Kepahlawanan Zaid bin Khattab, Kakak Kandung Umar bin Khattab

Zaid bin Khattab رضي الله عنه memeluk Islam sebelum Umar. Ia turut mendampingi Rasulullah ﷺ dalam berbagai peperangan dan ekspedisi. Umar bin Khattab sangat mencintai kakaknya tersebut.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Zaid turut serta dalam peperangan melawan kaum murtad dan menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia dipercaya membawa panji kaum Muslimin dalam Perang Yamamah.

Perang Yamamah adalah pertempuran besar yang terjadi pada bulan Desember 632 M (11 H) di wilayah Yamamah (sebelah selatan kota Riyadh, Arab Saudi). Perang ini merupakan bagian dari Perang Riddah (operasi militer menumpas kaum murtad) yang dilancarkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk melawan gerakan nabi palsu, Musailamah al-Kadzab, dari Bani Hanifah.

Pada awal pertempuran, sebagian pasukan Muslim mengalami kemunduran dan mulai melarikan diri. Ketika melihat sebagian prajurit mundur, Zaid maju sambil membawa panji dan berkata,
«اللهم إني أعتذر إليك من فرار أصحابي، وأبرأ إليك مما جاء به مسيلمة ومحكم اليمامة.»
“Ya Allah, aku memohon maaf kepada-Mu atas larinya para sahabatku, dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dibawa oleh Musailamah dan para pengikutnya di Yamamah.”

Zaid terus maju membawa panji kaum Muslimin dan bertempur dengan gigih hingga akhirnya dibunuh oleh Abu Maryam al-Hanafi dan gugur sebagai syahid.

Setelah pertempuran berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin, sebagian sahabat kembali ke Madinah untuk menyampaikan kabar kemenangan di Yamamah. Abdullah bin Umar termasuk di antara mereka.

Setelah kabar kemenangan disampaikan dan kegembiraan menyebar di tengah masyarakat, Umar bin Khattab mendatangi putranya, Abdullah, lalu bertanya, “Apa yang terjadi dengan pamanmu, Zaid bin Khattab?”

Abdullah menjawab, “Ia telah gugur sebagai syahid.”

Umar kemudian berkata, “Ia telah mendahuluiku dalam dua kebaikan: ia masuk Islam sebelumku dan gugur sebagai syahid sebelumku.”

Umar juga pernah berkata:
«ما هبت الصبا، إلا وأنا أجد ريح زيد.»
“Setiap kali angin timur berembus, aku selalu mencium aroma Zaid.”

Beliau menangis dan sangat berduka atas kepergian saudaranya.

(Tarikh Islam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *