Selama 20 tahun pendudukan AS, lebih dari separuh wilayah Afghan yang dikuasai Taliban sama sekali tak mendapat layanan medis dan pendidikan, alasannya alasan keamanan, mereka dianggap sebagai pendukung Taliban pemberontak dll.
Tapi dunia diam. Yang penting ada sebagian orang di kota-kota Afghan, dimana mereka berada di wilayah kekuasaan presiden boneka Ashraf Ghani bisa sekolah dengan gaya pendidikan AS, maka itu dianggap kemajuan.
Mau jutaan lain ditelantarkan masa bodoh, “kan mereka Islamis”, menurut para sekuler.
Mau korup, hanya yang punya koneksi yang bisa disekolahkan tinggi sampai luar negeri, tidak masalah. Yang penting mereka bukan Islamis.
Hari ini pemerintah Islam Afghanistan (IEA) membuat sistem sendiri soal pendidikan wanita. 1-6 SD adalah wajib belajar standar. Kemudian di tingkat lebih atas harus masuk madrasah.
Madrasah mewajibkan menguasai ilmu Al-Qur’an, Fiqih dan Syariat Islam. Mereka juga dibebaskan mempelajari hal-hal yang dianggap penting untuk masa depannya. Selanjutnya para gadis yang dinilai sudah matang keislamannya, bisa masuk ke jenjang pendidikan kejuruan lebih tinggi seperti menjadi dokter, perawat, bidan, guru, serta pegawai pemerintahan.
Madrasah dipilih sebagai jalur pendidikan bagi wanita karena dianggap sesuai nilai-nilai Islam dan tidak akan ditentang oleh pihak yang lebih konservatif.
Tak seperti sekolah warisan AS yang hanya ada di kota atau dekat pusat pemerintahan, madrasah menjangkau lebih luas hingga ke pegunungan sehingga lebih egaliter.
Selain itu, sistem pendidikan AS tujuannya dinilai tidak jelas, wanita bersekolah jadi insinyur pertanian, aktris, pelukis tidak akan berguna dalam pemerintahan IEA.
Sekolah warisan AS tidak cocok dengan sistem mereka. Proses pendidikannya terlalu panjang dan butuh biaya lebih mahal. Rata-rata perempuan Afghan menikah di usia 15-16 tahun.
Mereka butuh pendidikan yang sesuai tradisi ini. Agar wanita bisa punya ijazah, bahkan tetap bisa menghadiri madrasah meski sudah menikah. Pemerintahan IEA sudah biasa merekrut gadis berusia 17 tahun bekerja di kantor pemerintah bahkan menjadi guru.
Lalu kenapa laki-laki bisa tetap memakai sistem pendidikan modern dan madrasah sekaligus? sebab menerapkan kurikulum Islam bagi laki-laki lebih mudah.
(Pega Aji Sitama)






