Mungkin pada bertanya, “Benarkah ada serangan ke Tanah Suci?”.
Kalau saya pribadi melihat, pihak Houthi (proxy IRAN) tahu juga bahwa kalau mereka menarget sasaran sipil, apalagi tempat-tempat suci ummat Islam, maka mereka akan dibenci sama semua orang dan pastinya akan banyak kaum Muslimin dari seluruh dunia yang akan datang berjihad melawan mereka.
They are not that stupid (mereka/houthi bukan orang bodoh).
Mereka hanya menarget sasaran militer, oil & gas facilities.
Jadi ketika ada drone Houthi katanya menyasar Makkah, maka saya langsung merasa kalau itu adalah “false flag” operation yang dirancang oleh intelijen.
Ya lebih kurang semisal “Gleiwitz Incident” yang dirancang oleh pentolan “SS” (Schutzstaffel), Reinhard Heydrich (Kepala RSHA/SD,) & Heinrich Müller (Kepala Gestapo), yang jadi pretext (alasan/dalih) bagi Nazi Jerman untuk menginvasi Polandia. Atau juga “Mukden Incident” yang dirancang oleh intelijen Kwantung Army, Seishirō Itagaki & Kanji Ishiwara, yang menjadi pretext bagi Kekaisaran Jepang untuk menginvasi China.
Jadi kalau sekarang ternyata TRUMP membatalkan serangan ke Houthi in the last minutes, artinya ada sesuatu yang diketahui oleh intelijen USA. Padahal rezim SAUDI selama ini memang sudah menjadi “good pet” (hewan peliharaan yang baik) bagi USA. Itu juga kemungkinan kenapa TURKI dan PAKISTAN tidak turun tangan, padahal mereka telah menandatangani “Mecca Joint Defence Agreement” pada 7 Agustus lalu.
Ini sekaligus pelajaran bagi rezim SAUDI, bahwa mereka itu bukan siapa-siapa bagi Judeo-Christian Zionist, namun hanya sekadar “good pet” saja. Yakinlah kalau SAUDI tidak akan diperlakukan seperti si Setanyahu yang begitu ia merengek, maka USA langsung turun menggebuk IRAN.
KENAPA TRUMP MEMBATALKAN SERANGAN KE HOUTHI?







