Tujuh jam. Itulah lamanya waktu yang dilaporkan dihabiskan Kardinal Matteo Zuppi untuk membacakan nama-nama anak-anak yang meninggal di Gaza.
Setiap nama berarti. Setiap nyawa berarti. Dan jika butuh tujuh jam hanya untuk membaca nama-nama anak-anak yang telah tiada, mungkin dunia harus berhenti sejenak untuk benar-benar mendengarkan.
Pada tanggal 14 Agustus 2025, Kardinal Matteo Zuppi memimpin sebuah doa maraton selama tujuh jam untuk membacakan ribuan nama anak-anak yang menjadi korban dalam konflik di Gaza.
Aksi simbolis ini dilakukan untuk memanusiakan kembali para korban agar tidak hanya dilihat sebagai angka statistik semata. Berikut adalah beberapa poin penting terkait peristiwa tersebut:
- Ribuan Nama Korban: Kardinal Zuppi bersama puluhan anggota keuskupannya bergantian membaca dokumen setebal 469 halaman. Dokumen tersebut memuat nama 12.211 anak Palestina yang gugur di Gaza hingga pertengahan Juli 2025. *Update: Kantor Media Pemerintah Gaza (Government Media Office) mencatat angka kematian anak Gaza kini telah melampaui 21.500 jiwa. Dua kali lipat sejak dibacakan oleh Kardinal Zuppi. Jadi kini butuh waktu 14 jam untuk membacakan setiap anak Gaza yang dibantai Israel.
- Lokasi yang Sarat Simbolisme: Doa bersama ini diadakan di reruntuhan Gereja Casaglia di Monte Sole, Bologna, Italia. Tempat ini merupakan situs bersejarah terjadinya pembantaian Marzabotto oleh Nazi pada tahun 1944 yang menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak.
- Pesan Perdamaian: Melalui aksi tanpa pidato politik ini, Kardinal Zuppi menegaskan bahwa “tidak ada hierarki dalam penderitaan”. Ia menyerukan pentingnya gencatan senjata segera, pembebasan sandera, dan penghentian kekerasan demi melindungi nyawa anak-anak yang tidak berdosa.
*Semua sandera Israel sudah dibebaskan, tapi pasukan Israel terus membunuhi warga Gaza tanpa henti hingga sekarang. Korban anak-anak masih terus berjatuhan di Gaza.
**Korban terbaru adalah Israa Al-Hass. Dia adalah seorang anak Palestina. ‘israel’ membunuhnya hari ini dengan kejam.







