✍️ DWYSA
Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik berdebat soal sound horeg dari sisi selera. Orang suka musik keras, silakan. Orang lain lebih suka suara jangkrik, ya silakan juga. Selera memang tidak perlu diseragamkan.
Tetapi persoalannya berubah ketika sebuah hiburan mulai meninggalkan korban.
Dalam satu bulan Agustus saja, sebagaimana dicatat detikJatim, tiga orang meninggal dalam peristiwa yang berkaitan dengan karnaval sound horeg di Jawa Timur.
Di Jember, seorang kru meninggal setelah kepalanya terbentur gapura ketika berada di atas truk sound yang sedang berjalan.
Di Banyuwangi, seorang penyewa sound meninggal diduga karena serangan jantung ketika mengikuti karnaval.
Lalu di Jember lagi, seorang lelaki berusia 57 tahun meninggal tertimpa kanopi dan tembok yang ambruk ketika sedang menunggu istrinya membeli obat di apotek.
Yang terakhir ini terasa sangat memilukan.
Orang itu bukan sedang berjoget. Bukan kru sound. Bukan pula peserta karnaval.
Ia hanya mengantar istrinya membeli obat.
Keluar rumah mungkin dengan pikiran sederhana: mengantar istri, menunggu sebentar, lalu pulang.
Ternyata tidak pernah pulang.
Di sinilah kita mestinya berhenti membicarakan sound horeg semata-mata sebagai soal orang suka atau tidak suka.
Kalau cuma perkara telinga, kita masih bisa berdebat panjang. Ada yang bilang hiburan rakyat. Ada yang bilang budaya baru. Ada yang merasa senang, ada yang merasa terganggu.
Tetapi ketika sudah menyangkut keselamatan, ukurannya bukan lagi selera.
Ukuran paling sederhana adalah: apakah kegiatan itu dikelola dengan cukup aman bagi manusia yang berada di sekitarnya?
Karnaval yang membawa kendaraan besar, tumpukan perangkat sound, kerumunan manusia, getaran keras, kabel, bangunan di pinggir jalan, serta rute yang melewati permukiman tentu membutuhkan standar keselamatan yang serius.
Tidak cukup modal ramai.
Tidak cukup modal izin.
Apalagi hanya modal, “Biasanya juga aman.”
Banyak kecelakaan memang dimulai dari kalimat seperti itu. Biasanya aman. Sampai suatu hari tidak aman.
Dan ketika yang menjadi taruhan adalah nyawa, satu kali “tidak aman” sudah terlalu mahal.
Saya juga tidak ingin gampang menyimpulkan bahwa setiap kematian itu semata-mata disebabkan oleh kerasnya suara. Penyebab setiap kejadian harus diperiksa secara objektif. Jangan sampai karena tidak menyukai sound horeg, semua musibah langsung kita masukkan ke rekening yang sama.
Tetapi tiga kematian dalam rangkaian kegiatan semacam ini tetap layak menjadi alarm.
Minimal kita bertanya: bagaimana rutenya diperiksa? Bagaimana ketinggian kendaraan dan muatannya? Bagaimana kondisi bangunan di sepanjang jalur? Bagaimana pengamanan penonton dan warga yang kebetulan melintas? Seberapa besar tingkat kebisingan dan getaran yang diperbolehkan? Siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kecelakaan?
Hiburan rakyat mestinya membuat rakyat bergembira.
Bukan membuat sebagian rakyat harus masuk rumah sakit, kehilangan anggota keluarga, atau pulang dari karnaval membawa kabar kematian.
Kita kadang aneh.
Kalau sebuah makanan terbukti beberapa kali membuat orang keracunan, kita ribut meminta pemeriksaan.
Kalau sebuah wahana permainan menyebabkan korban, kita menuntut evaluasi.
Tetapi ketika sebuah hiburan sudah berulang kali bersinggungan dengan kecelakaan, kita masih gampang menjawab: “Namanya juga hiburan rakyat.”
Justru karena rakyatlah keselamatannya harus dijaga.
Sebab kegembiraan tidak pernah lebih mahal daripada nyawa manusia.








SDM minus memang merepotkan. pemerintah harus menumpas horeg setan ini
Kata Gerombolan ANJING-ANJING PENJILAT TerMul dan TerWo BabRun alias Babi guRun Jaringan ANak CUcu Keturunan (JANCUK) PKI: “Urusan mati itu Urusan tuhan, itu sudah TAKDIR…TAKDIIIRRR…Ngerti gak kadrun⁉️
komen sampeyan ngga mutu blas DULLL…..
itukan sepaket dengan budaya kau rahayu impor dari prindapan, yang selalu merasa paling pribumi, paling mencin TAI budaya lokal….padahal NIR_empati..
SOUND HOREG BUDAYA PRIMITIF DARI PRINDAPAN PAKETAN KAUM RAHAYU..
solusinya larang total : yg punya alat2 di beli lalu buang kelaut /hancurkan
inilah win- win solution