Tahukah kalian bahwa ketika Imam Malik ditanya tentang 48 masalah dalam satu majelis, ternyata 32 di antaranya ia jawab dengan mengatakan ”tidak tahu”?
Saya mengetahui ini dari kesaksian al-Haitsam bin Jamil yang dihimpun Imam al-Dzahabi (w. 748 H) dalam Siyar A’lam al-Nubala juz delapan halaman 77 yang berbunyi begini:
“Aku mendengar Malik bin Anas ditanya tentang 48 masalah, maka ia menjawab pada 32 di antaranya dengan: aku tidak tahu.”
Saya tidak sedang membicarakan tokoh ecek-ecek, tapi Imam Malik, pendiri mazhab Maliki yang menjawab tidak tahu untuk 2/3 pertanyaan.
Dengan ukuran kita di masa sekarang, tentu saja kita akan melihat Imam Malik ini sebagai tokoh gagal sebagai ahli.
Karena di era sekarang nilai dari seseorang dijadikan rujukan itu diukur dari kesanggupannya selalu punya jawaban, bukan dari keberaniannya menyatakan ”tidak tahu”.
Imam Malik adalah seorang ulama besar, ahli fikih, dan pakar hadis terkemuka dari Madinah yang mendirikan Mazhab Maliki, salah satu dari empat mazhab fikih utama dalam Islam Sunni. Beliau memiliki nama lengkap Malik bin Anas bin Malik bin ‘Amr al-Asbahi dan dijuluki sebagai Imam Darul Hijrah karena dedikasi seumur hidupnya untuk mengajar dan menjaga tradisi keilmuan di kota Madinah.
Beliau merupakan guru utama dari Imam Asy-Syafi’i, pendiri Mazhab Syafi’i.
(Rumail Abbas)







Pernyataan tidak tahu dari imam malik sama pertanyaan tidak tahi dari mukidi alkadzab ibarat emas dan tai beda jauh