✍️Made Supriatma
Para penguasa tahu ini. Para politisi mengerti ini dengan baik. Para penjilat lebih tahu tahu lagi. Penurunan popularitas presiden yang diukur oleh survei, ya dilawan dengan survei tandingan.
Yang menjadi masalah kemudian adalah bagaimana cara mendapatkannya. Angka memang bisa mewakili realitas. Sayangnya, realitas selalu jauh lebih kompleks dari angka. Kita memakai angka hanya untuk merepresentasikan “sebagian” dari realitas yang kompleks itu.
Itulah sebabnya, angka-angka harus dilihat secara lebih mendalam: apa saja yang ia wakili, apa yang tidak diwakili. Apa yang dilihat dan apa yang tidak dilihat baik secara sengaja atau tidak sengaja.
Seperti statistik dari BPS ini. Ia benar. Angka-angkanya teruji. Dan secara metodologis ia benar. Angka TPT atau tingkat pengangguran terbuka itu benar adanya.
Hanya saja, apa itu pengangguran terbuka? Ini yang kemudian menjadikannya lebih kompleks. ILO (International Labor Organization) memakai definisi: orang yang seminggu sebelumnya bekerja paling kurang satu jam. Ya, satu jam saja itu sudah dikategorikan bekerja.
“Seseorang dikategorikan bekerja apabila dalam seminggu sebelum survei ia melakukan kegiatan ekonomi sekurang-kurangnya satu jam tanpa terputus untuk memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan.”
BPS memakai standar itu. ILO mengeluarkan standar itu untuk bisa membuat perbandingan antar negara.
Artinya?
Seseorang hanya membantu berjualan di warung keluarga selama dua jam, tanpa menerima upah, ia dikategorikan bekerja. Buruh bangunan mendapat pekerjaan satu hari, lalu enam hari berikutnya menganggur, ia digolongkan bekerja. Pengemudi ojol hanya memperoleh satu pesanan dalam seminggu, itu juga masuk golongan bekerja. Petani membantu mengurus kebun keluarga beberapa jam tanpa dibayar, dia juga bekerja. Pedagang kecil berjualan tetapi penghasilannya sangat sedikit bahkan tidak cukup untuk makan, dia tetap digolongkan bekerja.
Itulah sebabnya, jumlah pengangguran terbuka hanyalah 7,22 juta saja. Atau hanya 4,65 persen dari angkatan kerja. Angka ini bisa dibaca demikian: 95,35% angkatan kerja melakukan setidaknya sejumlah kegiatan ekonomi atau sementara tidak bekerja tetapi masih memiliki pekerjaan. Namun itu tidak berarti 95,35% dari angkatan kerja itu memiliki pekerjaan penuh dan layak.
Sementara itu, 10,79 juta orang atau 7,28% angkatan kerja terkategori sebagai penganggur terbuka. Mereka ini bekerja kurang dari 35 jam seminggu atau masih bekerja tapi masih ingin tambahan pekerjaan. 38,42 juta orang atau 25,93% penduduk bekerja tergolong pekerja paruh waktu. Artinya, kira-kira satu dari setiap tiga orang yang dikategorikan bekerja sebenarnya bekerja kurang dari 35 jam seminggu.
Yang paling penting dari data BPS ini adalah 87,88 juta orang atau 59,30% penduduk bekerja berada di kegiatan informal. Pekerja formal hanya sekitar 60,31 juta atau 40,70%. Sektor informal itu bisa macam-macam. Buka bengkel tambal ban di pinggir jalan adalah kerja informal. Pemulung juga melakukan pekerjaan informal. Karakeristiknya adalah upah atau penghasilan tidak pasti dan karenanya tidak memiliki jaminan sosial.
Jadi, laporan lengkap dari BPS ini harus dibaca seperti ini: “Dari 148,19 juta orang yang disebut bekerja, sekitar 49,21 juta bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan 87,88 juta bekerja di sektor informal. Sebanyak 10,79 juta secara eksplisit masih menginginkan tambahan pekerjaan atau jam kerja..”
Nah, kalau cara membacanya seperti di atas maka maknanya pun berubah. Data Sakernas pada Mei 2026 ini juga tidak bisa membaca gelombang PHK, misalnya. Seorang buruh tekstil sebelumnya bekerja 48 jam seminggu dengan gaji Rp5 juta. Setelah terkena PHK, ia menjadi pengemudi ojol dan memperoleh Rp1,5 juta sebulan. Dalam catatan BPS, orang ini tetap bekerja. Penurunan penghasilannya yang sangat signifikan itu tidak tercatat dan tidak bisa dipahami semata-mata oleh statistik belaka.
Ideologi angka memang memperlihatkan kebenaran. Namun itu adalah realitas sebagian. Kita perlu cara melihat yang lain, yang tentunya akan memberikan angka lain pula sebagai tandingan. Kadangkala, kita bisa mendapatkannya dari laporan utuh seperti hasil Sakernas ini. Tidak perlu bikin survei baru. Cukup lihat metodologinya dan banding-bandingkan hasilnya. Kontradiksinya akan tampak.
Saya senang dengan angka walaupun tidak terlalu ahli. Namun lebih senang mengutak-utiknya untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.








ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo: “Makanya drun Yemn, ikutilah cara kami untuk bisa dapat cuan. Gak apa-apa kita menyampaikan kebohongan lewat buzzer. Yang penting bisa makan. Ayo gabung sama kami jadi buzzer‼️”
Netizen cerdas: “Hueekkks…🤮🤮 …najis, menjijikkan cara kalian‼️ Woiiii ANJING PENJILAT, kami tak seperti kamu, Kami semua kerja di sektor formal semua dan tak akan pernah mau jadi buzzer kayak kalian‼️😝😂😜🤣
sejak era MULDONGO aksi tipu2 seperti ini memang semakin menjadi-jadi sebab rakyat kita yang bodoh dan pasrah terlalu mudah untuk menelan mentah-mentah pembodohan pu Lik seperti ini. Hanya revolusi yang dapat mengakhiri semua kerusakan sistem dan pejabat di negeri ini….
kadrun happy kalo indo hancur dan gagal, memang busuk mereka kebanyakan gaul sm khariji🤣🤣🤣🤣🤣
nyatanya elu yg skr masih bahagia dan hepi liat negara sdh bobrok, BLOK! busuk kebanyakan gaul sm fufufafa
pekaes di barisan dia khariji ?😂😂😂
bukannya buzzer yg seneng kalo negara makin bobrok dan pejabat banyak yg bego nirkompetensi? krn itu berarti job mereka nambah
Hehehheheee….mending hancur sekalian dah….kita gantung para cebong…hahahahhahahaha
yg bikin dollar 18.000 siapa tong??
mikirrr …
ups…sorry terwo pala nya kosong ya 🙏🙏
unik sekali. kerja sejam/pekan bukan pengangguran. Alhamdulillah
berarti bener dong, buzzerRp “terwo dan termul” itu termasuk pekerjaan juga,,,,,
L.O.L
alhamdulillah janji politik menciptakan 19 juta lapangan kerja sudah terpenuhi bahkan sudah melewati. bagi kadrun yg msh nganggur silahkan share CV nya nanti akan kami bantu 🙏
ngetik komen di sini bisa masuk kategori pekerjaan.
@Anonim (Akal Nol, Otak miNim)…Woiiii NJING…gue udah bilang gak sudi gue kerja ame lu untuk jadi buzzer. NAJISSS…HARRAMMM‼️
eh Lu kan sudah biasa berbuat haram, makan yg haram. Makanya kelakuan lu gak beda dg kelakuan SETAN‼️
🤣😜😂😝
prabowo adalah soeharto versi goblok
ane tebak tulisan oom Made ga dibaca dulu..!!
ntar langsung dran drun dran drun aj..!! 🤣🤣🤣
gimana buzzer mau baca, mereka dikejar target komen sebanyak mungkin
@..?? 😂😂😂..
akibat sensus,
salah satu pertanyaan apakah masih bekerja? sy bilang phk tp jual online/ojol…tidak.
padahal yg ngeluarin data BPS tp yg dikata2in sama kadrun goblok malah pemerintah. kan emang permanen tololnya kadrun kalahan pengangguran barisan sakit hati 🤣🤣😂😆😂😆😂😆
@Federico Valverde preman kampung
wahh, parah ini..!! BPS itu jg bagian dari pemerintah..!!
dulu skolah cuma ampe gerbang y bang..!! 🤣🤣🤣
BPS lembaga non kementerian tapi dia bukan pemerintah, paham drunnn 😆😂😆😂😆😆😂😆
@Federico Valverde preman kampung
BPS lembaga “pemerintah” non kementerian yang brtanggung jawab langsung k “wowo”..
besok skolah y bang.. jgn bolos lg.. ntar bisa jd bodoh loh..!!
🤣🤣🤣
bukannya emg udah bodoh? itu kan syarat wajib ngebuzzer
Padahal ada mbah Gugel,,,
tinggal ketik “BPS” di pencarian, muncul deh “apa itu BPS”,,,
yaitu LEMBAGA PEMERINTAH NON-KEMENTERIAN DI INDONESIA YANG BERTANGGUNG JAWAB LANGSUNG KEPADA PRESIDEN.
emang dasar terwo/termul GOBLOK-nya permanen,,,
udah GOBLOK, ngeyel lagi……
L.O.L
Ya, BPS bener, pengangguran memang turun sejak zaman Raja Kodok Kurap Jokowi sampe zaman Si Wowok Gendut, karena anak muda banyak “bekerja” sebagai begal, rayap besi, tukang palak, maling motor dan pengemis joget Tiktok.
gak ada pilihan buat rakyat, agar tetap survive melakukan pekerjaan apa saja, suami istri anak ibu bapak kakek nenek kerja sampai tua, gak bisa pensiun