JANGAN RUSUHI PESANTREN DENGAN MBG

JANGAN RUSUHI PESANTREN DENGAN MBG

Oleh: Ahmad Tsauri

Saya sudah didatangi orang suruhan Jakarta, untuk mengurangi komentar. Tapi melihat tiap hari kekacauan, mulai penggunaan uang APBN asal-asalan, kepanikan warga kurang mampu karena bantuan cuman 300 rebu dicabut karena data desil semrawut, pembangunan jembatan ribuan titik penting ada kelihatan mata, melihat pengelolaan negara yang serampangan, rasanya sulit untuk tidak bicara. Termasuk kacau balaunya pelaksanaan MBG.

Dari semalam banyak yang ngetag berita keracunan ratusan santri di Sidoarjo. Saya lihat kepanikan luar biasa, terjadi malam hari pada saat santri dan civitas pondok pesantren istirahat, 50 ambulan hilir mudik membawa ratusan santri. Sebagai santri, dari sebelum sekolah dasar, sampai usia sekarang melihat ke sekian kali santri pesantren keracunan rasanya campur aduk.

Santri pesantren beda dengan siswa sekolah, mereka dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan beberapa pesantren besar, Lirboyo, Gontor, dan pondok pesantren ternama lain dari Malaysia, Thailand, Singapura, dll. Jadi begitu ada insiden kepanikan bukan hanya dilokasi tapi juga dari ratusan rumah yang jauhnya ratusan kilo meter dari lokasi kejadian. Bagaimana repotnya pesantren menerima telepon dari ratusan wali santri yang sedang dan sangat panik.

Bukan berarti siswa boleh keracunan dan santri tidak boleh, namun karena koordinasi dengan para orang tua lebih rumit, seharusnya santri pesantren kasih uangnya saja melalui pondok tidak perlu MBG-MBGan dari mitra.

Toh selama ini juga sejak saya mondok sampai saat ini, belum pernah mendengar santri pesantren keracunan makanan karena makan masakan sendiri atau karena masakan dari pesantren.

Hal lain yang saya lihat, adanya MBG ini malah menurunkan kualitas makanan dari pesantren, sebelum ada MBG makan siang santri lebih baik, setelah ada MBG ya itu-itu saja, ditambah lagi MBG di banyak pondok pesantren juga tidak mengurangi SPP sama sekali, mau SPP yang 900.000, 1900.000 sama saja utuh, tidak berkurang karena ada bantuan MBG dari pusat.

Di beberapa tulisan sebelumnya sebagai orang yang juga bergelut di industri makanan, saya jamin keracunan ini tidak akan berhenti, hanya akan bergantian saja, karena apa? Faktor penyebabnya sudah saya tulis, muaranya karena skala besar dan intens 3000 porsi tiap hari, karena latar belakang owner SPPG dari bisnis berbeda, ada yang dari karaoke, bengkel, hiburan malam, tidak paham bisnis makanan, juga karena SPPI, akuntan, ahli gizi tidak punya ownership: tidak dibagikan owner rugi nanti mereka ribut, dibagikan makanan yang jelas busuk itu anak keracunan.

Rata-rata kepala dapur saat menemukan anomali di menu yang mereka masak, memilih melanjutkan dibagikan daripada mereka harus bertengkar dengan owner pemilik dapur. Jadi dari aspek, kemitraan dapur dan ada aspek bisnis di 30.000 dapur juga, Prabowo sudah membuat banyak kerumitan skema dapur yang ujung dari pertengkaran antara owner sebagai mitra pemerintah dan SPPI, serta staf lainnya adalah siswa dan santri yang keracunan. Siswa dan santri keracunan itu hanya permukaan yang tampak dari gunungan es masalah didalam sebuah bangunan dapur MBG.

Saya hakul yakin, satu-satunya cara menghentikan keracunan bukan dengan membeli alat deteksi makanan basi dari Brin yang triliunan rupiah itu, atau si Dar ngajak meeting SPPI, dan ahli gizi tiap jam 2 malam, bukan. Satu-satunya solusi hentikan MBG. Titik.

-FB-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar

  1. Udah banyak korban sana sini ko ga dibubarin yah memang betul kata semua orang bahwa babi tua pikun itu bebal kolot budeg maunya menang sendiri ngenes banget deh hidup dukonoha

  2. menghentikan MBG hanya menyelesaikan keracunan, masalah lainnya juga banyak yang belum diselesaikan. misalnya, kdmp, korupsi, melemahnya Rp. kemiskinan, kebodohan, kebohongan arogansi, premanisme dll.

  3. Ayo ANJING-ANJING KURAP PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun alias Babi guRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI…cepat bela program MBG andalan junjungan sekaligus sesembahan mu si Jokodok plonga plongo raja ngibul Mulyono dan si Mbah GendruWO Wowo aNTEK asing Gemoy omon omon‼️‼️‼️🤣

  4. kondisi mbg jg ada di pesantren anak sy di pandeglang, memang dapurnya ada di dalam pesantren, karena sy tdk ingin anak saya makan jatah mbg yang di sajikan sebagai makan pagi/sarapan. maka sejak ada program mbg di pesantren anak saya saya bekali dgn uang untuk membeli makanan di kantin pesantren setiap pagi sebagai pengganti makan pagi nya.