Mengingat Iran saat ini sedang meluncurkan rudal ke arah Yordania, ada satu hal yang perlu Anda ketahui terlebih dahulu.
Yordania tidak muncul begitu saja dari tanah layaknya sebuah negara kuno.
Negara ini “dijahit” menjadi satu di sebuah hotel di Kairo pada bulan Maret 1921 oleh segelintir pejabat Inggris yang membutuhkan solusi murah dan peta wilayah yang stabil.
Kekaisaran Ottoman baru saja runtuh. Inggris saat itu menguasai Mesopotamia, Palestina, dan hamparan gurun luas di sebelah timur Sungai Yordan. Menempatkan pasukan di sana memakan biaya yang sangat besar.
Winston Churchill, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Urusan Koloni, mengadakan pertemuan di Hotel Semiramis Kairo. Mereka bahkan berseloroh bahwa mereka adalah “empat puluh pencuri”. Gertrude Bell adalah satu-satunya wanita di ruangan itu yang benar-benar memahami seluk-beluk suku dan jalur wilayah tersebut. T. E. Lawrence juga hadir. Sir Percy Cox datang dari Baghdad membawa dokumen-dokumen penting.
Churchill kelak mengatakan bahwa ia menciptakan wilayah itu (Yordania) pada suatu Minggu sore hanya dengan sekali goresan pena. Itu bukan sekadar ungkapan puitis. Begitulah cara negara itu lahir ke dunia.
Inggris menunjuk Amir Abdullah bin Al-Hussein (dari Bani Hasyim) sebagai penguasa lokal pertama. Langkah ini diambil Inggris untuk meredam ketegangan politik sekaligus memenuhi sebagian janji mereka kepada keluarga Hashemite.
Abdullah menjadi emir, lalu kemudian raja. Inggris membayarnya, melatih pasukannya, dan memanfaatkan wilayah tersebut sebagai zona penyangga.
Pada 15 Mei 1923, Inggris secara resmi mengakui Transyordania sebagai sebuah negara semi-otonom di bawah pengawasan Komisaris Tinggi Inggris di Yerusalem.
Meski dipimpin oleh Amir Abdullah, Inggris tetap memegang kendali penuh atas kebijakan luar negeri, keuangan, dan militer (termasuk pembentukan pasukan elit Arab Legion yang dipimpin perwira Inggris).
Setelah Perang Dunia II, Inggris menandatangani Perjanjian London pada Maret 1946 yang mengakhiri masa mandat mereka terhadap Yordania.
Pada 25 Mei 1946, Transyordania secara resmi mengumumkan kemerdekaan penuh. Amir Abdullah kemudian diangkat menjadi raja pertama, dan nama negara tersebut diubah menjadi Kerajaan Hasyimiyah Yordania (اَلمَمْلَكَة اَلأُرْدُنِيَّة اَلهَاشِمِيَّة).
Setelah kemerdekaan, takhta Bani Hasyim tetap bertahan.
Berpuluh-puluh tahun kemudian, pesawat dan baterai rudal Amerika ditempatkan di pangkalan udara Yordania karena hamparan gurun yang sama itu terletak di lokasi strategis di antara Irak, Suriah, Israel, dan kawasan Teluk.
Pangkalan Udara King Hussein. Al Azraq. Muwaffaq Salti. Nama-nama yang kini tercantum dalam peta perang modern, namun berada di atas tanah yang batas-batasnya pertama kali digariskan di ruang makan hotel di Kairo tersebut.
Jadi, ketika rudal-rudal Iran melesat menuju pangkalan-pangkalan itu, rudal-rudal tersebut tidak sedang menghantam kerajaan kuno yang memilih untuk berperang sejak tahun 700-an. Rudal-rudal itu menghantam sebuah negara yang diciptakan demi menghemat anggaran Inggris dan memberikan jabatan bagi dua bersaudara dari Bani Hasyim. Faisal, putra Syarif Mekkah, mendapatkan wilayah Irak. Kakaknya, Abdullah mendapat wilayah Yordania.
Lelucon itu sudah usang dan tidak lagi lucu. Sebuah meja hotel menentukan batas wilayahnya. Batas wilayah itu menjadi lokasi pangkalan-pangkalan militer. Pangkalan-pangkalan itulah yang memancing datangnya rudal-rudal Iran tersebut. Begitulah seluruh rangkaian peristiwanya.
Bacalah sekali lagi jika perlu. Kairo, Maret 1921. Raja-raja “berharga murah”. Peta yang dibuat pada hari Minggu. Sebuah negara yang masih harus menahan terjangan baja (rudal) yang sebenarnya ditujukan untuk perang orang lain.







