Tentang ‘Perubahan’ dr. Ferihana

✍️Dinda Bintu Shobihi

Dari kemarin saya melihat beberapa hal yang ramai diperbincangkan, baik soal foto maupun tulisan seorang umahat yang dulunya merupakan pegiat dakwah dan publik figur yang cukup memiliki pengaruh.

Saya sangat memahami mengapa banyak orang mulai khawatir dan merasa miris melihat hal ini. Ini bukan karena seseorang mengalami perubahan dalam hidupnya, tetapi ketika perubahan tersebut membuat batas antara prinsip agama dan pengalaman pribadi menjadi kabur.

Bukan hal baru tulisan semacam ini dimuat. Namun sangat disayangkan, pemikiran seperti ini justru lahir dari pribadi yang sebelumnya mengajak orang kepada tauhid dan Islam yang kaffah.

Hal ini memang miris, dan mengingatkan kita bahwa ternyata bukan tanpa sebab Allah melarang dan menetapkan batasan kepada kita dalam bergaul dan memilih teman duduk.

Pemikiran yang terlihat hari ini tentu tidak serta-merta bisa disebut sebagai buah dari perjalanan belajar agama selama 25 tahun. Jejak tulisan terdahulu dan beberapa tahun terakhir justru terlihat sangat berbeda, bahkan 180° bertentangan.

Dapat dilihat dari beberapa tahun ke belakang, aktivitasnya justru seringkali bersama pemeluk agama lain, yang kemudian disyiarkan oleh yang bersangkutan secara terang-terangan. Ini menjadi keresahan, sebab bukan hanya karena ia seorang Muslim, tetapi ia juga seorang influencer yang memiliki pengikut dan pengaruh.

Umat Islam tentu harus menghormati pemeluk agama lain, berlaku adil, dan berbuat baik kepada mereka dalam kehidupan sosial. Namun, menjadi berbeda ketika hubungan tersebut berkembang hingga menjadikan mereka sebagai salah satu parameter dalam memandang kebaikan, terlebih ketika menjadikan mereka sebagai teman dalam perjalanan spiritual. Menurut saya, di situlah batas yang perlu dipertanyakan.

Sangat disayangkan, dari beberapa postingan yang disampaikan, baik tentang meditasi maupun yang sekarang tentang budaya leluhur, semuanya seperti lahir dari pengalaman yang sedang ia jalani saat ini.

Maaf membahas sisi ini. Namun, beberapa tulisannya menggambarkan meditasi seolah sebagai miracle. Disebutkannya bahwa melalui perjalanan tersebut ia menemukan cara untuk menjernihkan pikiran, melepaskan kemelekatan, dan menjaga hati. Namun, hal tersebut justru terasa seperti dibantah oleh tulisannya sendiri.

Beberapa tulisannya justru menjadi refleksi bahwa luka itu mungkin belum benar-benar selesai, bahkan bisa jadi masih terlalu fokus pada orang-orang yang dianggap telah melukai.

Namun tentunya, pengalaman pribadi berupa rasa kecewa dan terluka oleh sebagian orang atau pengikutnya, tidak semestinya mengubah cara pandangnya terhadap agama yang selama ini ia ajarkan dan pahami.

Kita boleh mencari ruang yang membuat kita merasa diterima. Namun, jika tempat itu justru membuat kita kehilangan pijakan, dan di sana tauhid kita tidak lagi berdiri utuh, mungkin memang tempat itu bukan tempat kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita, dengan naungan taufik dan hidayahnya.

-FB-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 komentar

    1. woi goblog, klan kluk kluk klan supremasi kulit putih teroris kresetan pake jubah putih pake topeng sama kalung salib sangat lebih tidak wajar kok gk kau bahas, bong.

    2. Ngoahahaha…lu terbukti memang SAKIT JIWA ya Anonim TerWo‼️
      Gak salah kan aku ngasih kepanjangan atas sebutan Anonim alias AKAL NOL, OTAK MINIM⁉️ Ngoahahaha…BabRun…BabRun…😜😂😝🤣

  1. Perempuanan ini sempat bikin heboh di kalangan salafi. Karena dia dinikahi oleh Ust AM sampai si Ust, menelantarkan anak2 istri pertamanya. Memang dia perempuan problematik.