Waktu Palestina dijajah Israhell, mereka berkata manhaj dan Tauhid penduduknya bermasalah. Makanya tidak kunjung diberi kemenangan, solusinya katanya penduduk Palestina harus kembali ke majelis-majelis ilmu sealiran mereka.
Kemudian waktu maksiat bertebaran di Saudi, mereka bilang itu di luar 2 tanah suci jadi orang disuruh santai. Bahkan turis dan non Muslim pun sampai ke pelataran masjid Nabawi. Alasannya bukan di bagian tempat buat ibadah.
Nah kalau fair sekarang rudal Houthi katanya nyerang Mekkah dan Madinah itu sudah diukur belum dari tanah yang masuk batas Haramain.
Jangan sampai maksiat, DJ, model perut, pesta malam di kiri kanan tanah suci dibilang jauh, rudal Houthi yang masih puluhan km dibilang nyerang Mekkah.
So, apa solusi bagi Saudi agar bisa diberi kemenangan dari Houthi? tentu saja menyuruh penduduknya, termasuk DJ, penyanyi dan penari perut, untuk kembali ke majelis-majelis ilmu tentang manhaj dan Tauhid. Seperti yang kalangan Salapi teriakkan ke telinga orang Palestina.
(Sebenarnya tadi mau nulis status mendukung Saudi dari milisi Syi’ah, tapi tidak jadi setelah melihat akun Riyadh Season dan Turki al-Syekh, bela Saudinya besok aja)
~Pega Ajisitama~








yg buta itu bukan mata tapi hati…hati bani saud dan didukung oleh bani salafy buta melihat kebenaran…seolah olah ketika bani saud menguasai mekkah itulah penguasa yg benar…saat imam mahdi datang….bisa jadi mereka meragukan…bisa jadi imam mahdi dituduh ahli bidaah….karena mereka benci dgn ahlil bait…makanya dikalangan mereka sangat tabu membicarakan hadist ahlil bait dan imam mahdi….bahkan ketika husein dipenggal mereka membuat buat cerita seolah olah husein gila kuasa….nauzubillah…
Niat ingin menguasai Haramain itu bukan tiba-tiba muncul karena benci Saudi. Akarnya ada 3 lapis: Teologis, Historis, dan Politik. Kalau kamu paham 3 lapis ini, kamu akan paham kenapa isu Haramain itu jantungnya konflik Sunni – Syiah Revolusioner.
1. Lapis Teologis: Haramain dianggap belum “suci” selama di tangan Sunni
Dalam doktrin Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah yang dianut Iran, ada keyakinan:
a. Tanah suci harus dipimpin oleh Imam yang Ma’shum atau wakilnya.
Karena Imam 12 sedang ghaib, maka wakilnya adalah Wali Faqih [Khomeini dan penerusnya]. Jadi menurut mereka, satu-satunya pemimpin Islam yang sah di dunia adalah Wali Faqih di Qom. Selama Haramain dipimpin oleh “Wahhabi” – yang dalam literatur mereka disebut Nashibi [pembenci Ahlul Bait] – maka haji umat Islam dianggap belum sah kepemimpinannya.
Khomeini sendiri berkata dalam Shahifah Nur: “Makkah dan Madinah di tangan sekelompok orang najis Wahhabi…”
b. Kiblat Ruhani vs Kiblat Syar’i
Secara syar’i kiblat memang Ka’bah. Tapi secara ruhani, doktrin mereka menggeser pusat spiritual ke Karbala dan Najaf. Ada riwayat di Al-Kafi yang mereka anggap shahih: “Karbala lebih mulia dari Ka’bah.”
Maka ketika mereka menguasai Ka’bah, misi teologisnya adalah “memurnikan” Ka’bah dari pengaruh Sunni dan membuka pintu ziarah kubur, tawasul kepada Imam, yang selama ini dilarang keras oleh otoritas Saudi karena dianggap syirik.
Singkatnya: bukan sekedar ingin jadi panitia haji, tapi ingin mengubah isi khutbah, isi manasik, dan isi akidah di dalam Masjidil Haram.
2. Lapis Historis: Dendam atas kekalahan Hijaz
Syiah, terutama Persia, punya ingatan sejarah panjang dengan Hijaz:
Dulu wilayah Iran adalah negara Sunni Syafi’i selama 800 tahun. Kemudian tahun 1501, dinasti Safawi mengubah paksa Iran menjadi Syiah dengan pedang. Sejak itu mereka selalu melihat Hijaz sebagai rival ideologi yang tidak pernah tunduk.
Ketika Syarif Hussein [Bani Hasyim, Sunni] menguasai Hijaz, Iran tidak terlalu ribut. Tapi ketika Hijaz jatuh ke tangan Ibnu Saud yang berakidah Salafi – musuh bebuyutan tasawuf dan syiah kuburiyah – maka kebencian itu memuncak. Dalam pandangan mereka, jatuhnya kubah-kubah di Baqi’ tahun 1925 oleh Saudi adalah kejahatan yang harus dibalas.
Jadi wacana merebut Haramain itu dibingkai sebagai “membalas dendam Baqi'”.
3. Lapis Politik: Siapa kuasai Haramain, dia pemimpin Dunia Islam
Ini yang paling nyata.
Sejak Revolusi 1979, doktrin resmi Iran adalah Ekspor Revolusi dan Wilayatul Faqih. Khomeini ingin menjadi pemimpin seluruh umat Islam, bukan cuma Syiah Iran.
Masalahnya, legitimitas pemimpin dunia Islam secara tradisional diukur dari 2 hal:
1. Siapa penjaga Haramain
2. Siapa penyelenggara haji
Selama Haramain di tangan Saudi, maka Saudi yang punya soft power terbesar. Raja Saudi dipanggil Khadim al-Haramain, pidatonya didengar 1,8 miliar muslim saat haji dan Idul Adha.
Jika Iran bisa merebut atau setidaknya meng-internasionalisasi Haramain [membuat dewan internasional untuk mengelola Makkah-Madinah], maka:
• Legitimasi Saudi runtuh. Narasi “Saudi antek Amerika penjaga minyak” akan menang
• Legitimasi Wali Faqih naik. Dia akan tampil sebagai penyelamat Baitullah.
• Senjata ekonomi dan mobilisasi. Haji adalah pertemuan massal terbesar di dunia. Siapa kuasai mimbar Arafah, dia bisa menggerakkan opini jutaan orang. Itu yang coba dilakukan Iran tahun 1987 saat mereka pakai momen haji untuk demo politik “Bara’ah minal Musyrikin” yang berujung bentrok dan 402 orang mati.
• Jalur menuju Al-Quds. Doktrin mereka: Jalan ke Yerusalem lewat Karbala dan Makkah.
Makanya kamu lihat, setiap ada isu kecil di haji – jamaah Iran diinjak, visa ditolak, kuota dikurangi – langsung digoreng jadi isu internasional: “Saudi tidak layak jaga Haramain”.
Jadi apa niat sebenarnya?
Bukan sekedar ingin shalat di Masjidil Haram. Kalau cuma ingin shalat, Saudi membuka pintu untuk semua muslim termasuk Syiah untuk haji dan umrah.
Niat sebenarnya adalah mengganti poros kepemimpinan umat Islam. Dari poros Tauhid Sunni yang berpusat di Makkah-Madinah, menjadi poros Revolusi yang berpusat di Qom-Karbala. Haramain adalah mahkotanya. Siapa dapat mahkotanya, dia dianggap Raja Dunia Islam.
Itulah kenapa Ahlus Sunnah dari 4 mazhab sepakat mati-matian membela Haramain tetap di tangan Ahlus Sunnah, bukan karena fanatik kepada Bani Saud sebagai keluarga, tapi karena yang dijaga adalah akidah adzan, shalat, dan haji itu sendiri.