Saudi Semakin Terjepit?

Pernyataan CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengungkap kesulitan yang dihadapi Saudi. Ia mangakui bahwa sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari 2026, dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak, setara hampir satu bulan produksi minyak dunia.

Ia juga memperingatkan bahwa sekalipun Selat Hormuz dibuka hari ini, dibutuhkan hingga 18 bulan dengan tambahan produksi rata-rata 2,1 juta barel per hari untuk memulihkan cadangan minyak global yang telah terkuras.

Pada saat yang sama, Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan operasi militer besar terhadap konsentrasi pasukan Saudi di beberapa wilayah perbatasan. Dalam pernyataannya, mereka menyebut telah menghancurkan kamp-kamp militer, gudang senjata, kendaraan tempur, serta menewaskan dan melukai ratusan personel yang berafiliasi dengan Saudi.

Yang lebih penting adalah pesan politiknya: Yaman menegaskan akan terus menjalankan strategi “blokade dibalas dengan blokade” hingga pengepungan terhadap Yaman benar-benar diakhiri. [Sejak 2015, Saudi memblokade Yaman, melarang masuk logistik, dan penerbangan sipil]

Menariknya, Reuters juga melaporkan bahwa blokade yang diumumkan Houthi terhadap industri minyak Saudi kini mulai mengancam tidak hanya jalur Selat Hormuz, tetapi juga East-West Pipeline dan terminal ekspor Saudi di Laut Merah. Dengan kata lain, jalur alternatif yang selama ini menjadi andalan Saudi pun kini berada dalam tekanan.

Jika kedua perkembangan ini dibaca bersamaan, terlihat bahwa Yaman sedang berusaha mengubah keseimbangan perang. Selama bertahun-tahun mereka menjadi pihak yang diblokade. Kini mereka ingin membalik keadaan, “blokade dibalas dengan blokade”, sehingga biaya perang tidak lagi hanya ditanggung Yaman, tetapi juga oleh Saudi dan bahkan pasar energi global.

Karena itu, pernyataan Amin Nasser sesungguhnya dapat dibaca sebagai pengakuan bahwa tekanan terhadap Saudi sudah memasuki level strategis. Ini bukan lagi sekadar persoalan keamanan di perbatasan, melainkan persoalan ketahanan energi dunia. Naiknya harga BBM ditanggung umat sedunia. Selama blokade terhadap Yaman belum diakhiri dan perang terus berlanjut, biaya yang harus ditanggung dunia akan terus membesar.

Yang perlu dicatat: persoalan ini tidak hanya berada di tangan Riyadh. Saudi memang menjadi pihak yang berada di garis depan perang melawan Yaman, tetapi keputusan politik terbesar ada di Washington. Selama Saudi tetap tunduk patuh pada AS, konflik tampaknya masih jauh dari selesai.

https://www.reuters.com/business/energy/aramco-posts-44-increase-net-profit-2026-08-04

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar