Nepotisme pun selalu ada pembenaran. Itulah pelajaran yang bisa kita ambil hari penjelasan Mochamad Irfan (Gus Irfan), Menteri Haji dan Umrah, kenapa mengangkat dua anak kandungnya sebagai tenaga ahli di Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Beliau merasa tidak salah. Kemenhaj itu baru. Belum ada pegawainya. Makanya beliau meminta bantuan kepada anak dan para santrinya. Mereka itu tidak digaji. Inilah alasan yang perlu digarisbawahi. Tidak digaji. Siapakah yang mau bekerja tanpa digaji? Tentulah orang terdekat kita.
Tapi, mungkin tidak digaji itu maksudnya, tidak digaji memakai APBN. Tapi pasti digaji memakai caranya sendiri. Menteri Haji dan Umroh, Gus Irfan, tidak menjelaskan lebih jauh tentang hal itu. Mungkin tidak mau sombong saja, kalau dikatakan bahwa beliau sendirilah yang menggaji anak dan para santrinya itu.
Maka, setelah Kemenhaj memiliki pegawai, anak dan para santrinya itu ada yang masih tetap dipakai karena memiliki kompetensi dan ada pula yang dibalikkan ke asalnya. Ada aroma perjuangan yang ingin ditonjolkan dari penjelasan Menteri Haji dan Umroh itu.
Bahkan, beliau mengatakan dengan heroik bahwa dari tiga jatah staf khusus yang disediakan, hanya satu yang diambil. Dan dari lima jatah staf ahli yang disediakan, hanya empat yang diambil. Jadi, sangat heroik dan efisien. Meski tak dijelaskan lebih lanjut, apakah tetap memakai anaknya, Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, atau tidak?
Itulah yang saya katakan selalu ada pembenaran terhadap nepotisme sekalipun. Membenarkan memakai dalil heroisme pula. Saat Jokowi mempersilakan anak dan menantunya, maju Pilpres dan Pilgub, bahkan sejak Pilwalko, padahal beliau masih menjabat, apa yang dikatakan Jokowi sebagai pembenaran: “kan masyarakat yang memilih, bukan dia”. Begitulah.
Pembenaran yang tidak salah. Apalagi tidak melanggar hukum. Tapi, yang salah adalah etika atau norma kepantasan atau kepatutan. Tidak salah atau tidak melanggar hukum, tapi ada pengaruh yang bermain di situ. Bahkan, pengaruh itu melebihi uang dan segala macamnya. Makanya, KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) itu adalah budaya kita dari level atas sampai level bawah tanpa merasa bersalah.
(ERIZAL)








Kenapa Pak Menteri gak mengangkat si ANONim jadi staf ahli. Padahal makhluk ini rajin komen lho Pak. Bahkan komennya melebihi buzzer lain pada umumnya. Si ANONim ini jadi PENUNGGU siang dan malam 24 JAM di portal ini lho Pak‼️
Atau Pak menteri sudah tahu ttg si ANONim itu yang karena Akalnya Nol, Otaknya miNim jadi Pak Menteri gak sudi mau ngangkat dia⁉️
Ngoahahaha…😝🤣😜😂