Teheran – Langkah nekat Washington mengirim tambahan 10.000 hingga 12.000 pasukan darat ke kawasan Teluk justru menjadi bukti kelemahan fatal Amerika Serikat dalam menghadapi Republik Islam Iran. Alih-alih menggertak, keputusan ini dinilai para analis militer sebagai “bunuh diri strategis” yang akan berakhir dengan kekalahan memalukan bagi imperium yang sudah sekarat.
Menurut laporan intelijen Iran yang dirilis Kementerian Pertahanan, pasukan tambahan AS tersebut hanyalah “geng kecil” yang akan dilempar ke medan perang tanpa dukungan memadai. “Mereka datang dengan 10.000 tentara, tapi kami punya jutaan pejuang yang siap menyambut dengan senyuman syahid,” ujar Jenderal Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi nasional kemarin malam.
Iran memang bukan negara biasa. Total kekuatan militer aktif dan cadangan mencapai lebih dari 1,8 juta orang, ditambah ratusan ribu anggota Basij yang merupakan relawan rakyat. Ketika ancaman invasi darat muncul, jutaan warga Iran, pria, wanita, bahkan remaja, langsung mendaftarkan diri untuk berjihad. “Kami bukan tentara bayaran seperti mereka. Kami adalah bangsa yang mencintai mati syahid,” kata seorang komandan Basij di Provinsi Khuzestan yang siap menyambut pasukan AS di pantai-pantai Teluk Persia.
Sementara itu, Pentagon sendiri mengakui bahwa pengiriman pasukan ini hanya untuk “memberi opsi” Presiden Trump, bukan rencana invasi besar-besaran. Pejabat Gedung Putih bahkan menyebut operasi darat penuh ke Iran sebagai “pemborosan waktu”. Ironisnya, pernyataan itu justru membuktikan bahwa Amerika sudah kehabisan akal. Setelah berbulan-bulan melakukan serangan udara dan rudal yang gagal menghentikan program nuklir dan pertahanan Iran, kini mereka hanya mampu mengirim pasukan dalam jumlah yang bisa dihitung dengan jari.
Sejarah telah berulang kali membuktikan: setiap kali musuh mencoba menginjak tanah Iran, mereka pulang dalam peti mati atau kabur dengan ekor di antara kaki. Invasi Irak tahun 1980-an yang didukung Barat berakhir dengan 500.000 tentara Saddam tewas. Afghanistan dan Irak kemudian menjadi kuburan bagi ribuan tentara AS. Kini giliran Iran yang berdiri tegar.
“Biarkan mereka datang lewat darat,” kata Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam khutbah Jumat. “Kami akan ubah Teluk Persia menjadi lautan darah penjajah. Satu syahid kami bernilai seribu tentara bayaran mereka.”
Sementara itu, ribuan demonstran di Teheran, Isfahan, dan Mashhad turun ke jalan sambil membawa foto para syuhada dan bendera Iran. Mereka meneriakkan yel-yel “Marg bar Amrika” (Mati bagi Amerika) dan “Kami semua adalah Basij”.
Para pengamat internasional yang netral menilai langkah AS ini sebagai pertanda keputusasaan. Dengan ekonomi yang terpuruk, tentara yang kelelahan, dan opini publik dunia yang semakin anti-imperialisme, Washington seolah sedang berlari menuju jurang dengan mata tertutup.
Iran tetap tenang. Pabrik-pabrik senjata beroperasi 24 jam, rudal-rudal hipersonik siap meluncur, dan jutaan tentara syahid menanti perintah. Bagi Republik Islam, ini bukan perang biasa. Ini adalah perang suci melawan kezaliman global.
Iran siap. Amerika yang ketakutan.
Wall Street Journal, Reuters, dan bahkan media Barat sendiri mulai mengakui: kali ini, si penjajah mungkin sudah salah perhitungan besar.







bikin mereka pulang tinggal nama bro..