Hari Raya Yahudi Yom Kippur, diawali dengan sebuah doa yang meresahkan bernama Kol Nidre

✍️Dr Rahmeh Aladwan

Yom Kippur adalah Hari Raya tersuci dalam agama Yahudi diperingati dengan puasa selama 25 jam penuh dan ibadah doa yang panjang.

2026 dimulai pada hari Minggu, 20 September 2026 malam saat matahari terbenam (sundown), dan berakhir pada hari Senin, 21 September 2026 malam saat hari mulai gelap (nightfall).

Hari raya Yahudi Yom Kippur dimulai dengan doa yang mengganggu bernama Kol Nidre. Ini adalah pernyataan hukum preventif yang secara otomatis membatalkan semua sumpah pribadi, janji, dan ikrar. Secara sederhana, ini memungkinkan orang Yahudi memperlakukan kata-kata mereka seperti sampah dan menipu kewajiban spiritual mereka selama 12 bulan ke depan.

Karena celah hukum yang sama persis ini, pengadilan Barat dan Islam selama berabad-abad memandang Kol Nidre dengan kecurigaan yang sangat besar. Mereka berargumen bahwa jika hari raya paling suci suatu komunitas dimulai dengan dekrit hukum formal yang menghapuskan sumpah mereka untuk tahun depan, maka pengadilan sekuler tidak akan pernah bisa mempercayai kesaksian seseorang Yahudi di bawah sumpah dalam persidangan hukum atau kontrak bisnis.

Negara-negara Eropa bahkan menerapkan ‘Sumpah Yahudi’ (More Judaico). Ini adalah ritual pengadilan terpisah yang memaksa pedagang dan saksi Yahudi berdiri di depan pengadilan dan mengucapkan kutukan menakutkan terhadap diri mereka sendiri sebelum kesaksian mereka diterima secara hukum.

Yom Kippur juga melibatkan ritual pengorbanan darah dan hewan.

Tradisi Yahudi menyebutkan bahwa imam akan mengorbankan seekor lembu jantan muda dan memercikkan darahnya ke atas ‘Takhta Pendamaian’ (Mercy Seat) di dalam ‘Ruang Mahakudus’ (Holy of Holies) di ‘Bait Suci’. Ritual ini dimaksudkan untuk menebus dosa ‘garis keturunan imam’.

Kemudian, dua ekor kambing yang serupa dikorbankan bagi seluruh umat Yahudi. Satu ekor disembelih di dalam Bait Suci dan darahnya juga dipercikkan di dalamnya.

Kambing kedua, yang disebut sebagai kambing hitam (scapegoat), akan dijatuhkan dari tebing curam—dalam keadaan hidup.

Seekor kambing hidup didorong jatuh dari tebing terjal hingga tubuhnya hancur berkeping-keping demi ‘menghapuskan dosa seluruh komunitas Yahudi’.

Mishnah (Traktat Yoma 6:6) mencatat bahwa jatuhnya hewan tersebut begitu hebat hingga tubuhnya hancur berkeping-keping bahkan sebelum mencapai separuh perjalanan menuruni gunung.

Masih ada lagi.

Setelah ritual darah, dua ekor domba jantan akan dibakar di atas altar luar ruangan. Ritual ini disebut Korban Olah: sebuah Persembahan Bakaran.

Saat ini, orang Yahudi menjalankan puasa, berdoa, dan sebagian melakukan ritual mengayunkan ayam di sekeliling kepala mereka (Kapparot) sebagai gantinya. Namun, sebagian besar dari mereka merasa belum puas. Mereka ingin membangun kembali Bait Suci tempat ritual pengorbanan hewan dan darah itu dilakukan.

Dan mereka ingin membangunnya di situs tersuci ketiga dalam Islam: Masjid Al-Aqsa yang diberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. kurang pehem.. tp mncurigakan.. sperti bukan ritual keagamaan murni.. a.k.a. dah brcampur tradisi leluhur.. 🤨🤨

    yang mengkhawatirkan.. mreka menginginkan pnghancuran masjid Al Aqsa.. dasar zionis..!! 😡😡