Tgl. 17 Agustus 2026 kami (saya, istri, dan putri kami) kembali ke Auckland, New Zealand setelah 1 bulan lamanya di Jakarta Indonesia. Tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 10.30, kami menggunakan China Southern Airlines. Begitu tiba kami langsung mengantri utk check in, ketika tiba giliran kami terjadi argumen antara istri saya dan petugas check in.
Petugas: “Bisa lihat passportnya bu?”
Istri: “Silahkan” sambil menyerahkan passport dan tiket kami.
Petugas: “Mau kemana bu?”
Istri: “Ke Auckland”
Petugas: “Mau ngapain ke New Zealand?” Sambil memperhatikan passport kami
Istri: “Kami tinggal disana”
Petugas: “Sudah berapa lama?”
Istri: “Dari tahun 2013”
Petugas: “Kok ga ada cap visanya di passport?”
Istri: “Sekarang New Zealand sudah menggunakan e-visa, ini ada copy e-visanya”. Istri saya menyerahkan copy visa PR kami.
Petugas: “Tapi seharusnya ada cap visanya di passport”
Istri: “Mba, sekarang sudah menggunakan e-visa, ini copy e-visanya dari imigrasi New Zealand. Juga website dan alamat emailnya. Mba bisa cek di websitenya.” Istri saya mulai hilang kesabaran.
Petugas: “Sebentar bu saya cek dengan manage saya dulu”
Manager: “Kok ga ada cap visanya bu?”
Istri: “Saya sudah jelaskan tadi, New Zealand menggunakan e-visa, saya sudah memberikan copy e-visanya anda bisa cek di website imigrasi New Zealand.” Suara istri saya mulai meninggi.
Manager: “Tapi kok aneh, seharusnya ada cap visanya”. Saya sudah mulai habis sabar.
Saya: “Mau berapa lama lagi? Kalau masih ragu ya di cek sekarang.” Saya sudah mulai marah.
Manager: “Oh sebentar pak”.
Sudah satu jam kami masih di kasir check in sementara mereka bolak – balik sambil telpon.
Istri: “Atau begini saja, saya kontak KBRI di Wellington, saya minta no anda berdua”
Manager: “Kalau begitu saya potret dulu copy e-visanya dan passportnya”
Istri: “Silahkan, kan Prabowo sudah pernah bilang, bagi yang ga suka tinggal di Indonesia silahkan pergi. Tenang Mba, kami sudah minggat sejak 2013”. Dengan suara yang semakin meninggi. Orang2 di sekeliling mulai memperhatikan kami.
Istri: “Kami bukan maling, jangan memperlakukan kami seperti rampok”
Petugas: “Maaf bu sebentar lagi”
Istri: “Sesudah ini saya minta nama anda berdua, saya akan konfirmasi ke KBRI”. Mereka berdua masih terus memfoto dokumen kami sambil menyembunyikan tanda nama di seragam mereka.
Akhirnya: “Silahkan bu.” Sambil menyerahkan passport dan tiket kami.
Saya: “Sedemikian primitifkah sistem anda sampai tidak bisa mentrack e-visa.” Mereka tidak menjawab.
Gara-gara tertahan selama 1 jam hanya untuk hal sepele, kami jadi tidak punya banyak waktu untuk pamitan dengan keluarga.
Heran, saya kira sudah banyak negara yang sudah menggunakan e-visa dan saya kira mungkin juga sudah ribuan customer mereka tangani, masa masih belum mengerti e-visa? Sebegitu tertinggalkah sistem di bandara Indonesia?
Sc threads @aryonodennis








Itu bukan systemnya, tapi memang petugasnya yg masih di bawah standard..
Ntah bagaimana kok mereka bisa bekerja di situ..
Kalo tidak primitif tidak mungkin Konoha punya 2 Presiden terburuk terakhir
bisa dipastikan, petugasnya adalah terwo, tau ndiri KKN nya wowo kuat bingits 🤩🤩🤩🤩
biasa ngurus kuda kali, makanya kagok
Lha negeri ini sdh dipimpin 2 pemimpin yg primitif otak dan kelakuannya. Itu semua didukung oleh gerombolan TerMul dan TerWo BabRun yang juga PRIMITIF‼️
😜😂😝🤣
Menurut saya ceritanya agak Absurd, sebenarnya kalo kita tinggal di LN semestinya punya Residen ID, tinggal tunjukkan saja ID nya,
Hal berikut nya semestinya harus membawa hardcopy visa atau residensi, ketika berhadapan dengan petugas imigrasi,
Hal selanjutnya kalo anak sudah sesuai syarat umur bisa lewat Auto gate, ini jauh lebih mudah
point kedua itu adalah bentuk kehati-hatian petugas Imigrasi menjaga WNI agar tidak menjadi orang yang terdampar di LN, jadi lebih teliti dan harus penuh kepastian.
Menurut saya bandara CGK sudah sangat bagus, saya memahami nya karena saya sudah merasakan sejak 2003, bagaimana proses ke atau dari LN jadi tahu perubahan nya,
bagaimana memperlakukan Warga Negara Sendiri,
semestinya kita yang harus mawas diri, atau bahasa lainnya Positif Thinking terhadap sesama anak bangsa.
maklum 10+6=17…sangat2 purba
viralin.. mudah2an instansi ybs segera follow up
Hasil pembodohan rakyat pinternya cuma joget konyol tik tok aja.