Iran: Jika Kami Tidak Bisa Mengekspor Minyak Teluk, Negara Lain Juga Tidak Akan Bisa

🇮🇷Ketua Parlemen Iran dan Ketua Juru Runding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada hari Selasa (1/9/2026) memperingatkan bahwa setiap upaya untuk menghalangi Teheran mengekspor minyak melalui Teluk Persia akan memicu langkah-langkah yang dirancang untuk menghentikan negara-negara lain melakukan hal serupa.

“Jika pihak lawan berkehendak agar kami tidak dapat mengekspor minyak dari Teluk Persia, maka tidak ada satu pun pihak yang akan dapat mengekspor minyak,” ujar Ghalibaf, seraya menempatkan arus energi kawasan sebagai inti dari konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat.

Ia menambahkan bahwa pengetatan lebih lanjut terhadap blokade tersebut akan memicu respons militer. “Jika mereka memperketat blokade, kami pasti akan memberikan respons militer, dan semua pihak akan menanggung akibatnya.”

Sengketa Akses Selat Hormuz

Ghalibaf menyatakan bahwa AS berupaya menggunakan jalur selatan yang melintasi Selat Hormuz dengan melanggar kesepakatan, dan menegaskan Iran akan mencegah tindakan tersebut.

Ia menyebutkan bahwa sebelum perang, setidaknya 120 kapal melintasi selat itu setiap harinya. Menurutnya, lalu lintas kapal saat ini—yang hanya berjumlah satu atau dua kapal—masih jauh di bawah angka tersebut.

Ghalibaf mengatakan bahwa upaya AS untuk meloloskan sejumlah kecil kapal melalui jalur perairan tersebut ditentang oleh Angkatan Bersenjata Iran, yang menurutnya tetap memegang kendali penuh atas selat itu.

Ia juga mempertanyakan klaim berulang AS bahwa Washington mengendalikan jalur pelayaran tersebut, seraya menyoroti serangan terhadap pulau-pulau milik Iran serta upaya berkelanjutan untuk meyakinkan kapal-kapal komersial bahwa pelayaran di sana aman.

“Pihak Amerika secara keliru meyakinkan kapal-kapal bahwa mereka dapat melintasi selat dengan aman, namun kapal-kapal tersebut justru kemudian diserang,” ujarnya.

Pembukaan Kembali Terkait dengan Komitmen AS

Ghalibaf menyatakan bahwa Iran akan tetap menutup Selat Hormuz sampai Washington memenuhi kewajibannya berdasarkan sebuah memorandum.

Ia mengatakan bahwa Iran akan mengambil langkah-langkah paksaan jika AS gagal mematuhi komitmen-komitmen tersebut.

Peringatan itu mempertegas sikapnya yang lebih luas bahwa tekanan terhadap ekspor Iran tidak akan terbatas hanya pada perdagangan energi Teheran sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 komentar

  1. jabgan anda kira, Arab Saudi tidak punya Balistik Hipersonik jarak jauh, Drone canggih yg dimiliki Iran. kakau mau digunakan Houthi yg berlindung dihabitat rakyat sipil San’a, akan lenyap, tapi tdk dilakukan, akan banyak korban rakyat sipil. Arab Saudi fokus membangun, memakmurkan rakyatnya, membantu umat Islam yg membutuhkan diberbagai belahan dunia. beda dg Iran, hanya merusak negara² Arab Islam, mengekspor kekerasan. orang berakal harus hati² menghadapi preman (Iran), yg sdh kalap, rakyatnya sengsara…

    1. woi wahaboy goblog, dasar maling tereak maling kau, sejak kapan saudi dan negara teluk punya teknologi militer sendiri apalagi punya senjata canggih bikinan dalam negri, woi goblog ndablek, sdh bkn rahasia lg kalo semua senjata yg dimiliki negara teluk berasal dr barat hasil dr menjual minyak itupun gk bisa dipake untuk menembak dan menyerang negara2x sekatu barat, mknya Turki mengupgrade sistem senjata buatan barat miliknya dgn sistem buatanya sendiri agar bisa digunakan menyerang termasuk negara sekutu barat. ngaco aza lo