerak maju menuju pasukan Tatar yang sangat besar, persis seperti yang dilakukan Nabi ﷺ dalam Perang Hunain. Ia tidak ragu menghadapi pasukan raksasa berjumlah 30.000 personel dengan keberanian yang bersumber dari iman yang dalam. Itu adalah Perang Shaqhab di awal Ramadhan tahun 702 H. Ibnu Taimiyah hadir dengan seluruh kekuatan mental dan fisiknya, mengarahkan prajurit dan mendesak mereka untuk bertahan, siap untuk menjemput syahadah.
Salah satu rekannya, seorang ajudan Amir, menceritakan momen pertemuan kedua pasukan. Ibnu Taimiyah memintanya untuk menempatkannya di “posisi kematian” (titik paling berbahaya). Ketika ajudan itu menempatkannya di depan pasukan Tatar, Ibnu Taimiyah menengadahkan pandangannya ke langit, menggerakkan bibirnya cukup lama dalam doa, lalu menerjang ke medan laga. Ajudan itu menambahkan: “Seolah-olah aku melihatnya sedang mendoakan kehancuran mereka, dan doanya dikabulkan pada saat itu juga. Kemudian kedua pasukan bertempur hebat, dan Allah membukakan kemenangan bagi kami.”
Setelah pertempuran usai, rakyat merayakannya dengan membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan memberi makan orang-orang.
Hari itu merupakan salah satu hari paling bahagia bagi umat.
Saat itulah semua orang menyadari bahwa Ibnu Taimiyah bukan sekadar ulama yang pandai bicara soal agama, melainkan berkat ilmu dan siasatnya, mereka selamat dari bencana yang pasti.
Dialah sosok yang seharusnya kita kenal dengan benar, dan jangan sampai sejarahnya dibiarkan terdistorsi atau disesatkan oleh musuh-musuh umat.
Sumber:
- Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, “Al-Bidayah wan Nihayah”.
- Ibnu Iyas, “Bada’i’ az-Zuhur fi Waqa’i’ ad-Duhur”.
- Ibnu Taghribirdi, “An-Nujum az-Zahirah fi Muluk Misr wal Qahirah”.
- Al-Maqrizi, “Al-Mawa’iz wal I’tibar bi Dzikr al-Khithath wal Atsar”.
-Turkinesia-






