Houthi Melawan Koalisi 17 Negara

✍️Syekh Salem Abu Zaid Al-Khulaifi (Tokoh Kabilah Yaman)

Terlepas dari apakah kita setuju atau tidak dengan otoritas Ansar Allah (Houthi) di Sana’a—sebut saja mereka dengan istilah apa pun yang Anda kehendaki (pemerintahan, kelompok, atau milisi)—satu fakta yang tak terbantahkan tetap ada: mereka mampu bertahan menghadapi koalisi 17 negara yang diperlengkapi dengan persenjataan darat, laut, dan udara paling canggih, serta telah menahan lebih dari 300.000 serangan udara yang menyasar pasukan, infrastruktur, dan situs-situs sipil mereka.

Mereka juga telah berhadapan dengan koalisi “Prosperity Guardian” (Penjaga Kemakmuran) pimpinan Amerika-Zionis di Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza, bahkan melancarkan serangan ke entitas Zionis (Israel) menggunakan rudal hipersonik dan pesawat nirawak (drone).

Mereka tetap teguh melawan armada kekaisaran Amerika. Hingga hari ini, mereka terus berhadapan dengan berbagai koalisi regional maupun internasional, sembari meraih kemenangan di lapangan di semua lini pertempuran.

Sebagai warga negara Yaman—baik dari selatan maupun utara—atau sebagai seorang Arab dan Muslim, apa yang Anda harapkan untuk kami katakan tentang mereka? Lantas, sebutan apa yang pantas diberikan oleh orang-orang merdeka di seluruh dunia kepada mereka? Apakah mereka ini “Jin Nabi Sulaiman”, atau mungkinkah kemenangan mereka merupakan pesan ilahi dan manifestasi dari kekuatan yang lebih tinggi?

Berikut adalah profil Salem Abu Zaid Al-Khalifi:

Syekh Salem Abu Zaid Al-Khulaifi adalah seorang tokoh kabilah dan salah satu pemimpin perlawanan di wilayah selatan Yaman (Southern Resistance), khususnya yang berasal dari Kegubernuran Shabwah.

Berikut adalah beberapa poin penting mengenai peran dan pandangannya dalam konstelasi politik Yaman:

1. Peran Adat dan Politik

  • Tokoh Suku Shabwah: Beliau merupakan salah satu syekh atau tetua adat terkemuka dari kabilah di wilayah Shabwah.
  • Aliansi Wilayah: Beliau juga tercatat sebagai anggota pimpinan dalam Aliansi Bersatu untuk Putra-Putra Shabwah (Unified Coalition for the Sons of Shabwah).

2. Pandangan Kritis terhadap Pemerintah Aden dan Koalisi

  • Kritik terhadap Dewan Transisi Selatan (STC) & Koalisi: Meskipun menjadi bagian dari gerakan selatan (Southern Resistance), Al-Khalifi dikenal sangat vokal mengkritik kebijakan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab serta pemerintah bentukan Arab Saudi di Aden. Ia sering menuduh mereka gagal memberikan pelayanan publik yang layak, menjaga nilai mata uang, dan menjamin hak-hak masyarakat selatan.
  • Penentangan terhadap Pengaruh Asing: Ia kerap menuduh faksi-faksi tertentu di Yaman Selatan menjalankan agenda asing (seperti Inggris atau UEA) yang merugikan kedaulatan suku-suku asli di selatan.

3. Dinamika Hubungan dengan Sana’a (Ansarullah/Houthi)

  • Penyatuan Saf Melawan Blok Israel/Barat: Pada tahun 2025, menyusul ketegangan regional akibat konflik di Gaza dan Laut Merah, Al-Khalifi menyatakan secara terbuka bahwa jika terjadi ancaman eksternal (terutama dari Israel/Zionis), seluruh suku di utara dan selatan Yaman harus bersatu di belakang pemerintahan Sana’a (Ansarullah/Houthi) demi membela harga diri bangsa.
  • Seruan Dialog Internal: Beliau termasuk salah satu tokoh selatan yang mendorong dibukanya saluran komunikasi dan dialog langsung dengan pihak Sana’a untuk menyelesaikan isu-isu krusial di Yaman secara domestik tanpa campur tangan asing.

Secara keseluruhan, Syekh Salem Abu Zaid Al-Khalifi adalah figur oposisi independen di Yaman Selatan yang menyuarakan aspirasi suku-suku lokal, menentang pengaruh koalisi eksternal, dan kerap mengadvokasi persatuan nasional Yaman dalam menghadapi intervensi luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar