Jakarta – Hingga pertengahan September 2025, tiga orang peserta aksi unjuk rasa yang digelar pada 25–31 Agustus lalu masih dinyatakan hilang. Laporan terbaru dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyebutkan, mereka terakhir terlihat di wilayah Jakarta saat gelombang demonstrasi berlangsung.
Ketiganya adalah Bima Permana Putra, yang dinyatakan hilang sejak 31 Agustus dengan lokasi terakhir di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Lalu M. Farhan Hamid dan Reno Syahputeradewo, yang masing-masing terakhir terlihat di sekitar Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, pada 30–31 Agustus. Hingga kini, keberadaan mereka belum diketahui.
KontraS mencatat, selain tiga orang hilang, aksi menuntut keadilan di depan DPR dan beberapa titik di Jakarta juga menyisakan catatan kelam. Setidaknya 3.337 orang ditangkap, 1.042 mengalami luka-luka, dan 10 orang meninggal dunia. Jumlah ini menambah panjang daftar korban kekerasan aparat dalam penanganan aksi massa.
Keluarga korban menyampaikan keresahan atas minimnya informasi resmi dari pihak berwenang. Mereka berharap pemerintah dan aparat segera memberikan kejelasan mengenai kondisi serta keberadaan anggota keluarga mereka yang hilang.
“Setiap hari kami menunggu kabar, tapi hingga kini tidak ada kepastian. Kami hanya ingin tahu, di mana anak kami berada,” kata salah satu kerabat korban ketika dihubungi secara terpisah.
KontraS menegaskan, negara memiliki tanggung jawab penuh untuk melindungi warga negara, termasuk memastikan hak atas rasa aman dan bebas dari praktik penghilangan paksa. Lembaga ini mendesak agar segera dilakukan investigasi independen untuk menelusuri keberadaan tiga orang yang hilang serta mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Peristiwa ini kembali membuka luka lama tentang praktik pelanggaran HAM yang belum tuntas di Indonesia. Publik kini menunggu langkah serius pemerintah dalam menjawab pertanyaan: “Di mana kawan-kawan kita?”






